|
Panglima Keberatan Penggunaan Detasemen 81 Kopassus
Kamis, 09 Juni 2005 | 14:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan keberatan terhadap rencana penggunaan Detasemen 81 Penanggulangan Teror Kopassus untuk membongkar aksi-aksi terorisme. Menurutnya, yang lebih berperan bukanlah unit teknis tetapi unit intelijen TNI.
Hal ini disampaikan Panglima menjawab pertanyaan anggota DPR Andi Ghalib (PPP) dan Permadi (PDIP). "Detasemen 81 Kopassus menganggur, meski latihan terus," kata Ghalib.
Panglima menyatakan, kemampuan TNI untuk menangani terorisme dibedakan menjadi dua. Pertama, unit intelijen untuk mengidentifikasi teror dengan berbagi informasi dengan Badan Intelijen Negara dan kepolisian. Kedua, unit antiteror untuk menanggulangi aksi teror yang terjadi, seperti pembajakan kapal dan penyanderaan.
Untuk memerangi terorisme, menurut Sutarto, yang diperlukan adalah kerja sama intelijen. Dikatakannya, rakyat senang saat pelaku teror bisa tertangkap. "Tapi tentunya rakyat lebih senang jika tidak ada bahaya," tuturnya.
Detasemen 81, ujar Panglima, tidak didesain dan mempunyai kemampuan untuk menangkap pelaku teror. Latihan-latihan yang mereka lakukan untuk penugasan pembebasan sandera dan pembajakan. Agus Supriyanto
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Terdakwa kasus peledakan bom di Wisma Bhayangkari, Anang Supena (kiri) mendengarkan keterangan saksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, 26 Agustus 2003. [TEMPO/ Imam Sukamto; K18A/044/2003; 20030926].](/hg/photostock/2005/03/23/s_K18A04405_high_thumb.jpg) |
![Poster daftar pencarian orang (DPO) yang dipasang di tembok Gedung Jaya, Jakarta, 2 September 2003. [TEMPO/ Imam Sukamto; K18A/036/2003; 20030926].](/hg/photostock/2005/03/14/s_K18A03608_high_thumb.jpg) |
|
|
| Poster Daftar Pencarian Orang
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|