|
Nasional
TNI AL Kirim Empat KRI dan 120 Prajurit ke Nias.
Rabu, 30 Maret 2005 | 04:41 WIB
TEMPO Interaktif, Medan: Komandan Lantamal I Belawan, Brigadir Jenderal
Halim mengatakan pihak TNI AL telah mengirimkan empat
buah kapal KRI miliknya dan sebuah Kapal Angkatan Laut
(KAL) menuju pelabuhan Nias membantu penanganan korban
Gempa. Masing-masing kapal tersebut adalah Kapal
Republik Indonesia (KRI) Teluk Bayur, KRI Cut Nyak
Dhien, KRI Kendari, KRI Teluk Paringgi dan KAL 28
Mansalar.
Menurut Brigjend Halim usai menemai kunjungan Gubernur
Sumut, T. Rizal Nurdin ke lokasi bencana, Selasa (29/3) malam
mengatakan pihak TNI AU sampai saat ini telah mengirimkan 120 personil dari
berbagai kesatuan di TNI AU.
Menurut Halim, keseluruhan kapal yang dikirim
berasal dari daerah berbeda. KRI Cut Nyak Dhien
berangkat dari Padang dengan membawa bantuan makanan
dan relawan serta 10 orang personil TNI AU yang telah
diberangkat jam 11.00 "Diperkirakan esok sudah
sampai di Nias," ujarnya.
Sementara itu dari Meulaboh diberangkatkan juga 3 KRI yang membawa bantuan dan
pasukan dari TNI AD yang baru saja selesai
melaksanakan tugas AMD di Aceh Darusalam. Ketiga KRI
tersebut adalah KRI Teluk Paringgi, KRI teluk bayur
dan KRI Kendari. "Besok pagi udah tiba di
Pelabuhan Gunung Sitoli," kata Halim.
Sementara dari pelabuhan ke kabupaten Nias, Pelabuhan
Sibolga telah diberangkatkan KAL 28 Mansalar pada
Selasa jam 11.00 yang mengangkut 22 orang tenaga
medis dari Korem Sibolga dan bantuan makanan darurat.
“ kurang lebih 5 jam telah sampai di Gunung
Sitoli “ ucapnya.
Mengenai Bandara Binaka Nias, menurut Halim tidak
mengalami masalah untuk didarati pesawat. Buktinya
menurut Halim pihak TNI Al telah mendaratkan 2
pesawatnya yakni 2 jenis pesawat Cassa dan satu jenis
Nomed. Hal ini tentunya membantah informasi yang
menyatakan bandara di Nias tidak bisa didarati pesawat
karena kerusakan landasan. Menurut seorang pilot TNI
AU yang tidak mau disebut namanya mengatakan bandara
tersebut bisa didarati karena kerusakan tidak terlalu
fatal.
Hal senada juga disampaikan oleh Brigadir jenderal
Halim. Menurutnya bandara di Nias dadapt didarati.
Namun jalan menuju Gunung Sitoli dari bandara
mengalami putus sepanjang 7 km. "Sehingga
harus menggunakan helikopter bila ingin menuju Gunung
Sitoli," ujar Halim. Hal ini juga dilakukan
ketika ingin mengedrop bantuan obat-obatan dan medis
dari Bandara Nias ke Gunung Sitoli dengan menggunakan
helikopter puma.
Hambali Batubara/Bambang Soed-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|