|
Dua perempuan Asal Sulawesi Utara Masuk Nominasi Nobel
Minggu, 03 Juli 2005 | 03:52 WIB
TEMPO Interaktif, Manado:Sebanyak 23 orang perempuan dari Indonesia masuk dalam daftar 1.999 yang dinominasikan untuk Nobel Perdamaian Perempuan (1000 Peace Women for Nobel Prize). Dua di antaranya berasal dari Sulawesi Utara, yakni Mona Saroinsong, 43 tahun, dan Lily Djenaan, 39 tahun.
Lily Djenaan, Direktur Swara Parangpuan, mengaku terkejut dirinya dimasukkan sebagai salah seorang nominator 1000 Peace Women for Nobel Prize. "Kami sebenarnya hanya mengusulkan Mona Saroinsong. Apalagi namanya sempat ditanyakan oleh panitia dari Swiss,"kata Lily yang dihubungi Olin, panitia di Jakarta untuk penghargaan ini.
Tapi, bukan itu karena namanya yang masuk nominator itu yang penting bagi Lily. Melainkan, gagasan dari Gaby Ruth Vermont, seorang perempuan anggota parlemen di Swiss. "Ide ini, tentunya, adalah untuk mengkampanyekan kepada masyarakat dunia tentang apa yang telah dilakukan oleh kalangan perempuan,"katanya.
Jawaban senada disampaikan Mona, Koordinator Crisis Center Sinode Am Gereja Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (SAG Suluttenggo). Menurutnya, upaya menegakkan keadilan dan mengembalikan hak-hak mereka yang tertindas adalah wajib hukumnya.
Mona sendiri sempat bertemu dengan Gaby Ruth saat kunjungannya ke Swiss pada Februari lalu. Tak heran, karena bersua dengan Gaby dan anaknya yang jadi ketua panitia 1000 Peace Women for Nobel Prize itu, nama Mona pun termasuk yang direkomendasikan untuk diseleksi.
Mona selama ini, berkutat dalam upaya perdamaian dan pemulihan konflik di Poso lewat organisasi gereja tempat dia beraktivitas.
Sementara Lily melakukan advokasi terhadap perempuan-perempuan korban kekerasan. Di samping, melakukan kegiatan penguatan ekonomi kalangan perempuan, terutama di daerah pesisir. Hal lain yang ditangani NGO yang dipimpinya adalah penyelesaian konflik tanah antara masyarakat dengan pemerintah di Desa Lalow, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow. "Membangun relasi yang lebih adil, baik dalam rumah tangga, masyarakat, antara masyarakat dan pemerintah, terus kami lakukan. Menciptakan perdamaian berarti juga membangun keadilan," kata Lily.
Ahmad Alheid
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|