Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Profauna Tuntut Thailand Segera Pulangkan Orang Utan
Senin, 25 April 2005 | 11:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Profauna bersama International Primate Protection League (IPPL) menuntut pemerintah Thailand segera memulangkan orang utan asal Indonesia di Taman Safari World, Bangkok. Sebab, orang utan itu diduga hasil selundupan.

Tuntutan itu disampaikan 10 aktivis berkostum ala orangutan dan membawa spanduk saat melakukan unjuk rasa di depan kedutaan besar Thailand, Jalan Imam Bonjol, Senin (25/4). "Kami menuntut keseriusan pemerintah Thailand untuk memulangkan orangutan Indonesia," ujar Hardi Baktiantoro, Koordinator Divisi Kampanye Profauna Indonesia.

Menurut dia, sebanyak 115 ekor orang utan, yang diyakini berasal dari Indonesia saat ini terjebak di Safari World, sebuah objek wisata utama di Bangkok yang terkenal dengan tinju orang utannya. "Hasil investigasi ahli primata menunjukkan orang utan tersebut anak jenis orang utan Kalimantan," katanya.

Kasus ini, menurut Hardi, sebenarnya sudah berjalan sejak dua tahun lalu tanpa penyelesaian. Pemerintah Thailand telah mengenakan tuduhan impor spesies tanpa ijin dan pelanggaran peraturan kepabeanan pada pemilik Safari World. Pemerintah Thailand juga pernah menjanjikan dapat memulangkan orang utan tersebut ke negara asalnya begitu proses hukum selesai. "Tapi tidak ada langkah konkret yang telah dilakukan," tutur Hardi.

Ketidakseriusan ini, menurut Hardi, terlihat dari masih bebasnya pemilik Safari World yang malah sekarang menjadi penasihat Night Safari di Chiang Mai. Disamping itu, tes DNA yang pernah dilakukan Thailand ternyata tidak bertujuan untuk mengetahui asal orang utan, dan sama sekali tidak digunakan sebagai pijakan polisi untuk melakukan penegakan hukum. "Jadi Thailand hanya mengulur waktu sampai Indonesia lupa dan orang utan itu mati satu persatu," katanya. Rinaldi G Dorasman


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penegakan Hukum Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Lemah
Diluncurkan, Sistem Database Perdagangan Ilegal Satwa
Profauna Desak Pemerintah Lindungi Kakatua Pulau Seram
Pelihara Satwa Langka, Rektor Unsoed Disomasi
Sanksi Hukum Pemelihara Satwa Langka Masih Ringan


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data