Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Musim Culik Nongol Lagi
Jum'at, 01 Juli 2005 | 05:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Musim culik kembali lagi. Kali ini korbanya sejumlah aktifis muslim yang tinggal di Kota Solo dan Kabupaten sekitarnya dilaporkan diambil paksa oleh orang tak dikenal. Lima orang diantaranya sudah teridentifikasi oleh FPP (Front Perlawanan Penculikan) Surakarta.

Sejumlah aktivis FPP, mendatangi Mapolwil Surakarta untuk melaporkan adanya penculikan tersebut. Selain melaporkan kasus itu, FPP juga ingin meminta kejelasan apakah pelaku pengambilan paksa itu adalah aparat dari kepolisian di Surakarta? Ada dugaan mereka ditangkap oleh tim anti teror Mabes Polri yang tengah memburu tersangka peledakan di Indonesia.

Menurut Koordinator FPP, Kholid Syaefullah, pengambilan paksa sejumlah aktivis muslim tersebut dilakukan Rabu (29/6) sore. "Kami sudah mendapat laporan dari jaringan kami bahwa ada penculikan terhadap aktifis muslim di Solo, Kabupaten Sragen serta Kabupaten Wonogiri,"katanya.

Dari laporan sejumlah saksi mata yang melapor kepada FPP, para pelaku penculikan tersebut mengaku sebagai aparat. "Karena itulah kami ingin kejelasan apakah pelakunya dari Polwil Surakarta atau dari Mabes Polri. Kalau dari aparat seharusnya menggunakan cara yang baik dan keluarganya diberitahu sehingga tidak menimbulkan kecemasan,"kata Kholid.

Adapun sejumlah nama yang sudah diidentifikasi diambil paksa adalah M Iqbal, Joko Sumanto, Dani Chandra, Arif, Joko Tri alias Har dan seorang lagi warga Kabupaten Sragen.

Juru bicara MMI Solo, Adi Basuki juga membenarkan adanya pengambilan paksa aktivis muslim tersebut. Menurutnya, mereka yang diambil paksa itu adalah mantan anggota Kompak (komite penanggulangan krisis).

Hingga Kamis malam, FPP masih terus mengumpulkan keterangan dari jaringan mereka untuk memastikan jumlah serta nama-nama aktifis yang diambil paksa. "Kalau dari laporan sementara yang diambil paksa mencapai belasan,"ujar Adi.

Kholid menyatakan salah seorang pria yang diambil paksa adalah Joko Triyanto, pria yang tiga tahun ikut mendirikan FPP. Sehari-hari, selain aktif di FPP, Joko juga memiliki counter HP di Alfa Gudang Rabat di Solo.

Menurut salah seorang saksi yang juga korban penyekapan, Heri Sutopo, Rabu (29/6) sore sekitar pukul 16.30 sedikitnya empat orang berpakaian preman mendatangi dirinya yang tengah bekerja di tempat Joko. Heri Sutopo adalah karyawan Joko Triyanto. Kebetulan saat itu Joko tengah tidak berada di tokonya.

Keempat orang ini menanyakan keberadaan Joko Triyanto (35) warga Purwosari, solo. "Keempat orang ini mengaku petugas dan kemudian membawa paksa saya ke sebuah mobil Toyota Kijang. Saya disekap dan diintrogasi selama setengah jam dan dibawa berputar-putar di sekitar Solo. Saya baru dilepas di kawasan Kartasura karena tidak bisa menunjukkan Pak Joko,"kata Heri, yang sempat diancam dibunuh kalau tidak bisa memberitahu keberadaan Joko. Dan setelah kejadian ini Joko dilaporkan hilang.

Pengambilan paksa juga dialami sejumlah aktivis muslim di Kabupaten Wonogiri. Sejumlah pria yang mengaku aparat dari Mabes Polri mendatangi rumah Joko Sumanto alias Cunto (40), warga Kelurahan Wonoboyo Kecamatan Wonogiri Kota Kabupaten Wonogiri, Rabu (29/6).

Joko Sumanto adalah pemilik UD Masa. Teguh, salah seorang karyawan UD Masa, menyatakan, kalau Joko dan empat karyawan UD Massa, sampai Kamis malam (30/6) belum pulang setelah diambil oleh orang-orang yang mengaku dari Mabes Polri tersebut. Mereka adalah Gino, Dani, Anto dan Hana. "Mereka diangkut mobil oleh tim yang mengaku dari Mabes Polri itu,’"ujar salah seorang tetangga Joko.

Menurut warga setempat sekelompok petugas yang mengaku dari tim Mabes Polri Jakarta itu, mendatangi rumah Joko di RT 02/RW III, Kamis (29/6) pada sekitar pukul 16.00. Mereka datang dengan mengendarai empat mobil. Jenisnya ada Kijang, Panther dan sedan. "Personilnya ada yang berambut gondrong, dan ada pula yang hanya bercelana pendek, tapi semua bawa senjata,"ujar Ketua RT Ngatmin.

Wakapolres Komisaris Polisi Sukamto, menyatakan, pihaknya belum tahu menahu soal kejadian penangkapan itu termasuk kemungkinan kedatangan tim anti teror Mabes Polri ke Wonogiri untuk memburu tersangka bom di sejumlah daerah di Indonesia.

Pernyataan senada juga dikatakan Kompol Yudha Gustawan, Kabag Intelpam Polwil Surakarta saat menerima laporan FPP. Ia mengaku belum mengetahui adanya penangkapan atau pengambilan paksa terhadap orang-orang tersebut. "Kami berterima kasih atas laporan dan kami akan berusaha mencari tahu kejadian ini,"katanya.

Anas Syahirul

Dari Arsip Majalah TEMPO
Sulit Mengungkap Aktor Intelektual Pembunuhan Munir | 04 April 2005
Memori yang Terlupakan | 14 Maret 2005
Menutup Sejarah Kelam Masa Lalu | 21 Pebruari 2005
Koneksi Prabowo di Negeri Gurun  | 29 Desember 1998
Mahkamah untuk Prabowo  | 29 Desember 1998
Prajurit Menembak, Wiranto Bersalah  | 01 Desember 1998
Latihan yang Merenggut Nyawa  | 17 November 1998
Kasus Penculikan Tertunda  | 27 Oktober 1998
Penculikan Segera Dimahmilkan  | 20 Oktober 1998
Susah Mencari Saksi Ahli, Apalagi Bukti  | 06 Oktober 1998
>>selengkapnya ::

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Tengkorak dan tulang korban peristiwa Tanjung Priok bernama Tukimin di Mengkok Sukapura, RSCM Jakarta 7 September 2000.[TEMPO/Awaluddin R; 31D/299/2000; 2000/11/18].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20001022-038 Mantan Danrem Wiradharma Dili Brigadir Jenderal (Brigjen) M. Noer Muis, terdakwa kasus pelanggaran HAM di Timor-Timur bersama Eurico Guterres (kanan) usai sidang kasus pelanggaran HAM di Timor Timur di Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta Pusat, 15 Januari 2003. [TEMPO/ Lourentius EP; K12A/096/2003; 20030219].
Korban Peristiwa Tanjung Priok
M Noer Muis dan Eurico Guterres
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kedatangan Komnas HAM Disambut Demo
Hakim Binsar : Pengulangan Pengadilan Tingkat Pertama Tidak Lazim
Yayasan Pembawa 10 Anak Nias Dinilai Ceroboh
DPR Sarankan Komnas HAM Panggil Paksa Tiga Jenderal
Hendropriyono Menolak Mendatangi TPF
TNI Menangkap Tiga Warga Aceh dan Menemukan Ladang Ganja
Pam Swakarsa, Hidup Lagi
Panglima TNI: Harus Ada Keputusan Politik
Prabowo dan Sjafrie Tak Penuhi Panggilan Komnas HAM
Wiranto, Prabowo, dan Sjafrie Dipanggil Komnas HAM
> selengkapnya...


Referensi

Komnas HAM dalam Tragedi Semanggi dan Trisakti
PEMBUNUHAN MASSAL DI AFDELING IV PT. BUMI FLORA ACEH TIMUR
PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DALAM PERADILAN HAM
UU RI No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM
PP RI No.3 Thn 2002 Tentang Kompensasi ,Restitusi, Dan Rehabilitasi Terhadap Korban Pelanggaran HAM yang Berat
PP RI No.2 Thn 2002 Tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran HAM yang Berat
> selengkapnya...

Website

Kepolisian Negara Republik Indonesia
Imparsial
Wiranto


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Tol Penjaringan-Kebun Jeruk Selesai Juni 2009
Cuaca Hari ini Didominasi Awan dan Hujan
Hari Pencoblosan, NTB Libur
Presiden Buka PON XVII Malam Ini
Presiden Resmikan PLTU Milik Dahlan Iskan

<< July,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data