|
Nasional
TKW Asal Lampung Terancam Hukuman Mati
Sabtu, 16 April 2005 | 19:59 WIB
TEMPO Interaktif, Lampung:Keluarga Juminem, 20 tahun, tenaga kerja wanita (TKW) yang diancam hukuman mati di Singapura, belum mengetahui vonis anaknya. Mereka berharap, pemerintah Indonesia bisa membantu membebaskan Juminem dari jeratan hukum.
Juminem yang dituduh membunuh istri majikannya, terancam hukuman mati dan akan divonis dalam waktu dekat. Selain Juminem, rekannya, Siti Aminah, 16 tahun, juga diancam hukuman serupa, karena dituduh membantu Juminem melakukan pembunuhan terencana, pada tahun 2003 lalu.
Sukiyem, 68 tahun, ibu Juminem, yang ditemui di kediamannya, Desa Margo Mulyo, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, hanya bisa menangis terisak-isak, sambil terus menerus memegangi dadanya. "Saya mohon anak saya tidak dihukum. Tolong dia dipulangkan saja. Biar bisa berkumpul dengan kami
lagi,"katanya terbata-bata.
Sukiyem mengaku tidak tahu kasus apa yang menimpa anaknya. "Saya tidak tahu. Cuma dari kakak iparnya, saya dengar dia mau dihukum mati. Saya minta tolong, agar pemerintah bisa mengupayakan pembebasan anak saya. Dia bukan orang jahat,"kata Sukiyem, dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Juminem adalah anak bungsu dari enam bersaudara, pasangan Kadiman, 72 tahun, dan Sukiyem. Sehari-harinya, Kadiman dan Sukiyem bekerja sebagai petani, dengan menanam singkong dan padi. Setiap hari, keduanya berjalan kaki menuju kebun, yang jaraknya lebih dari satu kilometer.
Dibanding kakak-kakaknya, pendidikan Juminem tergolong tinggi. Sebelum berangkat ke Singapura, dia sempat menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah
Atas (SMA) PGRI di Tumijajar. Lima kakaknya yang lain sudah menikah, dan semuanya bekerja sebagai buruh tani dan buruh pabrik.
Menurut Kadiman, pada Juli 2003 lalu, Juminem pamit hendak menjadi TKI di Singapura. Juminem tertarik menjadi TKI, setelah mendapat informasi dari
sebuah penyalur TKI, tak jauh dari tempatnya tinggal. "Juminem bilang, dia pengen membantu orang tua, supaya enggak ke kebun lagi. Supaya enggak jadi
orang melarat lagi,"kata Kadiman sedih.
Namun sejak keberangkatannya dua tahun lalu, Juminem belum sekalipun mengirimkan uang kepada orang tuanya.
Sehari-harinya, Juminem dikenal sebagai anak yang pendiam. Pulang sekolah, dia sering membantu ibu dan bapaknya di kebun. "Dia itu pendiam, dan penakut.
Sulit dipercaya dia melakukan kejahatan,"kata Bambang, tetangga depan rumah Juminem.
Penduduk di desa itu pun tidak banyak tahu soal kasus yang menimpa Juminem. Menurut Kepala desa setempat, M Taufik, Juminem diancam hukuman mati karena mencuri. "Desa kami ini hampir semua penduduknya miskin. Jadi tidak heran, bila banyak warga yang memutuskan menjadi tenaga kerja di luar negeri,"katanya.
Fadilasari
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
 |
| Protes Menuntut Perlindungan Bagi TKI
|
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|