Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Bali

Polisi Bali Periksa Lagi 26 Orang
27 Oktober 2003

TEMPO Interaktif, Singaraja: Kepolisian Resor Buleleng (Bali) sampai Senin (27/10) siang telah berhasil menjemput 26 orang terkait bentrokan massa antara PDIP dengan Partai Golkar pada hari Minggu lalu.

Ke-26 orang itu semuanya berasal dari Desa Petandakan, tempat terjadinya pembunuhan terhadap dua kader Partai Golkar desa setempat. Pada saat peristiwa meletus, Minggu lalu, polisi baru berhasil menahan 6 orang guna dimintai keterangan di Mapolres Buleleng. Senin (kemarin) polisi berhasil memeriksa lagi 20 orang.

"Keluarga korban sudah pula kami mintakan keterangannya. Dari keluarga korban ada tujuh orang yang sudah memberikan keterangan kepada polisi," jelas KBO Satreskrim Polres Buleleng Iptu Burhanudin di Mapolres Buleleng, Senin (27/10).

Kapolres Buleleng AKBP M. Safei menegaskan polisi untuk sementara lebih memprioritaskan masalah pembunuhan di Desa Petandakan. Sedangkan kasus saling lempar antara massa PDIP dengan massa Partai Golkar di depan Kantor Partai Golkar Buleleng akan tetap ditindaklanjuti setelah kasus Petandakan selesai disidik.

"Kasus bentrok di Markas Partai Golkar itu bukannya kami biarkan, tapi sementara ini polisi akan memprioritaskan masalah Petandakan terlebih dahulu," ujar Kapolres.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada hari Minggu (26/10) siang meletus perang batu antara massa PDIP dengan massa Partai Golkar Buleleng. Saat itu DPC PDIP Buleleng menggelar acara gerak jalan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda.

Namun sebelum acara tersebut selesai, tiba-tiba terjadi pelemparan batu secara terbuka antara massa PDIP dengan massa Partai Golkar. Karena jumlah simpatisan Partai Golkar yang menjaga markas mereka jauh lebih sedikit dibanding dengan massa PDIP, maka kantor Partai Golkar Buleleng berhasil dihancurkan. Atap serta kaca-kaca jendela kantor parpol itu hancur dihujani batu. Bahkan sebuah sedan dan sepeda motor hangus dibakar massa yang tengah beringas.

Sejumlah kendaraan lain selamat dari amukan api namun kondisi sudah tidak utuh. Saat itu ada sekitar 10 kendaraan roda empat yang parkir di dalam areal Partai Golkar.

Selain di markas Partai Golkar, perusakan juga meluas ke pinggiran kota Singaraja. Di Desa Kalibukbuk, sekitar 6 kilometer dari Singaraja, rumah seorang kader Partai Golkar juga dilempari batu sehingga bagian kaca dan gentengnya hancur. Posko Partai Golkar di depan rumah itu juga dirobohkan. Sebuah bus umum milik kader Partai Golkar di Kalibukbuk itu juga dibakar massa yang baru pulang dari mengikuti acara gerak jalan.

Peristiwa paling memilukan terjadi di Desa Petandakan, sekitar 8 kilometer di luar kota
Singaraja. Kakak beradik kader Partai Golkar di desa itu dibantai sekelompok massa beringas yang baru usai mengikuti acara gerak jalan. Kakak beradik yang bernasib naas itu adalah Putu Negara dan Ketut Agustana.

Sejak peristiwa itu meletus, keluarga korban diungsikan ke Mapolres Buleleng karena alasan
keamanan. Terhitung sekitar 50 orang yang mengungsi di Mapolres Buleleng. Mereka terdiri dari anak-anak kecil hingga nenek-nenek dan kakek-kakek.

Ketut Artini, istri korban Putu Negara, tampak sembab matanya sambil memeluk anaknya yang bungsu. Selain kelelahan, ia nampak sangat trauma. Anaknya yang bungsu, Ketut Kakarsana, tampak pula menangis dalam dekapan ibunya. "Bapak bu, bapak bu ..," demikian Ketut Kakarsana menyebut bapaknya berulang-ulang.

Kapolres kemarin juga memanggil para pimpinan kedua parpol tersebut di ruang rapat Mapolres. Dalam pertemuan itu Kapolres meminta agar kedua belah pihak, PDIP dan Partai Golkar mendukung upaya kepolisian mengungkap kasus tersebut sesuai ketentuan dan perundangan yang berlaku.

Hasilnya, kedua belah parpol itu menyatakan komitmennya terhadap upaya yang ditempuh polisi.
Pertemuan yang bersifat tertutup itu dihadiri antara lain oleh Ketua DPC PDIP Buleleng Mangku Muliartha serta Ketua DPD PG Buleleng Gede Indra. Masing-masing partai juga diperkenankan mengajak tokoh senior partainya, namun dibatasi sebanyak 3 orang.

Kebetulan anggota DPR RI Ketut Bagiada yang berasal dari Buleleng tengah berada di kampung halamannya sehingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh DPC PDIP Buleleng untuk menyertakan Bagiada dalam pertemuan di Mapolres tersebut.

Usai pertemuan, Ketut Bagiada sempat menemui sejumlah calon tersangka. Selain membelikan air kemasan, anggota DPR itu juga sempat berbicara kepada mereka. Bagiada mengaku menyesal dan prihatin terhadap kasus tersebut.

"Ini sangat memilukan dan memalukan. Seharusnya tidak boleh terjadi. Kenapa sampai terjadi pembunuhan sesama saudara," tutur Bagiada di hadapan masyarakat Petandakan yang tengah menjalani pemeriksaan di Mapolres Buleleng.

Di hadapan mereka, anggota DPR dari Fraksi PDIP itu berjani akan memberikan tenaga pengacara untuk mendampingi mereka. "Kalau kami mengupayakan tenaga hukum bukan berarti membela yang salah. Tapi ini merupakan hak kita sebagai warga negara. Agar saudara-saudara selama pemeriksaan tidak diperlakukan semena-mena oleh polisi," ujar Bagiada kepada para
calon tersangka tersebut.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Bagiada sejak peristiwa itu meletus hingga kemarin siang masih belum tahu secara langsung kasus yang menghebohkan tersebut karena Bupati sedang di Jakarta sehubungan tim kesenian daerah Buleleng sedang mementaskan pertunjukan tradisional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Bapak belum kembali dari Jakart," ujar seorang petugas Satpol PP di Kantor Bupati Buleleng,
Senin kemarin.

Secara umum keamanan di Singaraja dalam keadaan kondusif. Namun keramaian jauh berkurang dari
hari-hari biasanya. Hal ini menyebabkan para sopir angkot mengeluh karena penumpang sangat sepi. "Sepi sekali, pak. Masyarakat pada takut keluar," kata seorang sopir saat ditemui di Terminal Banyuasri.

Kondisi di Desa Petandakan bahkan terasa bagai sedang Nyepi. Masyarakat lebih memilih bersumbunyi di balik pintu rumah. Tidak banyak orang yang lalu-lalang. Justru aparat kepolisian yang lebih dominan. Ketika 20 orang warga setempat diangkut truk polisi, sejumlah
anak-anak hanya berani memperlihatkan wajahnya dari balik tembok pagar. Warga Desa Petandakan masih takut ke luar rumah. Kini desa itu masih mencekam.

Made Mustika - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Empat Pemuda Diserang Saat Tadarusan
Golkar Khawatir Insiden Bali Merembet ke Jatim
Polisi Bali Periksa Lagi 26 Orang
Warga Bojong Bentrok Dengan Preman
Mahasiswa Makassar Sweeping Polisi

 
Berita bali Lainnya

Keluarga Tarsa Diasingkan, Simpati Pun Berdatangan
(Rabu, 21/04/2004 | 18:06 WIB)
Gempa 4,5 Skala Richter Guncang Bali
(Sabtu, 17/04/2004 | 13:44 WIB)
Polisi Awasi Pengelola BDB
(Jum'at, 16/04/2004 | 20:19 WIB)
Target Perhitungan Suara Daerah Molor
(Sabtu, 10/04/2004 | 18:00 WIB)
Pasokan Data Hasil Pemilu di Bali Mungkin Macet
(Kamis, 08/04/2004 | 19:39 WIB)
Amrozi: Baasyir sebagai Tersangka, Cuma Rekayasa
(Senin, 05/04/2004 | 18:26 WIB)
Polisi Bali Tahan Pengusaha Arak
(Jum'at, 26/03/2004 | 15:43 WIB)
Sukmawati Kembali Kampanye di Bali
(Rabu, 24/03/2004 | 22:39 WIB)
Nyepi Tanpa Ogoh-Ogoh
(Sabtu, 20/03/2004 | 15:06 WIB)
Ngurah Rai Tutup 25 Jam Menghadapi Nyepi
(Jum'at, 19/03/2004 | 18:20 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data