Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Faisal Minta Bukti Terbalik dari Dirjen Pajak
Kamis, 07 April 2005 | 17:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tidak seperti Kwik Kian gie yang menyerah saat disomasi Dirjen Pajak. Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, tak mau kalah gertak, ia enggan melakukan klarifikasi kepada Dirjen pajak terkait dengan permintaan Dirjen Pajak kepada dirinya terkait dengan pernyataannya tentang penyelewengan dana hasil pungutan pajak pada tahun 2004 yang diperkirakan mencapai Rp 40 triliun.

Menurut Faisal, klarifikasi itu cenderung mengada-ada. "Kalaupun teman-teman aparat pajak tidak puas, pakailah cara-cara yang digunakan oleh Pak SBY dengan menggunakan hak jawab atas penderitaan yang dipandang perlu untuk memperoleh klarifikasi. Kok ini dirjen lebih arogan dari presiden,"ujarnya di Jakarta, Kamis (7/4).

Pernyataan Faisal Basri tentang penguapan dana pajak sekitar Rp 40 triliun tersebut diucapkan pada saat seminar perpajakan di Jakarta dengan tema, penyelewengan pajak dan akibatnya terhadap keuangan negara pada tanggal 31 Maret 2005 dan diberitakan oleh media massa pada tanggal 1 April 2005. Selain itu, Faisal Basri membantah pernyataan Dirjen Pajak di Koran Tempo hari ini yang menyatakan bahwa dirinya belum membalas surat Dirjen Pajak yang ditandatangani dari Herry Sumardjito, Direktur Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan RI. Menurutnya, ia baru menerima surat permohonan klarifikasi tersebut pada tanggal 6 April. "Padahal, saya membalasnya baru kemarin siang. Kemarin juga dia (Dirjen Pajak) meminta balasan, itu merupakan pernyataan konyol. Tapi hari ini saya sudah kirim,"katanya.

Alasan adanya penguapan pajak, menurut Faisal, karena persoalan pajak merupakan masalah publik. "Dan pajak saat ini merupakan aset yang potensial untuk penerimaan negara,"katanya. Faisal menyatakan isi surat klarifikasi dari Dirjen Pajak yang meminta bukti-bukti adalah tidak relevan karena ia bukan bagian internal dari Dirjen Pajak. "Saya tidak mau diam, karena saya ingin memandang ini sebagai suatu persoalan publik,"ujarnya.

Ia juga meminta agar dalam permintaan klarifikasi, Dirjen Pajak jangan mengutip sepotong-sepotong karena seluruh pemikiran dia tentang upaya membangun Indonesia terlihat dari beberapa tulisannya di seluruh media massa. Faisal menambahkan bahwa sudah saatnya untuk mengungkapkan kebenaran publik. Selama 10-20 tahun terakhir, ia melihat bahwa perbandingan penerimaan pajak tidak berbanding lurus dengan Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai contoh, menurut Faisal, perbandingan penerimaan pajak tahun 2005 dengan PDB lama sebesar 13,6 persen. Sedangkan, apabila menggunakan PDB baru maka perbandingan penerimaan pajak hanya 11,3 persen. Menurutnya, PDB baru merupakan potensi pajak yang sebenarnya. "Dana pajak yang menguap sekitar Rp 40 triliun itu, kalau bisa dihadirkan maka berarti dua kali lipat dari dana kompensasi dan dana CGI yang kita pinjam. Uang sebanyak Rp 40 triliun ini bagi Indonesia sangat luar biasa,"katanya.

Atas nama wajib pajak, Faisal meminta haknya untuk dilakukan pembuktian secara terbalik. "Dirjen Pajak harus membuktikan bahwa di tempatnya tidak ada pelanggaran-pelanggaran,"katanya. Itu, yang bakal susah dibuktikan oleh Dirjen Pajak.

Evy Flamboyan

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak, Mar'ie Muhammad di kantornya, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Rully Kesuma; 07D/367/1992; 20040713] Dari kiri kekanan : Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan, Ketua MPR Amien Rais, Presiden Mengawati Soekarnoputri,  Wakil Presiden Hamzah Haz, Ketua BPK Satrio Budihardjo Joedono dan Direktur Jenderal (Dirjen Pajak), Hadi Purnomo dalam acara pembukaan Surat Perberitahuan Tahunan (SPT) Pajak di Gedung Dirjen Pajak, Jakarta, 9 Maret 2004. [TEMPO/Dwi Djoko Sulistyo; K21A/154/2004; 20040604].
Mar'ie Muhammad
Bagir Manan, Amien Rais, dll

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Dirjen Pajak Minta Bukti Soal Kebocoran Pajak
Dirjen Pajak akan Pelajari Usulan PPA
Kwik Minta Maaf pada Dirjen Pajak
Dirjen Pajak Somasi Kwik Kian Gie
Pemerintah Tidak akan Menaikkan Tarif Pajak
Deregulasi dan Pajak Harus Digenjot
Depkeu Bentuk Tim Pengawas Ditjen Pajak dan Bea Cukai
Transparency International Indonesia :Perlu Dibentuk Ombudsman Pajak
Pembuat Faktur Pajak Fiktif Diancam Enam Tahun Penjara
Dirjen Pajak Ungkap Pemalsuan Faktur
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [5]


Berita Terakhir

Mitsubishi Luncurkan MC CARD
DPRD Siantar BerhentikanWali Kota dan Wakilnya
Harga Listrik Tanjung Jati di Atas US$ 4,3 Sen
Taksi Terbakar di Jalan MT Haryono
Presiden Diminta Beri Sanksi Heru Lelono

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data