Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Meilono: Sophaan Tak kalah Dengan Anak Sukarno
Senin, 14 Maret 2005 | 17:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Meilono Suwondo, salah satu pendiri PDI Perjuangan, menyatakan mendukung Sophan Sophiaan sebagai calon ketua umum dalam Kongres II di Bali, 28 Maret – 3 April. "Ketokohan dan nasionalismenya Pak Sophan sangat baik," katanya di Jakarta, Senin (14/3).

Menurut dia, ketokohan bekas Ketua Fraksi PDIP di MPR itu tak kalah dengan anak Sukarno. "Dia (Sophan) kan anaknya Pak Manai Sophiaan, bekas Sekretaris Jenderal Partai Nasional Indonesia.” PNI adalah partai terbesar yang berfusi dengan beberapa partai menjadi PDI --- cikal bakal PDIP.

Memang belum ada calon resmi sebelum kongres berlangsung, kata dia. Tapi, nama Sophan dan Megawati Soekarnoputri mulai beredar akan bersaing dalam kongres.

Meilono merahasiakan aksi yang dilakukan untuk meng-gol-kan jagonya. Yang pasti, ia melanjutkan, salah satu caranya adalah dengan mendekati peserta kongres agar mendukung Sophan.

Sabtu (12/3), sejumlah pendiri PDIP menggelar konferensi pers untuk mendesak agar kongres berlangsung demokratis. Mereka pun menolak calon tunggal ketua umum, hak prerogatif ketua umum, dan formatur tunggal untuk menentukan pengurus pusat.

Tapi, para pendiri belum menentukan satu calon, selain Mega, untuk didukung. Meilono adalah salah satu pernyataan sikap sebagai pendiri PDIP.

Menurut Meilono, tak masalah calon tunggal jika itu keinginan peserta kongres. Yang menjadi persoalan jika terjadi rekayasa agar calonnya hanya satu.

Ia menilai, Mega cukup sebagai pendobrak dan pernah menjadi ketua umum, wakil presiden, dan presiden. Masih banyak kader muda di PDIP yang jauh lebih baik. Mega sangat cocok aktif di dewan pertimbangan pusat partai.

Mega juga dinilai bertanggungjawab atas kerusakan partai karena tak menggunakan kekuasaannya dengan baik. Karena itu, Meilono tak ingin putri Sukarno itu memimpin PDIP lagi.

tri susanti simangunsong--tnr


Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Cap jempol darah dan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap Megawati oleh pendukung Megawati di jl. Agus Salim, Jakarta tahun 1999 [Tempo/ Rini PWI; 29d/377/99; 2000/05/16]. Pawai kampanye pendukung PDI Perjuangan dengan mobil dan bendera koalisi PDI P, PAN, PPP di sekitar Pancoran , Jakarta tahun 1999  [Tempo/ Rully Kesuma; 27d/155/99; 2000/05/16].
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PDIP Jawa Timur Pecah Soal Calon Ketua Umum
Pengusung Wacana Deadlock Dinilai Tak Ingin PDIP Besar
Sejumlah Pendiri PDIP Menolak Calon Tunggal Ketua Umum
Pramono Minta Penentuan Formatur Tunggal dan Hak Prerogatif Ketua Diserahkan kepada Kongres
Kwik Tak Mau Jadi Pengurus Jika Mega dan Gang of Three Terpilih Lagi
Tokoh Senior PDIP Tetap Tolak Formatur Tunggal
Parpol Setor Nama Calon Wali Kota Surabaya
Calon Bupati Biayai Konvensi PDIP Sukoharjo Rp 37 Juta
Dukungan untuk Mega Tak Perlu Cap Jempol Darah
Biaya Pendaftaran Bakal Calon Walikota dan Wakil untuk PDIP, Rp 10 Juta
> selengkapnya...


Referensi

Kisah Para Penantang yang Terpental
Guruh Sukarno Putra: Saya Bukan Antek Siapa pun
Menanti Guruh Menantang Mega

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data