|
Nasional
Agar Asap Dapur Tetap Mengepul
Sabtu, 12 Maret 2005 | 12:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Seorang perempuan muda bersandal jepit dan berdaster belel yang sedang hamil tua mendatangi ruang kerja Permadi di gedung DPR. Sambil memelas, perempuan itu mengatakan tidak punya uang untuk biaya persalinan. Dengan terus terang dia minta anggota parlemen dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengulurkan bantuan. "Apa yang Anda lakukan menghadapi situasi begitu?" katanya. Tak ada cara memang selain merogoh isi kantong.
Mengulurkan bantuan buat tamu tak dikenal bukan hal asing bagi anggota Dewan. Setiap hari ada saja tamu datang meminta bantuan dengan berbagai alasan. Ada yang diberi dan ada pula yang tidak. Akibatnya, gaji bulanan para wakil rakyat ini ikut tersedot. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan iuran wajib bagi fraksi dan partai serta merawat konstituen di daerah pemilihannya. Permadi harus "merawat" Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Bojonegoro, Gresik, Lamongan, dan Tuban di Jawa Timur. Sebab, dari daerah inilah dia mendulang suara untuk menjadi wakil rakyat.
Gaji sebagai anggota DPR yang dibawa pulang ke rumah sekitar 20-30 persen dari total upahnya yang Rp 16 juta. Sisa gaji tadi memang masih cukup untuk hidup. Apalagi Permadi termasuk anggota Dewan yang kreatif menjala rupiah. Dia punya hobi melukis. Hasil coretan kuasnya bisa menghasilkan Rp 10 juta per bulan.
Permadi juga beruntung punya anak-anak yang mengerti kebutuhan bapaknya. Dari empat anaknya, tiga orang sudah bekerja. Seorang lagi masih kuliah di sebuah perguruan tinggi. "Kadang malah anak saya yang membantu saya," kata lelaki pengagum Bung Karno ini. Tentu saja Permadi tak begitu kerepotan mengepulkan asap dapurnya. Apalagi istrinya punya usaha sampingan jual-beli rumah.
Ihwal pendamping hidup yang ikut menopang hidup anggota Dewan juga dialami Untung Wahono. Istri Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini, I'im Nurochimah, juga punya penghasilan tambahan. Sebagai Ketua Yayasan Yasmina Bogor, I'im punya penghasilan sekitar Rp 2,5-4 juta per bulan. Keluarga ini juga pernah memiliki usaha percetakan. "Tapi sekarang sudah jarang beroperasi," kata Untung.
Wakil rakyat dari Bogor, Jawa Barat, ini punya tambahan lain di luar gaji bulanan. Dia tercatat sebagai dosen di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Belakangan Untung makin produktif menulis kolom di majalah Islam Suara Hidayatullah. Agar hidup lebih hemat, bapak lima anak ini tak jarang naik bus dari Bogor menuju gedung MPR/DPR di Jakarta. Untung memilih tetap di Bogor dengan alasan sekolah anak-anak.
Berbagai kiat tadi membuat asap dapur tetap mengepul dan pundi-pundi di rekening tetap terisi. Namun, tak semua anggota Dewan merasakan hal serupa. Anggota DPR asal PAN, Jumanhuri, justru merasakan hal sebaliknya. Menabung di bank hanya sesekali dilakukan. Belakangan dia mengaku rajin menomboki keuangannya yang terus cekak. Sebulan dia cuma menerima Rp 5 juta setelah potongan ini dan itu. Padahal, saat menjadi guru di sebuah SMA di Banjarmasin, dia mengaku rajin menabung.
Meski begitu, Jumanhuri tak kebelet gajinya sebagai anggota Dewan segera dinaikkan. Dia setuju kenaikan gaji meski harus ditunda. "Kita lihat kondisi masyarakat, perekonomian carut-marut. Tak etis menaikkan gaji sekarang," katanya. Kini dia harus berhemat agar kantongnya tak terus bolong.
Kondisi ini tentu berbeda dengan anggota Dewan yang punya usaha lumayan besar seperti Abdillah Thoha, Alvin Lie, Setya Novanto, dan sederet pengusaha yang kini duduk di Senayan. Urusan mengepulkan asap dapur tentu tak jadi soal. Apalagi jika ditambah warisan keluarga yang bisa menghidupi anak-cucu secara turun temurun.
Yanto/Yudha-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Sidang paripurna DPR membahas Memorandum II untuk Presiden Abdurrahman Wahid dengan fraksi PDI Perjuangan mengikuti sidang di Gedung MPR/ DPR, Jakarta, 30 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010515].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20010916-004, 20021013-048](/hg/photostock/2005/01/26/s_BC01043071_high_thumb.jpg) |
![Sidang paripurna DPR membahas Memorandum II untuk Presiden Abdurrahman Wahid dengan anggota dewan yang melakukan interupsi di Gedung MPR/ DPR, Jakarta, 30 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010515].](/hg/photostock/2005/01/26/s_BC01043062_high_thumb.jpg) |
| Sidang Paripurna Pembahasan Memorandum II
|
|
| Sidang Paripurna Pembahasan Memorandum II
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|