Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kolom M. Alfan Alfian M.

Elite Lama dalam Pemilihan Daerah
Kamis, 16 Juni 2005 | 20:08 WIB

TEMPO Interaktif, : Fenomena utama atas beberapa kasus penyelenggaraan pemilihan kepala daerah baru-baru ini adalah bertahannya elite-elite politik incumbent (yang sedang menjabat).

Kemenangan kembali Bupati Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) dan Kebumen (Jawa Tengah) serta Wali Kota Cilegon (Banten) dalam pemilihan kepala daerah pada 1 dan 5 Juni 2005 mempertegas fenomena tersebut.

Kita tidak dapat menilai sekarang apakah fenomena tersebut akan bertahan sebagai fenomena utama dalam pemilihan kepala daerah 2005, mengingat prosesnya belum selesai secara penuh.

Sepanjang Juni ini, menurut data Departemen Dalam Negeri, akan berlangsung pemilihan kepala daerah secara serentak di 226 daerah di seluruh Indonesia (kecuali di sejumlah daerah yang mungkin harus ditunda seperti Nanggroe Aceh Darussalam), meliputi pemilihan gubernur di 11 provinsi, pemilihan bupati di 179 kabupaten, dan pemilihan wali kota di 36 kota. Jumlah pemilih yang terlibat 77 juta orang. Itu berarti masih banyak pemilihan kepala daerah yang akan terselenggara.

Tapi apakah fenomena kembalinya elite lama itu akan menjamin para incumbent atau calon kepala daerah berwajah lama menang? Para elite lama memiliki peluang lebih besar dibandingkan dengan para pendatang baru. Akses politik yang mereka miliki lebih besar. Dan tentu saja sisa-sisa pengaruhnya masih melekat. Rata-rata mereka juga sudah dikenal, setidaknya dari namanya atau fotonya.

Ada elite lama yang menjadi calon incumbent, ada pula yang tidak. Tapi keduanya relatif sudah dikenal. Kasus semacam ini misalnya pemilihan kepala daerah Depok, tatkala mantan wali kota berhadapan dengan mantan Menteri Kehutanan.

Ini kalau yang disebut elite lama ialah mereka yang telah berkancah di politik sebelumnya dan elite baru adalah mereka yang belum punya latar belakang politik dan birokrasi sebelumnya.

Kasusnya memang mirip dengan pemilihan umum legislatif 1999, ketika partai-partai lama berhadapan dengan partai-partai baru. Partai-partai lama ternyata masih kuat. Mungkin mereknya sudah dikenal--infrastrukturnya sudah sedemikian kukuh.

Penelitian yang diselenggarakan Akbar Tandjung Institute atas 1.500 responden di 15 provinsi di Indonesia yang dipresentasikan pada akhir Mei 2005 antara lain memberikan gambaran atas fenomena incumbent.

Responden sesungguhnya secara tegas menghendaki para calon incumbent harus berhenti dari jabatannya jauh sebelum pemilihan berlangsung untuk menjamin netralitas birokrasi (46 persen).

Tapi, di sisi lain, responden memandang tokoh/putra daerah akan lebih banyak didukung (20 persen), baru tokoh birokrasi (19 persen), tokoh agama (18 persen), tokoh politik (14 persen), dan tokoh yang berlatar belakang TNI/Polri (7 persen). Dielaborasi lebih lanjut, responden urban lebih memilih tokoh birokrasi (22 persen), sementara untuk tokoh/putra daerah 24 persen.

Sudah dapat dipastikan, para "pendatang baru" di arena pemilihan kepala daerah (yang bukan calon incumbent) harus berjuang mati-matian untuk dapat mengalahkan lawannya. Apalagi kalau lawannya hampir tidak memiliki celah untuk disudutkan dengan kampanye negatif--sementara yang punya "daftar hitam" saja sulit untuk dikalahkan.

Para "pendatang baru" punya problem mendasar: bagaimana menjungkirbalikkan psikologi publik yang lebih berpihak pada mereka yang dianggap "pernah punya pengalaman". Sedangkan elite lama pasti terus berupaya bahwa pihaknya lebih mampu.

Parahnya kalau politik uang yang menggejala, ditambah politik preman (penggunaan fisik dan kekerasan politik) diutamakan. Dalam hal ini, pihak incumbent, dari sudut sumber daya yang ada, kelihatannya lebih berpeluang melakukan itu (walaupun kita tidak boleh berburuk sangka). Tapi tidak tertutup kemungkinan justru para "pendatang baru" yang melakukannya.

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, kelihatannya pemilihan lain di hari depan masih akan disusul oleh kemenangan calon-calon incumbent.

M. Alfan Alfian M.
Direktur Riset Akbar Tandjung Institute dan
Dosen FISIP Universitas Nasional Jakarta


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Munir Tidak Masuk Radar Kami
TNI, Demokrasi, dan Peran Amerika


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data