Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Yudhoyono Hubungi Arroyo Soal Sandera
Rabu, 18 Mei 2005 | 17:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (18/5) pagi, menghubungi Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo tentang upaya pembebasan tiga warga negara Indonesia yang disandera di wilayah negara itu. Menurut Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Arroyo memberi perhatian besar pada masalah ini.

"Dalam pembicaraan, Presiden Arroyo berjanji segera menghubungi otoritas yang berkompeten baik Angkatan Bersenjata, kepolisian, dan intelijen agar melakukan langkah-langkah ke arah pembebasan," kata Hassan seusai rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Rabu.

Tiga awak Kapal Tunda Bonggaya milik perusahaan pelayaran Malaysia disandera saat berlayar dari Tarakan menuju Sandakan di Kalimantan Timur, 30 Maret lalu. Mereka adalah Ahmad Remiadi, Yamin Labuso, dan Erikson Hutagaol. Ahmad beralamat di Depok, Jawa Barat; Yamin beralamat di Buleleng, Bali; dan Erikson di Jalan Raya Cilincing, Jakarta Utara.

Kelompok penyandera mengaku dari Jami Al-Islami Southern Mindanau. Menurut Wirajuda, para penyandera meminta pemerintah dan perusahaan pemilik kapal menyediakan uang tebusan sekitar Rp 7,5 miliar.

Berbeda dengan kasus penyanderaan WNI di Irak, menurut Hassan, penanganan kasus penyanderan ini dilakukan lebih tertutup. "Tetapi tidak berarti pemerintah, dalam hal ini Departemen Luar Negeri dan perwakilan, tidak bekerja. Pendapat itu tidak benar," katanya.

Departemen Luar Negeri, menurut dia, telah membentuk kelompok kerja. Setidaknya di tiga perwakilan RI juga telah dibentuk tim respons, yaitu di Kedutaan RI di Manila, KonsulantJenderal di Dafau, dan Konsulat Jenderla di Kinabalu, Malaysia.

Pemerintah, kata Hassan, juga sedang mempertimbangkan pengiriman tim pembebasan ke Filipina. Presiden juga telah mengintruksikan pendekatan secara informal. Hassan mengaku juga telah meminta bantuan Menlu Filipina pada pertemuan 9 April lalu di Ceibo. Dimas Adityo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521]. Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521].
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

DPR Bentuk Tim Pembebasan Sandera di Filipina
Nasib WNI yang Diculik di Filipina Belum Jelas
RI-Timor Akan Kembali Bahas Perbatasan
ASEM Desak Korut Lanjutkan Dialog Nuklir
Tiga WNI Diculik di Filipina Selatan
Konperensi Asia Afrika Akan Digelar Setiap Empat Tahun
Perjanjian Ekstradisi dengan Singapura Semakin Jelas
Organisasi Kekerabatan Indonesia-Singapura Terbentuk
Indonesia Protes Insiden Ambalat ke Malaysia
Celah Timor Bukan Lagi Milik Indonesia
> selengkapnya...


Website

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
The ASEAN Secretariat
Kepolisian Republik Indonesia
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2005>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data