|
Bali
3.500 Orang Positif HIV di Bali
Selasa, 04 Mei 2004 | 16:29 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar:Pengidap HIV di Bali telah mencapai 3.500 orang, 452 di antaranya positif AIDS. Demikian data yang dilansir Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD) Bali, Selasa (4/5).
Menurut Koordinator Kelompok Kerja Perencanaan Pengelolaan dan Monitoring Evaluasi KPAD Bali, I Dewa Nyoman Wirawan, data yang mengejutkan ini diperoleh setelah beberapa bulan terakhir pihaknya gencar melakukan pendataan.
"Kasus HIV/AIDS pasti meningkat setiap tahun. HIV/AIDS ini kan penyakit yang dibawa mati. Sementara yang mati karena AIDS jauh lebih sedikit ketimbang yang terjangkit. Peningkatan ini juga tergantung dari gencar atau tidaknya kami mencari data dengan tes darah misalnya," bebernya.
Jumlah itu ternyata hanya sebagian kecil dari kasus ODHA di Indonesia yang mencapai 90 ribu sampai 130 ribu orang.
Menurut Koordinator Pokja Humas KPAD Bali I Nyoman Mangku Karmaya, salah satu tempat penyebaran penyakit ini di Bali adalah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Denpasar.
Dokter LP Kerobokan Anak Agung Gde Hartawan yang ditemui di tempat yang sama menambahkan, pihaknya sudah melakukan tes terhadap ratusan penghuni LP sejak 2001. Dari data yang berhasil dikumpulkannya, pada 2001 tercatat 34 orang positif HIV, 2002 meningkat menjadi 40 orang, dan terakhir pada 2003 menurun menjadi 32 orang.
Yang berhasil kami deteksi, kata Hartawan, sebanyak lima orang positif AIDS, empat orang telah meninggal. "Kini di LP Kerobokan masih tersisa satu orang yang mengidap AIDS," ujarnya. Menurutnya, umumnya para penghuni LP terjangkit virus ini karena sebelumnya terlibat kasus peredaran dan pemakaian narkoba.
Karmaya mengakui pihaknya dari tiga tahun lalu sudah melobi Pemerintah Provinsi Bali untuk bisa membantu penanggulangan HIV/AIDS ini. Salah satu caranya adalah dengan mengajukan sebuah Rancangan Strategis (Renstra) ke DPRD Bali.
"Pada tahun 2001 Renstra yang kami ajukan disetujui dan dana yang keluar dari APBD cukup banyak, yakni Rp 1 miliar. Namun tahun-tahun berikutnya justru turun. Terakhir kami mendapat dukungan dana Rp 400 juta," ungkap Karmaya.
Sementara itu, di tingkat kabupaten/kota juga sudah dilakukan lobi yang sama. "Kabupaten Buleleng, misalnya. KPAD setempat kini sedang merancang Renstra. Mudah-mudahan DPRD-nya menyetujui. Sementara KPAD di Kabupaten Badung, Tabanan, dan Kota Denpasar baru terbentuk," sambung Karmaya.
Dia mengatakan, dana yang berhasil diperoleh dari APBD tersebut akan disalurkan ke lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang selama ini membantu penanggulangan masalah HIV/AIDS. "Jadi KPAD bukan eksekutor dalam program ini. Kami hanya memantau dan menjadi fasilitator saja. Selama ini sudah ada sembilan LSM yang sudah kami ajak kerja sama," katanya.
Sementara itu di LP Kerobokan sendiri fasilitas untuk pengetesan dan konseling bagi para ODHA diakui sudah tersedia. Hartawan mengakui bahwa LP Kerobokan adalah satu-satunya LP yang memiliki fasilitas itu. "Kalau kami punya alat tes darah untuk mendeteksi HIV, lalu tidak punya tim konseling buat apa?" katanya.
Raden Rachmadi - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|