|
Nasional
Presiden: Indonesia Prioritaskan Perundingan Damai Dengan Malaysia
Selasa, 08 Maret 2005 | 22:28 WIB
TEMPO Interaktif, Sebatik: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah akan mengutamakan dan memprioritaskan perundingan secara damai dengan pemerintah Malaysia dalam menyelesaikan
sengketa perbatasan kedua negara di daerah perairan Blok Ambalat. Hal ini dikatakan
Presiden dalam keterangan pers disela-sela kunjungannya ke Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik,
Kalimantan Timur, Selasa (8/3).
Presiden menandaskan hubungan bilateral kedua negara juga tidak mengalami perubahan yang
drastis. "Jangan Saudara menggambarkan hubungan (RI-Malaysia) memburuk dalam waktu yang
relatif dekat," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah akan tetap memelihara hubungan bilateral Indonesia-Malaysia sebaik-
baiknya. "Dengan harapan dipihak Malaysia juga demikian," ujarnya. Saat ini, kata dia, RI
dan Malaysia dalam keadaan bersahabat dan bertetangga dan bukan dalam suasana konfrontasi
serta bermusuhan. "Karena itu, harapan saya adalah penyelesaiannya menggunakan langkah-
langkah perundingan yang kita rencanakan," kata dia.
Sesungguhnya, kata dia, pembicaraan menyangkut batas wilayah itu tidak hanya dengan
Malaysia tapi dengan beberapa negara sesama anggota ASEAN. Oleh sebab itu, di samping
perundingan dengan Malaysia, Indonesia juga akan menenmpuh perundingan dengan negara-negara
ASEAN lain. "Contohnya, di wilayah ini saja, Sebati, ada wilayah Filipina, Indonesia, dan
Malaysia," katanya.
Perundingan dengan negara-negara itu, kata Presiden, tentu dengan semangat untuk mendapat
kejelasan soal garis batas. Menurut Presiden, tidak sedkit substansi yang akan dibicarakan
dalam perundingan dengan Malaysia yang akan dilakukan Menlu kedua negara pada hari ini
(Rabu dan Kamis). "Kita akan rumuskan dengan tepat dan diagendaan dalam perundingan, yang
jelas kedaulatan negara dan wilayah nasional harus ditegakkan. Itu suatu hal yang pasti
dan prinsip kepentingan nasional Indonesia," ujarnya.
Presiden mengemukakan, telah berkomunikasi melalui telepon dengan PM Malaysia Badawi,
Senin, keduanya bersepakat untuk membawa permasalahan ini dengan mengedepankan langkah-
langkah diplomasi. "Dan sesama anggota ASEAN, negara bertetangga yang punya hubungan baik
di waktu lalu, lebih tepat dan lebih baik kalau menyelesaiakn isu bilateral secara damai
dan diplomatis," ujarnya.
Presiden Yudhoyono menginap di KRI Karel Satsuit Tubun. Dia didampingi sejumlah menteri
seperti Menko Polhukam Widodo AS, Mendagri M Maruf, Menhub Hatta Rajasa, Menaker Fahmi
Idris, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Purnomo Yusgiantoro.
Selain mengunjungi pos perbatasan di Sebatik, SBY juga mengunjungi tempat penampungan
sementara TKI di Nunukan. Di samping itu juga meninjau perairan Ambalat yang disengketakan
dengan Malaysia.
Dimas Adityo-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid alias Cak Nur (kanan) didampingi calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY (kiri), dalam konferensi pers seusai melakukan pertemuan empat mata di kediaman Cak Nur di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, 6 Mei 2004. [TEMPO/Usman Iskandar; K21A/204/2004; 20040507].](/hg/photostock/2005/02/15/s_K21A20603_high_thumb.jpg) |
![Panglima Angkatan Bersenjata Singapura, Mayor General Ng Yat Chung (kiri) bersalaman dengan Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kerja di Kantor Menko Polkam, Jakarta, 17 Juni 2003. [TEMPO/ Bagus Indahono; K15A/407/2003; 20030625].](/hg/photostock/2005/02/15/s_K15A40706_high_thumb.jpg) |
| Nurcholish Madjid dan Susilo Bambang Yudhoyono
|
|
| Susilo Bambang Yudhoyono dan Ng Yat Chung
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|