|
Nasional
Siap Turun, Dana Jaminan Hidup Pengungsi
Selasa, 08 Maret 2005 | 01:18 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Bertempat di Pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (7/3), Dirjen Bantuan Jaminan Sosial, Departemen Sosial, Amrun Daulay menyebut, akan segera memberikan dana jaminan hidup para pengungsi Aceh. Dengan syarat, "setelah data pengungsi yang lengkap, sudah tersedia," kata Amrun. Menurutnya, hal ini karena dalam beberapa kali pendataan jumlah pengungsi oleh Satkorlak Aceh, selalu terjadi penambahan angka jumlah pengungsi.
Menurut Amrun, kemungkinan besar pada Tanggal 13 Maret mendatang, pihak Depsos sudah memiliki data yang tepat. Menyusul Satlak di tiap Kabupaten NAD, selesai mendata
kembali angka jumlah pengungsi. Wakil Gubernur NAD Azwar Abubakar sendiri mengatakan sudah mempunyai data yang dimaksud. "Tapi akan dicek kembali, karena jumlah pengungsi kini membengkak dari data pengungsi semula," kata Azwar.
Depertemen Sosial sendiri masih berpatokan pada data terakhir yang mencatat jumlah
pengungsi 406.156 jiwa. Menurut Amrun, dana yang telah disiapkan pihak Depsos, adalah untuk alokasi 412 ribu jiwa dengan jumlah dana sekitar Rp 373 Miliar. Bantuan jaminan hidup ini akan diberikan pemerintah sampai akhir Desember 2005.
Sementara itu, pemerintah mengalokasikan dana hingga Rp 45 Triliun untuk lima tahun mendatang guna membangun kembali NAD pascatsunami. Sumber dana ini akan berasal dari APBN, APBD dan bantuan donatur, baik nasional maupun internasional.
Menurut Tatag Wiryanto, Deputi Ketua Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dalam pembukaan Lokakarya Aceh Recovery Forum di medan, Senin (7/3), dana tersebut akan digunakan untuk membangun kembali aspek sosial budaya masyarakat Aceh, infrastruktur, permukimam, serta kelembagaan pemerintah yang hancur akibat tsunami.
Selain butuh dana besar, menurut Tatag, dalam membangun Aceh diperlukan strategi dan langkah jitu, serta menggandeng seluruh elemen, termasuk masyarakat Aceh. "Bappenas tidak akan menampik dan sangat membutuhkan masukan mengenai pembangunan Aceh dari berbagai pihak," kata Tatag. Bahkan keluaran lokakarya yang dihadiri 300-an lebih unsur masyarakat Aceh ini, akan jadi masukan dalam penyusunan cetak biru rekonstruksi Aceh.
Adi Warsidi (Banda Aceh) dan Hambali Batubara (Medan)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|