|
Bali
Karyawan BDB Demo Tuntut Pesangon
Jum'at, 30 April 2004 | 14:01 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar:Sekitar 300 karyawan Bank Dagang Bali (BDB) Jumat (30/4) mendatangi kantor Bank Indonesia (BI) Denpasar. Sedianya 674 karyawan itu yakin akan memperoleh pesangon lewat Bank Mandiri kemarin.
Namun Kamis malam (29/4), pihak BI Denpasar menyatakan bahwa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 Pasal 40 dan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 32/53/KEP/DIR/ tanggal 14 Mei 1999, menyatakan bahwa pembayaran pesangon harus dilakukan oleh Tim Likuidasi. Para demonstran menuntut agar BI tidak menghalang-halangi pembayaran pesangon karyawan.
Ratusan karyawan BDB itu mulai bergerak dari Lapangan Puputan Badung, sekitar 50 meter dari Kantor Pusat BDB. Uniknya, meski tuntutannya tentang pembayaran pesangon, beberapa pamflet yang dibawa justru menuntut agar pemerintah tidak menyita aset BDB secara sembarangan, misalnya dengan tulisan "Aset BDB Jangan Dimakan Sendiri", "'Ajeg Bali' Jangan Jual aset BDB
Kepada Bukan Orang Bali", "Aset BDB Hanya Untuk Orang Bali", "Dadang, Lukman Pergi Dari Bali", dan lain-lain.
Sebelum aksi, enam orang perwakilan karyawan yang dipimpin Anak Agung Sudipta Panji dan Oka Sutawa menemui Lukman dan Pengawas Bank Eksekutif BI Denpasar Dadang Sudarma. Mereka meminta klarifikasi BI tentang penundaan pembayaran pesangon. "Kesepakatan bipartid antara karyawan dan pengurus sementara BDB pada tanggal 27 April lalu, bahwa pesangon bisa dibayar hari ini."
Lukman mengatakan surat tentang persetujuan sementara pembayaran pesangon satu kali normatif baru diterimanya pada Kamis (27/4) pukul 18.07 WITA. "Kami baru bisa merespon masalah pesangon kalau ada surat resmi tentang persetujuan pesangon dari pihak yang berwenang, Dinas Tenaga Kerja. Jadi respon kami pun harus menunggu surat resmi itu," katanya.
Menurut Lukman, dalam surat yang diterima dari Disnaker, tidak dicantumkan tanggal persis pembayaran pesangon. "Anda semua kan sudah terima tembusan surat dari Disnaker. Di sana tidak disebutkan tentang kapan pembayaran pesangon. Jadi surat inipun sebenarnya masih bermasalah. Selain tidak ada tanggal pembayaran, juga penyetujuan Disnaker atas pesangon ini hanya bersifat sementara," katanya sambil menunjukkan surat yang dimaksud.
"Tetapi kami sudah diberi tahu oleh pengurus sementara BDB, Pak (Ketut) Santiawan dan Pak (Putu Gde) Suarta, mengatakan kalau hari ini (kemarin) pesangon bisa dicairkan lewat Bank Mandiri. Makanya kami kemarin membuka rekening di sana," sanggah Oka Sutawa.
Dialog antara perwakilan karyawan di lantai tiga gedung BI Denpasar berlangsung cukup alot. Namun karena ratusan karyawan sudah tidak sabar menunggu hasil pertemuan itu, akhirnya 30 menit kemudian mereka sepakat untuk menyampaikan masalah itu langsung ke karyawan.
Dengan penjagaan satu peleton pasukan Dalmas dari Poltabes Denpasar, dengan pengeras suara, Lukman menyampaikan permohonan maaf kepada karyawan atas tertundanya pembayaran, yang langsung disambut teriakan oleh ratusan karyawan. Dia menambahkan bahwa pihaknya harus mematuhi aturan hukum yang berlaku.
Namun dirinya mengaku akan berusaha memperjuangkan agar pesangon bisa dibayar tanpa harus menunggu tim likuidasi terbentuk. "Selasa (4/5), saya akan ke Jakarta memperjuangkan ini. Mudah-mudahan bisa berhasil," harapnya. Lukman hanya memberikan klarifikasi selama 10 menit tanpa dialog. Massa akhirnya membubarkan diri secara tertib.
Usai menemui peserta aksi, Lukman menggelar jumpa pers. Di hadapan wartawan dirinya mengaku bahwa kemungkinan Gubernur BI, Burhanudin Abdullah, sudah merespon masalah ini. "Barusan saya ditelepon oleh Gubernur BI. Informasinya, Gubernur BI tidak punya wewenang untuk merubah SK Direktur BI Nomor 32/53/KEP/DIR/ tanggal 14 Mei 1999. Yang punya kewenangan katanya Dewan Gubernur BI. Namun mereka akan mebicarakan masalah pesangon ini dalam rapat Dewan Gubernur yang biasanya dilakukan setiap Selasan dan Kamis. Meski begitu kami harus meyakinkan Dewan Gubernur. Dan saya akan lakukan itu agar karyawan bisa secepatnya mendapat pesangon," bebernya.
Namun Lukman mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah berjanji kalau hari Selasa akan bisa mencairkan pesangon. "Saya hanya katakan bahwa Selasa ke Jakarta untuk memperjuangkan masalah ini. Namun bukan berarti hari itu akan cair pesangonnya," tegasnya.
Raden Rachmadi - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|