Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Komisi XI Bentuk Panja Pendidikan
Rabu, 06 Juli 2005 | 05:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi X DPR berencana membentuk panitia kerja penyelenggaraan, pendanaan, dan peningkatan mutu pendidikan. Menurut Wakil Ketua Komisi X dari Partai Golkar, Anwar Arifin, panja ini terbentuk atas permintaan Kepala Bappenas.
"Kepala Bappenas Sri Mulyani meminta agar DPR membentuk panja peningkatan mutu dan pendanaan ketika rapat dengan kami,"ujarnya.

Selain itu, pembentukan panja ini bertujuan untuk memperjelas pembagian anggaran antara pusat dan daerah.
"Sebenarnya panja ini bertujuan agar daerah dapat mengatur anggarannya sendiri bukan di drop lagi dari pusat,"ujarnya. Selama ini pemerintah pusat menguasai semua anggaran yang ada. Seperti Dirjen Pendidikan Tinggi mengelola dana Rp. 1,2 triliun dan untuk Dirjen Pendidikan Dasar Menengah sekitar RP. 2,5 triliun.

Sedangkan Masduki Baidowi anggota komisi X dari PKB menyatakan panja ini bertujuan agar pendidikan mendapat perhatian yang serius. "Yang utama menginginkan agar semangat pendidikan menjadi leading sektoral pembangunan menengah,"ujarnya.

Pembentukan panja ini juga untuk memperbaharui komitmen pemerintah memenuhi konstitusi tentang pendidikan. "Ini untuk mempertegas dan memperbaharui komitmen yang ada agar anggaran untuk pendidikan dalam APBN sebesar 20 persen,"kata Masduki.

Dengan adanya panja ini, Anwar berharap otonomi daerah dapat dilaksanakan secara penuh. "Selama ini daerah semacam diberi belas kasihan pusat, artinya ada ketergantungan dengan pemerintah pusat,"ujarnya.

Selain itu, dengan sistem ini kadang pemerintah pusat memberikan bantuan tidak sesuai kebutuhan daerah. "Pemerintah memberikan dalam bentuk block grant, kadang daerah membutuhkan untuk rekontruksi bagunan, namun yang diberikan untuk buku,"ujar Anwar.

Ia berharap daerah diberikan anggaran lebih besar lagi untuk operasional pendidikan. "Kalau bisa 70 persen anggaran diberikan ke daerah, pusat hanya dalam manajemen pendidikan saja sekitar 30 persen,"kata Anwar.

Intinya untuk mewujudkan komitmen yang ada selama ini dalam bentuk kebijakan, manajemen, dan keuangan. Baidowi menilai lemahnya pendidikan Indonesia karena penerapan strategi pembangunan yang salah. "Kegagalan kita karena pembangunan Indonesia menitikberatkan sektor ekonomi, sedang Malaysia menitikberatkan pada pembangunan SDM," ujarnya. Selain itu juga karena besarnya kasus korupsi dan kebijakan pendidikan yang tidak konsisten.

Yudha Setiawan

Dari Arsip Majalah TEMPO
Si Jenius yang Religius | 11 April 2005
Album | 28 Pebruari 2005
Berpacu Melawan Keterbatasan | 31 Januari 2005
Yang Bangkit di Bawah Tenda | 31 Januari 2005
Surat Pembaca | 24 Januari 2005
Berprestasi atau Tidak, Tergantung Ibu  | 29 Desember 1998
Nasib Mahasiswa  | 29 Desember 1998
Guru Autisme  | 22 Desember 1998
Dilatih Berani Bertanggung Jawab  | 22 Desember 1998
Carilah Pemimpin Sampai ke Amerika  | 22 Desember 1998
>>selengkapnya ::

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Suasana sekolah Pelita Harapan di Karawaci, Tangerang , 11 Mei 2001 [ Koran TEMPO/ Bodi CH; K2A/70/2001; 20010629 ]. Suasana melihat hasil Sipenmaru/ UMPTN di Senayan, Jakarta [TEMPO/ Rini PWI; 3d/486/91; 2001/05/23].
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Sistem Penerimaan Siswa SMA di DKI Bikin Bingung
Unisma Gandeng Iowa Tingkatkan Mutu Pendidikan
60 Persen Pengidap HIV/AIDS di Sumut Tertular Melalui Narkoba
BOS Bayari Sekolah Siswa di NTB
50 Persen Siswa Menengah Aceh UtaraTak Lulus
30 Persen Lulusan SD di Purwakarta Tak Melanjutkan ke SMP
LSM: Draf Kurikulum Sejarah Mengandung Konspirasi
Pemerintah Tetap Pakai Kurikulum Sejarah 1994
PKI Sudah Tak Ada Dalam Buku Kurikulum Sekolah
Janji Surga Presiden Yudhoyono
> selengkapnya...


Referensi

Jalan Panjang Ujian Negara
Sebuah Hajat dengan Seribu Kebijakan

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< July,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data