|
Bali
Nyepi Tanpa Ogoh-Ogoh
20 Maret 2004
TEMPO Interaktif, Singaraja: Hari Raya Nyepi tahun ini sedikit berbeda dengan perayaan-perayaan sebelumnya. Nyepi yang jatuh pada Minggu 21 Maret 2004, tanpa ogoh-ogoh di seluruh Bali. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah setempat, dengan pertimbangan pawai ogoh-ogoh sering menimbulkan ketegangan antarbanjar di Bali. Apalagi kebetulan Nyepi tahun ini bertepatan dengan kegiatan kampanye pemilu, maka kemungkinan bentrok bisa makin besar.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 003.2/12.936/UM-DISHUB, 17 Desember 2003 tentang pedoman pelaksanan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1926. Kebijakan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh para bupati se-Bali.
Ogoh-ogoh adalah patung kertas hasil kreasi generasi muda Hindu di tiap banjar (setingkat RW di Jawa). Ogoh-ogoh itu lambang buthakala atau setan. Karena itu wujud ogoh-ogoh biasanya dibuat menyerupai makhluk jahat seperti raksasa, tengkorak, babi besar, dan lain-lain. Tapi umat Hindu di Bali paling sering membuat ogoh-ogoh dalam bentuk raksasa.
Pawai ogoh-ogoh biasanya dilaksanakan pada senja hari, sehari sebelum pelaksaan Nyepi. Karena tahun ini pawai ogoh-ogoh dilarang, maka Sabtu (20/3) sore ini suasana Nyepi amat lengang. "Kami dapat menerima kebijakan ini karena sesungguhnya pawai ogoh-ogoh bukan merupakan bagian dari ritual Hindu. Ia hanya merupakan kreasi pelengkap untuk memeriahkan saja. Jadi kalau tidak disertai ogoh-ogoh, tidak akan mengurangi makna perayaan Nyepi," kata Ketua Adat Tingkat Kabupaten
Buleleng Made Rimbawa B.A, saat dihubungi di sela-sela upacara Butha Yadnya di persimpangan utama Kota Singaraja, Sabtu (20/3).
Kebijakan yang ditempuh ini memang menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Ada yang mendukung, tapi tidak sedikit juga yang menyayangkan. "Sayang sekali tidak ada pawai ogoh-ogoh. Padahal saya menikmati sekali pawai ogoh-ogoh itu," ujar Srie Kusuma Wardhani, warga Singaraja, Bali.
Pawai ogoh-ogoh memang selalu menyedot perhatian masyarakat, lebih-lebih bagi wisatawan mancanegara yang kebetulan berada di Bali. Dalam pawai ogoh-ogoh, setiap banjar yang mengeluarkan ogoh-ogoh biasanya menyertakan gamelan bleganjur (gamelan dengan alat perkusi semata). Ogoh-ogoh diusung sekitar 20-an pemuda dan diiringi irama dinamis dari gamelan
bleganjur.
Sementara itu, salah seorang pengurus Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ida Pandita Sri Dwija Nawa Sandhi dalam kotbahnya menjelaskan, Nyepi pada kakekatnya adalah upacara keharmonian. Agar dinamika sosial dan alam berada pada posiisi yang sama. Sehingga antara energi makrokosmos (alam semesta) dengan energi mikrokosmos (individu) senantiasa
sesuai satu sama lain. Dengan demikian keharmonisan dan kedamaian (santhi) bisa terwujud.
Nyepi juga merupakan momentum untuk evaluasi dan refleksi diri. Mulai Minggu (21/3), umat Hindu tidak boleh keluar, tidak boleh menyalakan lampu/api, tidak boleh bersenang-senang, dan tidak boleh bepergian ke manapun. "Jadikan kesempatan Nyepi untuk melakukan evaluasi diri sehingga kualitas diri kita semakin baik setiap kali kita merayakan Nyepi," kata Ida Pandita. Ketentuan itu berlaku selama 24 jam penuh, mulai Minggu pukul 06.00 hingga Senin pukul 06.00 Wita. Praktis selama 24 jam itu, segala aktivitas akan terhenti. Termasuk lalu lintas udara, darat, dan laut. Bandara Ngurah Rai Denpasar serta Pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai akan tutup sejak Minggu pagi hingga keesokan harinya.
Made Mustika - Tempo News Room
|