|
Nasional
23 Wilayah Rawan Rusuh Saat Pilkada
Minggu, 22 Mei 2005 | 06:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada), banyak daerah yang menyambutnya dengan kerusuhan. Menurut Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri, Progo Nurjaman terdapat 23 wilayah yang diindikasikan bergejolak dari 226 wilayah yang mengadakan pilkada nanti.
Ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya kerusuhan dalam pilkada nanti. Yang pertama, masalah independensi KPUD, karena banyak anggapan kekawatiran KPUD akan berpihak kepada calon tertentu. "Anggapan keberpihakan KPUD terhadap salah satu calon pasti akan menimbulkan gejolak,"ujar Progo dalam diskusi pilkada di Onyx Bar Hotel Ibis Slipi Sabtu (21/5).
Penyebab lainnya kekecewaan masyarakat karena calonnya tidak lolos seleksi dalam pemilihan. Yang terahir disebabkan masalah yang timbul dari dalam partai sendiri. "Tadinya ada koalisi partai, lalu tengah jalan ada yang mengundurkan diri sehingga tidak dapat memenuhi 15 persen sesuai undang-undang,"ujar Progo.
Hal senada juga diungkapkan oleh Thamrin Tamaguna, Sosiolog dari Universitas Indonesia. Sumber kerawanan disebabkan oleh KPUD, negara dan partai politik. Menurutnya, pilkada akan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengungkapkan keinginan yang terpendam. "Masyarakat akan mengeluarkan uneg-unegnya dan ini sangat potensial timbulnya gejolak,"katanya.
Selain itu pemekaran daerah dapat juga menimbulkan gejolak. "Akan timbul konflik lokal karena daerah yang baru akan mengusulkan nama berdasarkan marga atau ikatan keluarga,"kata Thamrin.
Namun Riyaas Rasyid tidak mengkwatirkan gejolak yang ada di masyarakat menjelang pilkada nanti. Menurutnya, hal itu sudah biasa di Indonesia. "Itu sudah biasa disini, menjelang kegiatan politik pasti ada gejolak tapi hasil ahirnya akan tenang lagi,"katanya. Yang menjadi perhatian Riyas Rasyid justru hasil dari pilkada nantinya apakah akan memberi perubahan atau tidak?
Karena hingga saat ini Riyaas Rasyid belum melihat Pilkada akan menghasilkan pemimpin yang dapat memberikan pencerahan. Ia menghimbau agar masyarakat dapat mengunakan hati dalam memilih pemimpin daerahnya. Sedangkan Progo berharap para calon yang maju juga harus siap menerima kekalahan dalam pilkada nanti.
Ia juga berharap partai politik dapat mengakomodasi keinginan masyarakat dengan baik untuk menghindari kerusuhan. "Parpol harus mendengar aspirasi masyarakat jika ada tokoh yang memang patut untuk dicalonkan," katanya. Selain itu pemerintah daerah diharapkan melakukan sosialisasi yang cukup tentang pilkada agar tidak menimbulkan kerancuan dalam pelaksanaannya.
Yudha Setiawan
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|