Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Herman Bahar : Orientasi Kebijakan Pariwisata Cuma Bisnis
Senin, 28 Maret 2005 | 05:07 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Hasil seminar ahli soal pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Jumat dua pekan lalu telah diserahkan ke Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Watjik. Para ahli dari multi disipliner menganggap UU No. 9 tahun 1990, tentang Pariwisata harus segera direvisi. Apalagi jika dikaitkan dengan keberadaan UU. No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan kepentingan stakeholder (swasta, pemerintah dan masyarakat).

Kebijakan pariwisata, menurut Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB), Doktor Herman Bahar, 52 tahun, cuma berorientasi pada bisnis semata. Akibatnya, kebijakan dan instrumen kebijakan (pusat dan daerah) yang ada, belum dapat dijadikan pijakan operasional pembangunan pariwisata nasional dan daerah.

Bisnis oriented di bidang pariwisata mengakibatkan kesenjangan rumusan sistem kepariwisataan. Karena lemahnya policy research di bidang itu. Herman dan para pakar berbagai bidang dalam seminar itu berharap pemerintah mewujudkan pembangunan pariwisata daerah yang berbasis small-medium scale development (appropriate tourism). Untuk itu perlu menetapkan strategi pengembangan pariwisata nasional yang berbasis riset dan informasi terpadu yang berkelayakan.

Kelemahan dibidang kebijakan yang berbasis riset mengakibatkan perkembangan pariwisata terhambat. Belum lagi tumpang tindih dan saling berebut lahan antar instansi, maupun antara pusat dan daerah. Akibatnya, investasi para penanam modal di bidang pariwisata juga tak sesuai dengan sumber daya (alam, materi dan manusia) pariwisata di Indonesia. Tak heran jika perkembangan pariwisata, justru berkembang mengarah yang terlarang, misalnya ; Judi, wisata seks dan obat-obat terlarang.

Di Kota Bandung saja, misalnya disinyalir ada 400 titik tempat perjudian. Apalagi di jakarta dimana aparat penegak hukum justru menjadi beking kegiatan yang selama ini masih dinyatakan terlarang baik oleh hukum maupun agama yang sebagian besar dianut oleh masyarakat di negeri ini. Lalu di beberapa tempat di Indonesia menjadi surga bagi wisatawan penggemar seks, pedofilia maupun obat-obatan terlarang.

Karena banyak tarikan dari berbagai instansi yang berebut lahan pariwisata, dan tumpang tindih, usaha pariwisata cuma jadi sapi perahan. Sementara pengembangannya diabaikan. Padahal, seharusnya, pariwisata bukan cuma obyek di dalam negeri, tapi bisa merebut lahan yang ada di luar negeri.

Persiapan sumber daya manusia pariwisata yang sesuai standar internasional, misalnya, bisa mengembangkan ke-pariwisata-an dalam negeri dengan merebut banyak tempat juga di luar negeri. Bukan cuma menjadi lahan keuntungan orang luar dari usahanya di Indonesia. Tanpa memberi benefit yang lebih bagi negeri ini.

Karena itu dibutuhkan sinergi untuk menyatukan semua kekuatan untuk pengembangan pariwisata. Tak cukup Pariwisata di bawah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saja. Sebaiknya dibentuk sebuah lembaga semacam Indonesian Tourism Board, yang langsung bertanggung jawab ke Presiden, sehingga bisa lebih mudah bergerak (fleksibel). Di beberapa negara yang pariwisata-nya maju, lembaga pariwisata langsung berada dan bertanggung jawab pada pimpinan pemerintahannya.

Para pakar di bidang hukum, kebudayaan, sosial dan pariwisata terus memantau hasil seminar itu, dan akan membahasnya secara reguler. Diharapkan Menteri Jero Watjik, juga membahas masukan dari para ahli itu untuk perkembangan pariwisata yang dibidanginya.

Ahmad Taufik

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Anak-anak bermain perahu angsa di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Rini PWI; 03d/252/91; 20001202].<br> 
Dimuat majalah TEMPO 20001210-036, 20020915-072 Sepasang turis asing meneropong di pantai Nusa Dua, Bali, 1993. [TEMPO/ Rully Kesuma; 14D/473/1993; 20021002].
Taman Impian Jaya Ancol
Pantai Nusa Dua
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Hotel Mulia Dilaporkan Konsumennya
Herman Bahar : Pariwisata Cuma Anak Tiri
Pemerintah Targetkan Jumlah Wisatawan Meningkat
Rinjani Finalis TTA 2005
Yogyakarta Bina 35 Desa Budaya
Wisatawan Beralih dari Thailand ke Lombok
Sultan Minta Warga Yogya Tidak Dekati Laut
Pasca-tsunami, Tingkat Hunian Hotel di Daerah Pantai Tinggal 25 Persen
Tingkat Hunian Hotel di Puncak Turun 30 Persen
Pencalonan Yusuf Kalla Disesalkan Sejumlah Kalangan
> selengkapnya...


Website

PT Garuda Indonesia
Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI)


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Yenny Wahid Bantah Klaim Yusril Didukung Gus Dur
Olimpiade Paralimpik Dibuka dengan Meriah
Christopher Terhenti di Final AS Terbuka
Marcos Senna, Terbaik La Liga Musim 2007/08
Mencontreng atau Mencoblos Ditentukan September Ini

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data