|
Nasional
Padamnya Listrik Menjadi Kendala Utama
Rabu, 30 Maret 2005 | 18:03 WIB
TEMPO Interaktif, Medan: Padamnya listrik di beberapa lokasi bencana gempa Pulau Nias menjadi kendala utama
penanganan evakuasi korban. "Akibat listrik padam, hubungan Posko dengan lokasi bencana
terhambat," kata Wakil Ketua Posko Bantuan yang juga Pangkosek III TNI AU, Marsekal I R.
Abiadi Hasan, dalam konferensi pers di Lanut TNI AU Polonia Medan, Rabu (30/3).
Menurutnya, hubungan hanya bisa dilakukan dari lokasi bencana ke Posko. "Berulang kali
Gubernur Sumatera Utara menghubungi saya, yang dilakukan melalui telepon satelit," katanya.
Abiadi menjelaskan walaupun Telkom telah menyediakan dua layanan saluran telepon untuk
penanganan bencana, Abiadi mengaku sangat sulit menggunakannya karena linenya sering
sibuk. Akibat komunikasi terputus, Posko juga kesulitan mengetahui apakah kiriman logistik
sudah sampai ke masyarakat Nias atau belum.
Selain itu, posko juga kesulitan mengetahui berapa kebutuhan logistik dan obat-obatan dan
sampai kapan logistik dan obat-obatan yang tersedia di lokasi bencana mencukupi kebutuhan
korban.
Selain itu, akibat padamnya listrik beberapa rumah sakit di Nias dan daerah lokasi bencana
tidak bisa melakukan operasi untuk menangani korban. Akibatnya sebagian korban yang luka
parah memerlukan penanganan serius dikirim ke luar Nias seperti ke Rumah Sakit F. Lumban
Tobing, Sibolga, Rumah Sakit Umum Padang Sidempuan, dan beberapa rumah sakit di Medan.
Namun demikian, pihak Posko telah mengirim bebarapa tim dokter ke lokasi bencana seperti
dokter umum, dokter ahli bedah dan anastesi. Untuk mengatasi padamnya listrik, pihak Posko
mengirimkan delapan genset yang baru dilakukan pada pagi hari ini dengan menggunakan jalur
udara ke lokasi bencana lima di Sibolga dan tiga ke Nias.
Selain padamnya listrik, kendala utama adalah jalur transportasi darat di lokasi bencana.
Banyak jembatan dan jalan putus di Nias Selatan dan Nias Utara. Contohnya, jalur yang
menghubungkan Bandara Binaka dengan Kota Gunung Sitoli putus total sepanjang tujuh
kilometer. "Akibatnya distribusi medis dan logistik dari Bandara ke lokasi bencana
mengalami kesulitan," katanya.
Sampai saat ini, juga pihak Posko belum bisa memastikan berapa jumlah korban akibat
terhambatnya jalur komunikasi. Namun menurut informasi yang diterima Tempo, jumlah korban
jiwa yang telah dievakuasi bertambah 300 orang menjadi 500 orang.
Hambali/Bambang Soed-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|