|
Nasional
Gangguan Gunung Meletus Efek Gempa Nias
Rabu, 13 April 2005 | 21:15 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung: Meningkatnya beberapa status gunung api di wilayah barat Indonesia, menurut Kepala subdit Pengawasan Gunung Api Wilayah Timur Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Syamsul Rizal, merupakan efek domino dari gempa yang terjadi di Nias.
Meletusnya Gunung Talang di Sumatera Barat,
serta naiknya status gunung api aktif yakni Gunung
Krakatau dan Gunung Tangkuban Parahu. "Ada apa? Logika yang masuk akal adalah karena efek domino gempa ini (Nias). Dan gempa di daerah subduksi ini masih jalan terus meskipun mungkin enerjinya semakin kecil,"kata Syamsul di Bandung, Rabu (13/4).
Naiknya aktivitas Gunung Tangkuban Parahu menjadi siaga dengan menunjukkan gejala gempa vulkanik yang menerus atau tremor gunung api. Gejala itu, menurut Syamsul, merupakan gejala khas yang dimiliki oleh Gunung Tangkuban Parahu di Kabupaten Bandung.
Menurut Syamsul, gempa yang hanya dirasakan oleh alat
pencatat gempa disebabkan oleh perubahan tekanan gas
yang berada di bawah gunung Tangkuban Parahu. Gas itu
tercipta oleh rembesan magma ke dalam kantung-kantung
air di bawah permukaan bumi. Air yang dipanaskan ini
berubah menjadi gas dan terkumpul di dalam bumi. Di
beberapa tempat, kantung-kantung gas yang berada di
bawah perut Gunung Tangkuban Parahu berisi gas karbon
dioksida (CO2) dan Gas Belerang (H2S).
Syamsul meyakini, perubahan tekanan itu dipengaruhi
oleh bergeraknya lempeng subduksi yang menyebabkan
gempa Nias. Perubahan tekanan akumulasi gas yang tidak
stabil itu mampu menekan dinding gunung sehingga
membuat dinding gunung Tangkuban Parahu ikut bergerak
sehingga terekam oleh seismograf. "Kalau dia (dinding gunung) tidak mampu menahannya, bisa retak,"kata Syamsul. Rekahan ini, mampu memancing magma gunung api yang selama ini terjebak untuk merembes keluar.
Menurut Kepala Sub Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Soerono, analisis koleganya hanya satu kemungkinan saja. Analisis itu, bisa digunakan untuk
menjelaskan terjadinya letusan Gunung Talang di
Sumatera Barat. "Kondisi tekanan di bawah gunung api sudah tinggi, terganggu sedikit saja dari energi yang lepas dari (gempa) tektonik itu bisa saja jeleger. Tapi kalau tekanannya tidak tinggi, (gempa Nias) hanya menambah tekanan saja, tidak apa-apa,"katanya.
Menurut Soerono, aktivitas Gunung Talang belum bisa
dikatakan menurun kendati ketinggian material letusan
sudah turun. Sebelumnya letusan gunung itu bisa
memuntahkan material mencapai ketinggian 500-1.500
meter, sekarang menjadi 250 meter dari kawah.
Selain mengumumkan kenaikan aktivitas Gunung Tangkuban
Parahu di Bandung, Rabu, Soerono juga mengumumkan
naiknya status Gunung Krakatau yang tadinya aktif
normal menjadi waspada. Peningkatan status itu,
disebabkan oleh naiknya aktivitas gempa vulkanik di gunung itu. Pada saat normal, seismograf mencatat, gempa vulkanik Gunung Krakatau terjadi 2-9 kejadian per hari, sejak Rabu (13/4) Direktorat Vulkanologi mendapati aktivitas itu meningkat menjadi rata-rata 32 kejadian gempa vulkanik dalam sehari.
Ahmad Fikri
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Kameraman SCTV dan anak-anak kecil yang berkumpul setelah gempa di Bengkulu, Juli 2000 [TEMPO/ Rully Kesuma; 30d/394/2000; 2000/07/26].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20010422-102](/hg/photostock/2005/04/05/s_30d39407_high_thumb.jpg) |
![Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah seorang ibu korban gempa bumi di tenda-tenda darurat di Bengkulu, Juli 2000. [TEMPO/ Rully Kesuma; 30d/394/2000; 2000/07/26].](/hg/photostock/2005/04/05/s_30d39406_high_thumb.jpg) |
|
|
| Korban Gempa Bumi Bengkulu
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|