Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Bali

Pemakaman Dua Kader Golkar Buleleng Dijaga Ketat
31 Oktober 2003

TEMPO Interaktif, Singaraja: Polisi, tentara, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Pertahanan Sipil mengawal ketat pemakaman dua jenazah kakak-beradik kader Partai Golkar di Buleleng, Jumat (31/10). Pengamanan itu bahkan diawasi langsung oleh Kepala Polisi Resort Buleleng Ajun Komisaris Besar Polisi M. Safei dan Komandan Komando Daerah Militer 1609 Buleleng Letnan Kololonel Tentara Nasional Indonesia Arifin.

Pemakaman dilakukan di Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, desa kelahiran korban. Hadir dalam kesempatan itu Bupati Buleleng Putu Bagiada dan Wakil Bupati Gde Wardana. Selain itu hadir pula Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Buleleng Gde Indra beserta jajaran pengurus.

Bupati Buleleng, ketika memberikan sambutan antara lain mengajak warga, terutama pihak keluarga korban, agar tidak menyimpan dendam atas musibah tersebut. "Terimalah ini sebagai suatu musibah, dan mari kita doakan kepada kedua almarhum agar mendapat tempat di sisi Tuhan," katanya.

Bupati juga berharap agar keluarga korban yang untuk sementara ini masih mengungsi di Singaraja segera dapat kembali ke desa asal mereka. Diharapkan masyarakat tidak larut dengan musibah yang telah terjadi. Agar Buleleng kembali kondusif. "Saya heran di luar Buleleng orang mengira kita di sini gawat sekali. Padahal kenyataannya tidak demikian," tandasnya.

Setelah memberikan sambutan singkat, Bupati dan rombongan meninggalkan tempat pemakaman. Ketika pers mencoba meminta komentarnya, ia mengelak dan segera menghampiri mobilnya dengan mendapat pengawalan dari tentara dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Upacara pemakaman itu dimulai sekitar pukul 10.00 WITA. Suasana Desa Tampekan masih mencekam. Yang melayat tidak banyak. Para pelayat sebagian besar adalah keluarga korban. "Tapi ada juga warga lain yang hadir walau tidak banyak," kata Kepala Desa Tampekan Made Atep.

Ketika memasuki Desa Petandakan, sejumlah tentara tampak berjaga-jaga di rumah penduduk yang terletak di pinggir jalan. Warga desa tampak enggan keluar. Beberapa rumah tampak seperti kosong, pintu-pintu dan jendelanya ditutup rapat-rapat.

Pihak pengendalian massa Kepolisian Resort Buleleng mengapit lokasi kuburan dari sisi utara dan selatan. Penguburan kedua jenasah itu terbilang menyimpang. Kebiasaan yang berlaku di desa sana adalah setiap orang meninggal langsung dilakukan upacara pembakaran mayat. Tapi yang dilakukan terhadap jenasah Putu Negara dan Ketut Agustana adalah 'menitipkan di tanah'. Artinya dikubur biasa.

Menurut keluarga korban, upacara ngaben baru akan dilaksanakan setelah pemilihan umum 2004. Keputusan pemakaman pada hari Jumat adalah atas desakan Bupati Buleleng Putu Bagiada ketika berkunjung ke tempat penampungan, Kamis (30/10) lalu. Sedangkan pihak keluarga awalnya menunggu sampai seluruh keluarga berkumpul. Sebab salah satu adik korban yang bekerja di kapal penangkapan ikan, masih berada di tengah laut dan belum diketahui kapan akan merapat di Pelabuhan Benoa, Denpasar. "Tapi akhirnya kami terima saja tawaran Bapak Bupati. Keluarga besar sebetulnya berat untuk menerima keputusan pemakaman ini," kata Ketut Dapet, paman korban.

Di atas kuburan kedua kader Partai Golkar itu tidak dibuatkan nisan sama sekali. Namun sejumlah karangan bunga berjejer di atasnya. Nama pemberi karangan bunga antara lain Jendral Purnawirawan Wiranto dan Probowo Subyanto ikut menyatakan bela sungkawa.

Selesai pemakaman, keluarga korban tidak kembali ke rumahnya. Mereka menuju Panti Asuhan Udyana Wiguna Singaraja, tempat pengungsian sementara mereka.

Made Mustika - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita bali Lainnya

Keluarga Tarsa Diasingkan, Simpati Pun Berdatangan
(Rabu, 21/04/2004 | 18:06 WIB)
Gempa 4,5 Skala Richter Guncang Bali
(Sabtu, 17/04/2004 | 13:44 WIB)
Polisi Awasi Pengelola BDB
(Jum'at, 16/04/2004 | 20:19 WIB)
Target Perhitungan Suara Daerah Molor
(Sabtu, 10/04/2004 | 18:00 WIB)
Pasokan Data Hasil Pemilu di Bali Mungkin Macet
(Kamis, 08/04/2004 | 19:39 WIB)
Amrozi: Baasyir sebagai Tersangka, Cuma Rekayasa
(Senin, 05/04/2004 | 18:26 WIB)
Polisi Bali Tahan Pengusaha Arak
(Jum'at, 26/03/2004 | 15:43 WIB)
Sukmawati Kembali Kampanye di Bali
(Rabu, 24/03/2004 | 22:39 WIB)
Nyepi Tanpa Ogoh-Ogoh
(Sabtu, 20/03/2004 | 15:06 WIB)
Ngurah Rai Tutup 25 Jam Menghadapi Nyepi
(Jum'at, 19/03/2004 | 18:20 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data