Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Tiga WNI Diculik di Filipina Selatan
Kamis, 05 Mei 2005 | 18:35 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mengusahakan pembebasan tiga warga Indonesia yang diculik di Mindanao, Filipina Selatan. "Para penculik meminta kepada pemilik kapal mengirim uang dan handycam,"ujar Kabid Konsuler KBRI di Filipina Rosana Suparmono kepada TEMPO, Kamis (5/5).

Menurut Rosana, mereka meminta uang sebesar tiga juta ringgit, bukan sebagai tebusan pembebasan ketiga warga Indonesia. "Cuma untuk tunjukkan itikad baik,"katanya menirukan sms dari para penculik kepada salah seorang penghubung di Malaysia. Pemilik kapal tersebut adalah warga Malaysia.

Penculik, yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai Jamiyah of Southern Mindanao, tak dikenal oleh aparat tentara maupun kepolisian di Filipina. Bahkan, tempat mereka disekap pun hingga saat ini tidak diketahui aparat yang ingin membantu pembebasan warga Indonesia tersebut. "Daerahnya banyak pulau-pulau kecil, tidak tahu dimana?"ujar Rosana.

Pemerintah, walaupun tidak dihubungi para penculik, mengaku tetap berusaha meminta agar para penculik membebaskan ketiga warga Indonesia tersebut. "Kami juga minta bantuan pihak MNLF dan MILF,"ujar Rosana. Kedua pihak itu berjanji membantu untuk berbicara dengan para penculik. "Masalahnya, mereka pun tidak mengetahui siapa pemimpin kelompok itu,"kata Rosana.

Tiga awak dari tujuh kru kapal Bonggaya 90 milik pengusaha Malaysia itu diculik setelah ditodong dengan senjata otomatis AK-47, M-16, dan pistol oleh lima orang tanpa identitas. Kelima orang itu menggunakan speed boat yang langsung mencegat kapal yang sudah kosong setelah mengangkut kayu dari Malaysia ke Berau, Kalimantan Timur. Kejadian Rabu (30/3) pukul 11 siang itu terjadi di tengah perairan dekat Sabah, Malaysia.

Menurut Kepala Kantor Penghubung Konsul Jenderal RI Kota Kinabalu, Tawau, Chairul Sulaeman Natadisastra, speed boat yang membawa tiga warga Indonesia itu dibawa ke arah kepulauan Tawi-tawi di Filipina Selatan. Mereka adalah kapten kapal Resmiadi (32), Erikson Hutagaol (23), dan Yamin Labusu (26). Dua orang WNI itu beralamat di Jalan Pitara XIII Depok I, Jawa Barat dan Jalan Raya Cilincing 49, Jakarta Utara. Satu orang lagi tinggal di Jalan Beringin Blok H/ 15 di Sulawesi Selatan.

Selain menculik, lima orang tersebut, para penyandera, juga mengambil satu set alat komunikasi yang ada di kapal itu. Menurut Rosana, Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Efren Abu sudah memerintahkan armada lautnya untuk mengejar kapal yang menculik tiga warga Indonesia tersebut. Namun, sampai sekarang pencarian yang dimulai sejak kemarin (31/3) belum membuahkan hasil. :Pemerintah Malaysia janji akan membantu,"ujar Rosana yang baru saja bertemu Panglima saat dihubungi TEMPO.

Armada laut Filipina, ujar panglima seperti ditirukan Rosana sedang menyelidiki pulau-pulau kecil di sekitar Tawi-Tawi yang diinformasikan sebagai tempat tujuan penculik. Menurut panglima, kata Rosana, ada dua kemungkinan yang terjadi, kapal Bonggaya dibajak atau memang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf. "Tapi katanya, kalau kelompok Abu Sayaf akan minta tebusan,"ujarnya. Sementara saat ini, ujar Rosana, belum ada kontak permintaan apa untuk menukar ketiga warga negara Indonesia itu.

Menurut Chairul, dalam setahun terakhir, terjadi dua kali penculikan terhadap warga negara Indonesia yang melintas di dekat perairan sekitar Sabah. Kejadian bulan April 2004 lalu itu berakhir dengan berita dari pemerintah Filipina bahwa seorang warga Indonesia JE Walter Sempei dan dua warga Malaysia Wong Chu Ung dan Thok Chiu Chiong tewas. "Tapi tidak pernah ada bukti fisik dan DNA dari pemerintah Filipina," ujar Chairul yang sempat mengurus kasus ini saat ditugaskan di Manila.

Yophiandi

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521]. Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina Fidel Ramos, Jakarta, 1993. [Setneg; 18D/190/1993; 20020521].
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
Presiden Soeharto saat menerima kunjungan presiden Filipina
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Insiden di Perbatasan Timor Leste Serius
TNI Boikot Pertemuan Indonesia-Timor Leste
Militer Indonesia-Singapura Pererat Kerjasama
Insiden di Perbatasan Indonesia-Timor Leste
TMII Sambut Kunjungan Delegasi Konferensi Asia Afrika
Korban Penyekapan Miliki Tiga KTP
Perjanjian Ekstradisi dengan Singapura Semakin Jelas
Polisi Tangkap Seorang Anggota Komplotan Penculik Pengusaha
Belum Jelas Keberadaan 3 WNI yang Diculik di Sabah
Pakar Militer : TNI Enggan Mengikuti Perubahan Zaman
> selengkapnya...


Referensi

BADAN ANTIKORUPSI
UU RI No. 1 Tahun 2001 Tentang Pengesahan Persetujuan Antara Pemerintah RI dan Pemerintah Hongkong Untuk Penyerahan Pelanggar Hukum Yang Melarikan Diri (Agreement Between The Government Of The Republic Of Indonesia and The Government Of Hongkong For The S

Website

Kepolisian Negara Republik Indonesia
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Badan Intelijen Negara
The ASEAN Secretariat
Kepolisian Republik Indonesia
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif
Bapepam Akan Gugat Eurocapital
Buffon Bantah Hengkang ke City
Menteri Anggap Enteng Keluhan Guru Sabah

<< May,2005>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data