|
Nasional
Bantuan Belum Masuk Teluk Dalam, Nias
Jum'at, 01 April 2005 | 20:39 WIB
TEMPO Interaktif, Teluk Dalam: Bantuan makanan dan obat-obatan dari pemerintah untuk korban gempa
hingga, Jumat (1/4) ini belum masuk Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.
Para pengungsi justru mendapat bantuan dari negara-negara asing, seperti Hongaria, Amerika
Serikat, dan Prancis.
Lambatnya bantuan ini dikeluhkan Pastor Selabius L, Kepala Asrama Gereja Bintang Laut,
Teluk Dalam. "Sementara ini, kami mengumpulkan beras dari sisa-sisa toko bahan makanan,"
kata dia di Teluk Dalam, Jumat (1/4).
Di kompleks Gereja Bintang Laut ada 2.000-an pengungsi. Menurut Selabius, mereka juga
belum mendapatkan bantuan obat-obatan dari pemerintah. Suster Getruda, suster kepala di
Balai Pengobatan dan Rumah Sakit Bersalin Stelamaris, menjelaskan, kini yang bisa dilakukan
hanya sebatas pertolongan darurat karena terbatasnya obat. Dikatakannya, pengungsi pun
harus memasak sendiri karena belum tersedianya dapur umum. "Semuanya serba kacau," tuturnya.
Ajun Komisaris Besar Robin Simatupang, Kepala Bagian Operasional Polres Persiapan Nias
Selatan menyatakan bantuan tersendat masuk Teluk Dalam karena putusnya jalur transportasi
dari Gunung Sitoli, Kabupaten Nias. Hampir semua jembatan di jalur itu rusak.
Jumat ini KRI Teluk Jakarta membawa 20 ton beras dan alat-alat berat dari Gunung Sitoli
ke Teluk Dalam. Namun, kapal itu tidak bisa merapat ke dermaga yang rusak. Beras-beras
akhirnya diturunkan ke perahu-perahu kecil yang menyeberangkannya ke dermaga. Adapun alat-alat
berat untuk evakuasi dibawa kembali ke Gunung Sitoli.
Jumlah korban di Teluk Dalam relatif lebih sedikit dibandingkan Gunung Sitoli. Menurut
Robin, di Kabupaten Nias telah ditemukan 102 mayat. Korban terbanyak di Teluk Dalam
(53 orang), Lahuta (18), Gomo (20), Lolowa (7), Lolomatua (4). Tiga kecamatan lainnya yakni
Amantraya, Kibala, dan Pulau-Pulau Batu belum ada laporan.
Menurut penduduk, air laut sempat pasang hingga setinggi dua meter ketika gempa berkekuatan
8,7 pada skala Richter menerjang kawasan Pulau Nias dan sekitarnya. Air kemudian surut
ketika memasuki kota.
Tempo melihat, gempa juga merusak situs-situs kuno di wilayah Nias Selatan. Rumah-rumah
adat berusia ratusan tahun di Baumataluo, Teluk Dalam, hancur. Rumah milik raja pertama,
Laowosao, yang kini dihuni generasi kelimanya bergeser 20 centimeter dari tempatnya semula.
Istiqomatul-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|