|
Nasional
Ibu Bayi di Pengungsian Kurang Gizi
Rabu, 09 Maret 2005 | 01:28 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Sebulan lalu, Fitria (23), melahirkan bayinya. Setelah dua hari dirawat di RS Umum Dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, ibu muda ini diperkenankan kembali ke rumahnya. Karena rumah itu sudah lantak dihantam gelombang tsunami, Fitria bersama bayi merahnya, kembali ke kamp pengungsian di Stasiun TVRI Mata Ie, Aceh Besar. Di bawah tenda darurat inilah, sebelumnya sang ibu telah menunggu kelahiran jabang bayi. Dan kini bersama bayinya itu, Fitria melewati hari demi harinya di pengungsian.
"Tiap hari saya makan Indomie," kenang Fitria kepada Tempo, Selasa (8/3), maklumlah hidup di pengungsian yang serba darurat. Jadilah Fitria kurang mengonsumsi protein, sayuran, apalagi buah-buahan. "Saya kurang mendapat vitamin dan susu," kata Fitria. Akibat konsumsi yang tak sesuai dengan angka kebutuhan gizi ibu sesudah melahirkan ini, Fitria sering merasa lelah. "Flu dan pilek jadi langganan," katanya lagi. Eh, akibat minus gizi itu, air susunya juga sering ikut-ikutan mogok, tak mau lancar keluar.
Tapi, "syukurlah, bayi kami selalu mendapat makanan cukup, dikasih susu dan bubur bayi," kata Nurhadisah (27), sesama pengungsi di Mata Ie asal Desa Rima, Peukan Bada, Aceh Besar. "Dulu saya sering minum jamu dan susu, tapi sekarang tidak ada bantuan itu, kami makan apa yang ada, sekarang saya sering sakit-sakitan," ujar Nur yang 43 hari lalu melahirkan anaknya yang ke-4 ini benar-benar merasakan suasana yang berbeda, jika dibandingkan dengan ketika melahirkan tiga anaknya terdahulu.
Selain soal asupan gizi yang kurang buat ibu bayi, kepada Tempo, para pengungsi yang memiliki bayi mengeluhkan kurangnya perlengkapan untuk bayi. Kasur bayi, kain flanel pembungkus bayi, baju, celana, popok hingga selimut, tersedia dalam jumlah tidak memadai. Seorang ibu bahkan mengaku hanya memiliki selembar kain flanel, serta sepasang baju dan celana bagi bayinya yang berumur satu bulan. Sedang Fitria dan Nur mengatasinya dengan memakai pakaian layak pakai dari aneka sumbangan yang datang, biarpun bukan pakaian bayi.
Para ibu ini berharap agar pemerintah lebih memperhatikan kaum ibu yang memiliki bayi, tentu bersama bayinya, secara lebih spesifik. Tidak disamakan perlakuannya dengan pengungsi biasa yang tak memiliki bayi. "Agar bisa merawat bayi dengan baik," kata Fitria. Mereka juga berharap agar pemerintah cepat-cepat membangun kembali rumah mereka di desa asal. Karena merawat bayi di tenda pengungsian teramat beresiko, "disini sangat panas, bayi saya kerap sakit dan menangis," kata Fitria.
Adi Warsidi (Banda Aceh)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|