|
Muslim Inggris Merasa Dipojokkan Pasca Teror 7/7
Sabtu, 23 Juli 2005 | 01:48 WIB
TEMPO Interaktif, Nusa Dua: Opini pulik yang beredar dalam masyarakat Inggris cenderung menyudutkan warga muslim, setelah serangkaian bom meledak di London, 7 Juli lalu. Apalagi, menurut Iqbal Sakhrani, pemimpin British Moslem Council, sebelumnya sudah ada sentimen pascaserangan ke World Trade Center, New York, 9 September 2001.
"Kami berharap hal itu adalah tindakan kriminal belaka. Tetapi ternyata opini publik telanjur telah terbentuk bahwa (teror) dilakukan atas nama agama," kata Iqbal, Jumat (22/7) di sela-sela Asia-Europe Meeting Interfaith di Nusa Dua, Bali.
Dia menyatakan, selama bertahun-tahun telah berupaya untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama perdamaian. Antara lain, dengan memotivasi warga muslim di Inggris untuk menjadi warga yang baik serta membentuk komunitas yang baik pula.
Namun, teror telah mengganggu upaya-upaya yang mereka lakukan. Iqbal mengaku dalam menjalankan aktivitasnya, British Moslem Council selalu bertindak hati-hati sebab selalu mendapat perhatian dari berbagai pihak. "Kami memilih bahasa yang lembut untuk berkomunikasi dengan publik," katanya.
Selain itu, mereka pun berusaha memberikan sumbangan yang terbaik pada komunitas yang lebih besar dan tetap menjalin interaksi sosial yang aktif. Toleransi, kata dia, jauh lebih baik kualitasnya di kalangan bawah. Pada anak-anak, misalnya, tidak pernah ditemukan konflik yang berhubungan dengan agama.
Setelah peristiwa pemboman, gerakan mereka menjadi lebih fokus pada upaya membangun toleransi dengan warga nonmuslim. Antara lain dengan menjelaskan bahwa
peristiwa itu juga banyak menelan warga muslim. Rilla Nugraheni/Rofiqi Hasan
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|