Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Denpasar

Kapolda Bali Ajak Mahasiswa Dialog
Rabu, 05 Mei 2004 | 16:25 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar: Kepala Kepolisian Daerah Bali Irjen Polisi Made Mangku Pastika, Rabu (5/5), merespons protes mahasiswa terhadap perilaku polisi yang sedang jadi sorotan belakangan ini. Dia mengaku, dari dua kali aksi yang datang ke Mapolda Bali, dirinya sudah siap berdialog dengan mahasiswa.

"Meski mereka datang hanya dengan beberapa orang, masalahnya bukan di jumlah, tetapi aspirasi yang mesti kami dengarkan dari mereka," katanya ketika ditemui usai serah terima jabatan Direktur Reserse dan Kriminal Polda Bali kemarin.

Mantan Ketua Tim Investigasi Bom Bali ini mengaku bahwa sejak pertama kali demo mahasiswa ke Mapolda Bali pada Senin (3/5) lalu, dirinya sudah menunggu kedatangan mahasiswa untuk bisa berdialog. "Saya sudah tunggu di ruangan saya. Katanya mereka mau demo ke sini jam 11 siang. Ternyata mereka datang baru jam dua siang. Esok harinya juga saya ada ketika mereka berdemo. Saya juga sudah mempersilahkan mereka untuk ketemu saya. Tetapi katanya mereka tidak mau ketemu saya," beber Pastika.

Pastika menyesalkan sikap mahasiswa yang enggan berdialog dengan dirinya. Padahal, tambah dia, tuntutan dalam aksi-aksi tersebut adalah untuk berguna perbaikan kinerja polisi. "Saya juga harus sampaikan ke mereka bahwa Kapolri sudah bertindak tegas atas kasus Makasar. Saya juga, kalau tidak bertindak tegas, bisa dicopot sebagai Kapolda," tegasnya.

Namun mahasiswa punya alasan lain kenapa menolak berdialog. Menurut salah seorang aktifis Front Mahasiswa Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) Oktav, mengatakan, tawaran patika itu hanya basa basi saja. "Dalam aksi
kemarin, kami memang sudah dengar kalau dia (Pastika) mengajak kami untuk berdialog. Bagi kami, posisi polisi seperti itu memang sama saja di mana-mana. Dalam keadaan terdesak karena kesalahan mereka yang berperilaku
brutal, mereka ingin memposisikan seolah-olah ingin memperbaiki diri, tetapi sebenarnya hanya topeng untuk menyelamatkan jabatannya," kata dia.

Bagi Oktav, yang penting polisi harus menunjukan kepada rakyat bahwa mereka tidak akan memukuli mahasiswa dan rakyat. "Polisi kan digaji dari uang rakyat, salah satu unsurnya adalah mahasiswa. Kenapa dia mereka berlaku anarkis terhadap pihak yang memberi gaji pada mereka?" kata Oktav.

Raden Rachmadi - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Massa MMI Desak Kapolri Mundur
Komnas HAM Segera Bentuk Tim Investigasi Insiden UMI
Massa Berunjuk Rasa di Depan Mabes Polri
Mahasiswa Unjuk Rasa, Polisi "Menghilang"
Asap Hitam Kepung Kota Makassar
Demo Solidaritas Mahasiswa di Palembang
Mahasiswa Unhalu Gelar Aksi Sweeping
Kapolda Sulawesi Selatan Terima Pemberhentiannya
Cak Nur: Polisi Harus Lakukan Restrukturisasi
Solidaritas Kasus UMI Berlangsung di Solo
> selengkapnya...


Referensi

Sejarah Bentrokan Mahasiswa UMI vs Aparat Keamanan
Kronologi Penyerbuan ke Kampus UMI

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data