Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

DPR Minta BI Audit Investigasi Kavling Serasi
Rabu, 15 Juni 2005 | 22:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR dari Fraksi PAN Drajad Wibowo, meminta Bank Indonesia (BI) untuk melakukan audit investigasi terhadap Bank Lippo terkait dengan produk Kavling Serasi. Sebab, menurut dia, penjualan Kavling Serasi yang mencapai Rp 2,2 triliun tidak mungkin tidak diketahui oleh pemimpin bank tersebut.

Drajad menyarankan audit investigasi BI nantinya berfokus pada pengalihan DPK (dana pihak ketiga), keterlibatan karyawan, potensi pelanggaran BMPK (batas maksimum pemberian kredit), dan kemungkinan keterlibatan pemimpin atau pemilik Bank Lippo.

Menurut dia, kasus yang sudah lama muncul ini ternyata tidak ditanggapi dengan langkah memadai oleh BI. “Semestinya, jika ada indikasi kolusi yang dilakukan oknum BI dengan Bank Lippo, harus segera diambil sanksi tegas,” ucapnya.

Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), menurut dia, juga harus segera melakukan pemeriksaan terhadap PT Lippo Karawaci Tbk dan Lippo Cikarang terkait dengan produk Kavling Serasi.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Siti Chalimah Fadjrijah menegaskan BI mengidentifikasikan Kavling Serasi sebagai produk non bank, yakni Grup Lippo. Saat ini BI masih mempelajari dengan ahli hukum.

Seperti diberitakan, sejumlah nasabah yang merasa dirugikan oleh PT Lippo Karawaci Tbk dan PT Bank Lippo Tbk melaporkan direksi Lippo Karawaci ke Mabes Polri (26/5) atas dugaan melakukan praktek bank gelap. Para nasabah merasa dirugikan karena tidak bisa mencairkan produk Kavling Serasi saat jatuh tempo.

Produk yang dijual dengan iming-iming suku bunga yang lebih tinggi daripada deposito bank ini kemudian menarik minat para nasabah untuk mengalihkan simpanannya. Namun ketika produk tersebut jatuh tempo dan tidak bisa dicairkan, indikasi kerugian nasabah mencapai Rp 50 miliar. R.R. Ariyani

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Direktur Bank Indonesia (BI), Hendro Budiyanto pada rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di gedung MPR/DPR, Jakarta, 1993. [TEMPO/ Rully Kesuma; 15D/210/1993; 20021001]. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Maulana Ibrahim saat jumpa pers di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, 27 Februari 2003. [TEMPO/ Wahyu Setiawan; K12A/179/2003; 20030225].
Hendro Budiyanto
Maulana Ibrahim
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bank Indonesia Kekurangan Pengawas dan Pemeriksa
BI Uji Sistem Kliring Nasional Agustus
Gubernur BI: Modal Awal LPS Cukup Rp 6 Triliun
Bank Indonesia Lanjutkan Kebijakan Moneter Ketat
BI: Debitor Nakal Berikan Informasi Berbeda ke Bank
Suku Bunga SBI Tetap 8 Persen
BI Tetapkan Pembayaran Minimum Kartu Kredit
BI: Laba Bank BUMN Terancam Merosot
BI Naikkan Suku Bunga Penjaminan
BI: Danamon Simpan Pinjam Tidak Mematikan BPR
> selengkapnya...


Referensi

Profil Miranda Swaray Goeltom
Profil Burhanuddin Abdullah
Latar Belakang Perusahaan Pengelola Aset Negara (PPA)
Keppres RI No. 17 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Keppres No. 26 Tahun 1998 Tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum
Keppres RI No. 1 Tahun 2004 Tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
PP RI No. 47 Tahun 2001 Tentang Perubahan Keempat Atas PP No. 17 Tahun 1999 Tentang Badan PenyehatanPerbankan Nasional
> selengkapnya...

Website

Bank Indonesia


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2005>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data