Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Cetak Biru Aceh Tak Fokuskan Lokomotif Perekonomian
Kamis, 31 Maret 2005 | 20:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Cetak biru rekonstruksi dan rehabilitasi wilayah Aceh dan Nias yang dikeluarkan
Kantor Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional harus direvisi. Terutama cetak biru
bidang ekonomi, banyak faktor yang dianggap belum selaras dengan jiwa dan keinginan
masyarakat Aceh.

Pendapat ini mengemuka dalam lokakarya 'Tanggapan Civil Society Atas Blue Print Rekonstruksi
Aceh' yang diadakan Aceh Recovery Forum dan Centre for Strategic and International
Studies (CSIS), di Jakarta, Kamis (31/3).

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Ekonomi, Nazamuddin, mengatakan bahwa cetak biru pembangunan
ekonomi Aceh pascagempa dan tsunami belum secara tegas menggambarkan sektor mana yang akan
dipilih menjadi lokomotif penggerak perekonomian, terutama dalam jangka panjang. "Saat ini,
sektor migas adalah stimulus perekonomian Aceh. Namun, tahun 2010 cadangan minyak akan
habis. Nuansa pasca-migas ini harus ikut mewarnai rekonstruksi Aceh," jelasnya.

Selain ketidak jelasan sektor yang menjadi lokomotif, menurut Nazamuddin, masalah-masalah
lain yang mendesak adalah tumpang tindihnya kewenangan antara pemerintah propinsi dengan
kabupaten dan banyaknya Perda yang tidak kondusif bagi iklim ekonomi. "Status darurat sipil
adalah kontributor utama ekonomi biaya tinggi di Aceh," tambahnya.

Masih menurut Nazamuddin, cetak biru yang ada masih bersifat rehabilitatif dan tidak
memiliki dimensi komprehensif yang jauh ke masa depan. "Pembangunan ekonomi Aceh harus
sejalan dengan proses rekonsiliasi dan akan bisa berkelanjutan jika masyarakat Aceh
sepenuhnya dilibatkan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi," jelasnya seraya
mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi Aceh juga harus betul-betul mengkombinasikan
pembangunan regional dengan pembangunan sumber daya manusia.

Di tempat terpisah, Ketua Aceh Recovery Forum, Humam Hamid, menegaskan bahwa pembahasan
cetak biru rekonstruksi Aceh secara menyeluruh adalah bagian dari sumbangsih masyarakat
Aceh untuk ikut mewujudkan masyarakat baru yang lebih aman, bermartabat, dan berakar pada
tradisi untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. "Masukan-masukan ini dimungkinkan
karena Menneg PPN/Kepala Bappenas sendiri telah menyatakan bahwa pembahasan cetak biru
masih akan berlanjut sampai Juli," tambahnya.

Untuk diketahui, kebijakan rekonstruksi ekonomi Aceh yang tercantum dalam blue print
dilaksanakan melalui beberapa strategi. Pertama, penyediaan lapangan kerja yang berkaitan
dengan rehabilitasi dan rekonstruksi. Kedua, pemulihan fasilitas pelayanan yang terkait
dengan perekonomian semisal pangkalan pendaratan ikan dan pusat penjualan. Ketiga,
pemulihan sarana perbankan melalui restrukturisasi aset dan identifikasi nasabah. Keempat,
bantuan khusus untuk pemulihan sarana produksi sebesar 3-15 juta untuk pengusaha mikro
perorangan dan kelompok. Kelima, pemberian bantuan sebesar 3-10 juta per kelompok
masyarakat untuk mengakses sumber daya produktif disertai penyediaan sistem insentif
kredit dalam bentuk perpanjangan waktu tenggang, kemudahan persyaratan kredit dan
peniadaan subsidi bunga.

Thoso Priharnowo-Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
   
Menteri Negara (Meneg) Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas, Kwik Kian Gie dalam rapat kerja dengan anggota  Komisi IX DPR di Gedung MPR/ DPR, Jakarta, Selasa, 11 November 2003. Dalam rapat Kwik meminta komisi IX mengambil inisiatif membuat RUU Bappenas. [TEMPO/ Santirta M; K19a/483/03; 20031111].
Kwik Kian Gie

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

BPK Kritik Laporan Dana Kemanusiaan Aceh
Pegawai Negeri Korban Tsunami Dapat Santunan
Unicef Sulit Memindahkan Anak-Anak ke Barak Pengungsi
Gujarat Bisa Jadi Contoh Pembangunan Rumah di Aceh
Desa di Nagan Raya Aceh Mulai Buat Peta Pemukiman
Pemerintah Berdayakan Masyarakat Dalam Rekonstruksi Aceh
Wapres Serahkan Rancangan Master Plan Rekonstruksi Aceh
Wapres Jusuf Kalla Gelar Rapat Tiga Bulan Pascatsunami
Panglima TNI Tutup Program Bakti Masyarakat
PBB: Kami di Aceh Sampai Pekerjaan Selesai
> selengkapnya...


Referensi

Pengungsi Palsu dan Konflik di Seputar Tenda
Sebulan Hanya Bengong dan Melamun
Kisah Sedih di Hari Minggu

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data