Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Sejumlah Pendiri PDIP Menolak Calon Tunggal Ketua Umum
Sabtu, 12 Maret 2005 | 18:51 WIB

TEMPO Interaktif, Sejumlah pendiri PDI Perjuangan menolak calon tunggal ketua umum dalam Kongres II di Bali, 28 Maret – 3 April. Abdul Madjid, salah satu pendiri, mengungkapkannya dalam konferensi pers di di gedung Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat PDIP, Jakarta, Sabtu (12/3).

Menurut dia, PDIP harus konsekuen dengan nama yang disandangnya. Ia menilai tak demokratis jika dalam kongres nanti hanya ada satu calon. "Kongres juga harus bottom up tidak boleh top down.” Hadir dalam acara itu sejumlah pendiri dan tokoh senior PDIP lainnya antara lain, Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi.

Agar tidak menyulitkan kader lain yang ingin maju, Madjid melanjutkan, syarat calon ketua umum jangan terlalu berat. “Jangan sampai ada syarat, yang belum pernah menjadi ketua umum, tidak boleh menjadi calon,” katanya sambil terkekeh.

Tapi ia berkelit ketika ditanya apakah ini cara para pendiri menolak Megawati Soekarnoputri memimpin kembali PDIP. “Mau yang terpilih Ibu Mega atau Pak Kwik, pendiri tidak masalah. Asal caranya demokratis.” Ia mengatakan, dukungan pendiri terhadap calon ketua umum belum bisa ditentukan sekarang.

Kwik sependapat dengan Madjid. Menurut Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat PDIP ini, di mata pendiri belum ada calon yang pantas untuk didukung.

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung Wibowo enggan berkomentar banyak ketika diminta tanggapannya. Orang dekat Mega ini hanya mengatakan, semuanya diserahkan kepada peserta kongres, sebagai pemegang kedaulatan tertinggi partai. "Mau satu calon atau dua calon, yang bisa menentukan itu kongres,” katanya.

tri susanti--tnr
color=#666666>Jakarta
:

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Cap jempol darah dan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap Megawati oleh pendukung Megawati di jl. Agus Salim, Jakarta tahun 1999 [Tempo/ Rini PWI; 29d/377/99; 2000/05/16]. Pawai kampanye pendukung PDI Perjuangan dengan mobil dan bendera koalisi PDI P, PAN, PPP di sekitar Pancoran , Jakarta tahun 1999  [Tempo/ Rully Kesuma; 27d/155/99; 2000/05/16].
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pramono Minta Penentuan Formatur Tunggal dan Hak Prerogatif Ketua Diserahkan kepada Kongres
Kwik Tak Mau Jadi Pengurus Jika Mega dan Gang of Three Terpilih Lagi
Tokoh Senior PDIP Tetap Tolak Formatur Tunggal
Parpol Setor Nama Calon Wali Kota Surabaya
Calon Bupati Biayai Konvensi PDIP Sukoharjo Rp 37 Juta
Gerakan Pembaruan Akan Bentuk Kelompok REVISI
Gerakan Pembaruan PDIP Siap Dideklarasikan di Bali
Dukungan untuk Mega Tak Perlu Cap Jempol Darah
Biaya Pendaftaran Bakal Calon Walikota dan Wakil untuk PDIP, Rp 10 Juta
Pendukung Megawati Bubuhkan Cap Jempol Darah
> selengkapnya...


Referensi

Kisah Para Penantang yang Terpental
Guruh Sukarno Putra: Saya Bukan Antek Siapa pun
Menanti Guruh Menantang Mega

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data