Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

PDIP Pembaruan Usulkan Presidium Ketua Umum
Kamis, 24 Maret 2005 | 05:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kelompok Pembaruan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menawarkan ketua umum berbentuk presidium yang beranggotakan tiga atau lima orang. Gagasan ini akan diperjuangkan dalam pembahasan perubahan anggaran dasar/rumah tangga PDIP. "Jika memang sudah ada figur yang tepat, baru jabatan ketua umum diberikan kepada figur itu," kata tokoh gerakan pembaruan, yang mantan Ketua PDIP, Sukowaluyo Mintorahardjo, di Jakarta, Rabu (23/3).
Kelompok pembaruan ini mengusung nama Roy B.B. Janis, Sophan Sophiaan, Guruh Sukarno Putra, Laksamana Sukardi, dan Arifin Panigoro menjadi calon presidium. Pembaruan mengusulkan ketua umum berbentuk presidium karena belum ada sosok yang bisa menggantikan figur Megawati Soekarnoputri. Sementara itu, nama Megawati sebenarnya sudah tidak laku dijual. "Megawati tak laku lagi. Meskipun kami sudah bekerja keras Mega tetap bisa dijual," kata dia.
Masing-masing calon anggota presidium itu dipilih, kata Sukowaluyo, karena mereka memiliki berbagai kelebihan, meski dengan kekurangannya. Guruh Sukarno Putra memperoleh dukungan karena keluarga Soekarno. Laksamana karena alasan ketenaran dan kedekatan dengan Megawati dan Taufiq Kiemas. Begitu pula calon lainnya.
Menurut Suko, PDIP harus membuat gebrakan perubahan apabila tak mau kalah lagi dalam Pemilu 2009. Menurut dia, upaya "menjual" Megawati pernah dilakukan PDIP dua kali dan gagal, yaitu dalam pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun lalu. Saat itu hampir semua kader PDIP telah mati-matian memberikan dukungan dengan segala bentuknya. Hasilnya, kata Sukowaluyo, komitmen itu tetap saja menemui jalan buntu. PDIP kalah dan Megawati tak berhasil menduduki kursi presiden. "Dia tak pernah menang dalam pemilihan," ujar Suko.
Maka majunya Mega dalam kongres mendatang, menurut Suko, akan menguntungkan pesaing PDIP. "Dia telah teruji dan terbukti... (tidak menang dalam pemilihan noninternal PDIP)," dia melanjutkan.
Di Kongres II PDIP Bali pekan depan, Sukowaluyo memperkirakan akan ada dua front besar antara kelompok pendukung status quo dan kelompok pembaruan. Pertempuran akan berada di ladang utusan, sistem, dan institusi, serta media.
Dari sisi dukungan dari utusan, seperti diberitakan Koran Tempo kemarin, Laksamana mengaku memperoleh dukungan 800 utusan kongres atau hampir separuh utusan.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung mengaku tak tahu dari mana usulan presidium itu akan masuk. Anggaran Dasar/Rumah Tangga PDIP sebelumnya tak mengenal presidium. Begitu pula rancangan anggaran dasar dan rumah tangga yang telah diserahkan ke daerah. "Ide sih, boleh saja," ujarnya.
Pramono menyatakan, kongres akan membahas perubahan istilah-istilah dalam struktur kepengurusan partai seperti nama dewan pengurus pusat menjadi pengurus nasional, dewan pengurus daerah menjadi pengurus provinsi, dan pengurus cabang menjadi pengurus kabupaten/kota.
Kongres juga akan membahas masalah tata cara pemilihan, bentuk formatur, dan kewenangan khusus ketua umum. Tata cara pemilihan, kata Pramono, sudah pasti akan ditentukan utusan pengurus cabang. Formatur, kata dia, ada dua ide besar yang muncul: formatur tunggal atau jamak. "Sementara itu, soal kewenangan khusus ketua umum wilayahnya lebih sempit barangkali," kata dia.
Tokoh pendukung pembaruan PDIP Laksamana Sukardi mengatakan, pihaknya tetap mengusung gagasan menolak calon tunggal, hak prerogatif, dan formatur tunggal. Hak prerogatif dan formatur tunggal hanya akan memberi kesempatan orang-orang baru masuk dalam kepengurusan pusat. "Padahal AD/ART mensyaratkan lima tahun," ujarnya.
Untuk menggolkan ide pembaruan, Laksamana dan kawan-kawan berupaya mempengaruhi utusan independen dari cabang. Di setiap cabang, kata Laksamana, ada dua dari empat utusan yang bukan pengurus. Dengan penjelasan ide pembaruan, ia berharap regenerasi bisa berjalan sesuai dengan keinginan kader-kader PDIP. "Hak prerogatif ini akan menghambat regenerasi," kata dia.

Purwanto-Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Cap jempol darah dan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap Megawati oleh pendukung Megawati di jl. Agus Salim, Jakarta tahun 1999 [Tempo/ Rini PWI; 29d/377/99; 2000/05/16]. Pawai kampanye pendukung PDI Perjuangan dengan mobil dan bendera koalisi PDI P, PAN, PPP di sekitar Pancoran , Jakarta tahun 1999  [Tempo/ Rully Kesuma; 27d/155/99; 2000/05/16].
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pembela Megawati Anggap Gugatan TPDI Tidak Relevan
TPDI Daftarkan Gugatan Terhadap Mega
Anggota DPR yang Mogok Makan Dilarikan ke Rumah Sakit
DPW PDIP Sumsel Jamin Tidak Tergoda Suap
TPDI Gugat Megawati
Gerakan Pembaruan PDIP Didukung 800 Utusan Cabang
AM Fatwa Laporkan ICW
Anggota DPR Jacobus Mayongpadang Mogok Makan
Otak Pembunuh Caleg PDIP Dituntut Seumur Hidup
PAN Tak Takut Koalisinya dengan PPP Bubar
> selengkapnya...


Referensi

Kisah Para Penantang yang Terpental
Guruh Sukarno Putra: Saya Bukan Antek Siapa pun
Menanti Guruh Menantang Mega
PP RI No. 51 Tahun 2001 Tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
> selengkapnya...

Website

Megawati Sukarnoputri


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [5]


Berita Terakhir

Yenny Wahid Bantah Klaim Yusril Didukung Gus Dur
Olimpiade Paralimpik Dibuka dengan Meriah
Christopher Terhenti di Final AS Terbuka
Marcos Senna, Terbaik La Liga Musim 2007/08
Mencontreng atau Mencoblos Ditentukan September Ini

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data