Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Bali

Lima Orang Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Keracunan Makanan
Rabu, 25 Agustus 2004 | 17:35 WIB

TEMPO Interaktif, Tabanan: Kepolisian Resort Tabanan telah memeriksa lima orang sebagai saksi dalam kasus keracunan 159 orang siswa Sekolah Dasar Negeri 3 Senganan Banjar Bugbugan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (25/8).

Kelima orang saksi itu antara lain I Gusti Ayu Sunaryti (Guru SDN 3 Senganan) yang menjual 75 bungkus nasi, I Gusti Ayu Armini (Guru SDN 3 Senganan) yang menjual es dan rujak di sekolah itu, Ni Ketut Muntari (pedagang nasi di sekolah itu), Robert Suharto (Pemilik Toko Bakat Sari) yang menjual susu bubuk dalam kemasan, Liem Tjie Lien penjual susu bubuk
dalam kemasan.

Menurut Wakil Kepala Polres Tabanan Komisaris Polisi Komang Suwirya, barang bukti yang sudah disita pihaknya antara lain berupa nasi bungkus beserta lauk-pauknya, 200 bungkus susu dalam kemasan yang dijual Rp 100 per buah. Dari hasil penyelidikan sementara pihaknya, terungkap susu dalam kemasan yang dijual di kantin Koperasi Guru SDN 3 Senganan dan TK Bugbugan dibeli sejak Senin (23/8) dari Toko Bakat Sari Tabanan. "Dan Toko Bakat Sari membeli susu tersebut dari Liem Tjie Lien yang dibelinya di Jembrana," ungkap Suwirya kepada wartawan, Rabu (25/8).

Dari hasil pemeriksaan lima saksi tersebut, pihaknya mengaku belum bisa menyimpulkan penyebab keracunan tersebut. "Mereka berlima masih berstatus saksi, belum tersangka. Namun mereka kami kenakan wajib lapor. Untuk penyebab, kami harus menunggu hasil penelitian dari Laboratorium BBPOM di Denpasar. Kemungkinan empat hari lagi baru diketahui hasilnya," sambungnya.

Sementara itu, susu bubuk yang dibungkus plastik panjang ukuran sekitar 30 centimeter yang disita polisi, terlihat tanpa merk dan tanpa nomor registrasi dari Departemen Kesehatan. Dalam kemasannya hanya tampak gambar sapi dan tulisan "bergizi".

Dari pantauan Tempo News Room SD Negeri 3 Senangan, tampak lengang. Menurut Kepala Sekolah setempat I Wayan Widiana, pihaknya memulangkan 20 orang siswa yang sempat masuk sekolah. "Kebijakan ini kami lakukan untuk mencegah trauma dan penularan ke siswa lain. Tetapi guru-guru di sini tidak kami suruh pulang untuk berjaga-jaga," katanya.

Untuk menjaga agar kasus tersbut tidak muncul lagi, pihaknya berjanji akan berkoordinasi dengan para orang tua murid serta masyarakat Banjar Bugbugan. "Jika memang penyebabnya karena lingkungan sekolah yang kurang bersih, maka kami akan melakukan kerja bakti untuk membersihkan sekolah," tambahnya.

Salah seorang siswa yang tidak keracunan Ryadi Sentana, 12 tahun, yang kebetulan masih belum pulang dari sekolah itu, mengaku kalau dia juga ikut mengkonsumsi nasi bungkus yang dijual di kantin seharga Rp 500. Namun, dia minum di warung lain di sebelah sekolah tersebut. "Saya tidak merasakan pusing atau mau muntah. Saya memang tidak makan susu bubuk itu," ungkapnya.

Kepala Sub Dinas Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan kabupaten Tabanan I Wayan Puder, yang mendatangi sekolah tersebut, menyarankan agar pihak sekola dan masyarakat setempat tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menyelesaikan persoalan dengan pendekatan adat. "Kalau saya lihat Pura Sekolah di sini banyak semak belukarnya, seperti tidak terawat. Saya sarankan agar dilakukan upacara adat," usulnya.

Pihaknya juga mengaku sudah mengirim sampel makanan dari sekolah tersebut ke Laboratorium Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Salah seorang tokoh masyarakat Banjar Bugbugan yang sempat ditemui, mengaku setuju dengan usulan Puder. Menurutnya, kalau memang harus dilakukan upacara adat, maka dirinya mengaku siap mengajak masyarakat di banjar itu untuk melakukan upacara pecaruan (pengurbanan) untuk membersihkan lingkungan secara niskala (gaib).

Sementara itu, hingga saat ini tinggal 14 orang siswa yang masih dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan. I Gusti Putu Adi Ananda Pratama (6 tahun) yang sempat dirawat di ICU rumah sakit tersebut, sudah berangsur-angsur pulih. Bahkan pada Rabu (25/8) pukul 13.30 Wita mereka sudah dipndahkan ke Bangsal Anggrek. "Dari hasil pemeriksaan kami, para siswa yang
masih dirawat ini, terkena gangguan kesadaran akibat kekurangan cairan elektrolit dalam tubuh," kata Humas RSUD Tabanan Sri DESS yang kepada wartawan.

Dia mengungkapkan seluruh kondisi pasien secara umum sudah berangsur-angsur pulih. "Jika kondisi mereka stabil, beberapa diantara mereka, bisa pulang hari ini," katanya.

Raden Rachmadi - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

BBPOM: Penyebab Keracunan adalah Bakteri
Polisi Kirim Sample Ikan Beracun ke Labfor Denpasar
Satu Keluarga Pengusaha Aceh Tewas
Lima Warga Maumere Tewas Keracunan
Masakan Katering Mugi Waluyo Diduga Mengandung Racun
Karyawan Epson Keracunan
Lagi, Dua Gurandil Tewas Kekurangan Oksigen
Tujuh Meninggal Setelah Tenggak Arak
39 Warga Keracunan Kebocoran Gas Pertamina
Keracunan, 150 Karyawan Garmen Dirawat di RS
> selengkapnya...


Website

Departemen Kesehatan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< August,2004>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data