Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Posyandu Akan Jadi Gerakan Besar
Selasa, 21 Juni 2005 | 13:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Upaya pemerintah untuk kembali mengaktifkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandusebagai sarana pemantauan kesehatan masyarakat, diusulkan dilakukan bersifat nasional. “Posyandu harus jadi gerakan besar,” kata Sekretaris Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Soetedjo Yuwono, ketika ditemui Tempo di ruang kerjanya, Selasa (21/6).

Pengaktifan kembali Posyandu, diyakini Soetedjo dapat mengatasi masalah kesehatan yang timbul di masyarakat akhir-akhir ini, termasuk busung lapar. Pemerintah sendiri, ujar Soetdjo, telah menyiapkan tiga strategi dalam mengatasi busung lapar. “Strategi jangka pendek dengan memberikan makanan tambahan kepada balita, strategi jangka menengah dengan mengaktifkan kembali Posyandu dan strategi jangka panjang melalui pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu-ibu melalui usaha skala mikro, kecil, dan menengah,” katanya.

Menurut Soetedjo, pengaktifan Posyandu juga akan dilengkapi kader-kader terlatih. “Rasionya lima kader tiap satu Posyandu,” kata Soetedjo. Selain kader terlatih, kata Soetedjo, Posyandu harus dilengkapi perlengkapan. “Seperti timbangan bayi, KMS (Kartu Menuju Sehat), serta biaya operasional,” katanya. Menurut Soetedjo, Posyandu yang masih aktif ditingkat kabupaten rata-rata hanya 40 persen.

Soetedjo menilai, biaya operasional sebesar Rp 50 ribu per-Posyandu tiap bulan, masih amat kurang. Pasalnya, untuk perawatan balita yang menderita gizi buruk saja, biayanya mencapai Rp 10 ribu per orang per hari.

Sedangkan pengawasan dalam pelaksanaan aktivasi kembali Posyandu, kata Soetedjo, diharapkan tumbuh dari masyarakat di tiap daerah. “Pengawasan bersifat bottom up, masyarakat yang memantau dan mengetahui apa yang mereka butuhkan,” katanya.

Ami Afriatni


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

RS Koja Rawat Tiga Penderita Gizi Buruk
Pengobatan dan Perawatan Balita Gizi Buruk di Yogyakarta Gratis.
IDAI: Balita Gizi Buruk Wajib Masuk Rumah Sakit
Penderita Busung Lapar di Lombok 903 Orang
255 Balita Bogor Bergizi Buruk
22 Ribu Balita di Cianjur Kekurangan Gizi
Korban Meninggal Kasus Busung Lapar di NTB Menjadi 21 Balita
Makanan Tambahan Bagi Anak Kurang Gizi di NTT Menipis
Seribu Lebih Kepala Keluarga di Boyolali Kurang Pangan
Pertemuan 9 Jam Presiden dan Para Pembantunya
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data