Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Koalisi LSM Minta Pemerintah Tinjau Strategi Pertahanan
Rabu, 30 Maret 2005 | 23:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah LSM dan pengamat militer yang tergabung dalam Koalisi untuk Keselamatan
Masyarakat Sipil mempertanyakan pernyataan KSAD, Letjen Joko Santoso, pada 22 Maret lalu
di depan Komisi Pertahanan DPR tentang rencana penambahan 22 markas komando teritorial
(koter). Dalam konperensi persnya di Jakarta, Rabu (30/3), mereka menuntut pemerintah
meninjau kembali strategi pertahanan.

Mereka yang tergabung dalam koalisi adalah, Rahlan Nasidik (Imparsial), Andi Wijayanto
(Fisip UI), Amirudin (ELSAM), Munarman (YLBHI), Usman Hamid (Kontras), Jaleswari
Pramudawardani (LIPI), dan Zumrotin (sebagai pribadi).

"Pembangunan Koter tidak merespon strategi pertahanan kita sebagai negara kepulauan.
Padahal harusnya, strategi berdasarkan kondisi geografis dimana sistem pertahanan laut
yang kuat, bukan darat," kata Jaleswari. Penambahan Koter tersebut, lanjut Dani, tidak
menjawab kelanjutan dari reformasi TNI yang telah digulirkan oleh TNI sendiri sejak 1998.
"(Harusnya) TNI mereformasi dirinya karena merespon perubahan dan dinamika lingkungan,"
kata Dani. Menurutnya jika penambahan Koter ini diteruskan artinya pemerintah tidak serius
mendorong reformasi TNI menjadi tentara yang profesional.

Mereka menolak pengembangan koter dan menuntut pemerintah segera melakukan review strategi
pertahanan, salah satunya mengkaji ulang keberadaan struktur teritorial dan mengganti
dengan konsep lain yang lebih efektif. "Postur pertahanan Indonesia harusnya lebih bertumpu
pada maritime based," kata Dani.

Menurutnya, kalau kemampuan pertahanan saat ini belum mencukupi kearah postur pertahanan
yang tertumpu pada maritime based, seharusnya langkah yang harus dilakukan adalah
melakukan efektifitas penggunaan anggaran dan bukan malah menambah koter yang justru
menimbulkan borosnya penggunaan anggaran.

Sedangkan untuk gelar pertahanan di darat, menurut Andy Wijayanto, sistem pertahanan
Indonesia seharusnya sudah berubah dari mengandalkan Perlawanan Rakyat Semesta (people wars)
bergeser ke Pertahanan Semesta (Total Defence). "Gelar pasukan juga berubah dari paralel
dengan administrasi struktur politik menjadi satuan-satuan tempur," kata Andy.

Andy menyarankan untuk 2005-2009 ini, Angkatan Darat mempertahankan dulu kondisi yang ada,
tanpa menambah Koter baru, dan perlahan-lahan mengedepankan apa yang TNI rencanakan untuk
membentuk satuan-satuan tempur menggantikan Koter, berupa Kodahan (Komando Daerah
Pertahanan). Sebab memang kata Andy, "Kalau sekarang TNI AD setuju Koter dibubarkan tapi
Kodahan belum siap maka pasukan (bekas Koter) akan ditempatkan dimana."

Sedangkan jika melanjutkan dengan menambah Koter-koter baru, maka bisa dibayangkan berapa
besar anggaran pertahanan akan dikeluarkan, bahkan bisa mencapai 30 samapi 35 persen dari
APBN. "Tidak ada presiden yang waras akan memberikan anggaran sebesar itu," ujarnya.

Selain itu, Koalisi menilai, alasan dan penilaian KSAD untuk melakukan penambahan Koter
telah melewati batas kewenangannya. Pernyataan KSAD seolah-olah menempatkan dirinya sebagai
Panglima TNI dan Menteri Pertahanan yang berhak melakukan evaluasi terhadap seluruh
kekuatan angkatan dan berhak merombak postur pertahanan. "Menhan hanya sekedar dijadikan
corong KSAD," kata Munarman.

Padahal seharusnya, kata dia, pemegang kebijakan bukan pada KSAD tetapi pada Menhan baik
secara normatif maupun dalam realitas politiknya. "Karenanya hal-hal yang sifatnya strategis
ini lebih baik digodog dulu secara politik dalam kapasitas sebagaimana diatur Undang-undang
yakni mengikutkan Pemerintah dan DPR," ungkapnya.

Agus Supriyanto-Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Tempat tinggal (rumah) Achmad Kandang yang dibakar oleh prajurit TNI di Kampung Kandang, Lhokseumawe, Aceh, 1999. [ TEMPO /Setiyardi; 33D/261/1999; 20020729 ] Seorang pemuda yang diduga pengikut Achmad Kandang (tokoh GAM) ditangkap oleh prajrit TNI AD di Kampung Kandang, Aceh, 1999. [TEMPO/ Setiyardi; 33D/261/1999; 20020729]
Rumah Achmad Kandang
Anggota GAM
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

LSM Pertanyakan Penambahan Komando Teritorial
Tak Ada Kodam di Provinsi Irian Jaya Barat
Dua Dirjen Bantah Pernyataan Menteri Juwono Sudarsono
Panglima TNI Tutup Program Bakti Masyarakat
Sekjen Dephan Bantah Langgar Perintah Menhan Soal Pengadaan Mobil Dinas
Menjawab Gugatan AM Fatwa, Teten Masduki Ajak Selidiki Suap
Pejabat Departemen Pertahana Minta Mobil Baru
Angota DPR Ajukan Hak Angket Soal Tanker Pertamina
Mendagri Diminta Berperan dalam Rekonstruksi Aceh
Anggota DPR yang Mogok Makan Dilarikan ke Rumah Sakit
> selengkapnya...


Referensi

Pembahasan Penonaktifan Akbar Tanjung di DPR
Sejarah TNI AU
Kekuatan TNI AL
Spesifikasi F-16
Profil Endriartono Sutarto
Kepres RI No. 97 Thn.2003 Tentang Pernyataan Perpanjangan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Kepres RI No. 71 Thn.2003 Tentang Penghapusan Keadaan Darurat Sipil Di Provinsi Maluku
Kepres RI No. 28 Thn.2003 Tentang Pernyataan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
ARMADA
Tumpang tindih lahan minyak
IMBANG?
> selengkapnya...

Website

TNI
TNI Angkatan Darat
TNI Angkatan Udara
TNI Angkatan Laut
Departemen Pertahanan
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data