|
Nasional
Panglima TNI: TNI Lebih Pilih Beli Suku Cadang Ketimbang Herkules Bekas
Rabu, 02 Maret 2005 | 22:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menjelaskan bagi TNI lebih menguntungkan
membeli sejumlah spare partdari Amerika daripada membeli dua pesawat Herkules C-130
bekas. "Daripada beli dua herkules bekas sementara pilihan yang lain lebih bagus kenapa
harus dipertahankan, kalau kita bisa merubah?" kata Sutarto usai Rapat Tertutup dengan DPR
membahas masalah konflik di Poso, Rabu (2/3).
Menurut Panglima, latar belakang pilihan yang diambil Mabes dalam penyediaan alat utama
sistem persenjataan (Alutsista) karena perubahan kondisi yang melingkupinya. "Perencanaan
yang lalu itu sesuai dengan kondisi yang lalu, dan sekarang ada perubahan kondisi dan
situasi dan kita bisa melihat ada solusi yang lebih bagus dari yang lalu. Mengapa sesuatu
yang lebih tidak menguntungkan kita harus mempertahankannya?" tanyanya.
Perubahan kebijakan yang terhitung taktis dari Mabes TNI tersebut terkait dengan kebijakan
pemerintah Amerika Serikat yang memberikan kelongggaran atas embargo senjata terhadap
TNI. Dimana, setelah peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh, Amerika berubah pikiran terhadap
pemberlakuan embargonya kepada Indonesia.
Sebelum tsunami, TNI melihat adanya kebutuhan transportasi udara terutama angkutan untuk
pasukan dan lain-lain dan jalan keluarnya adalah membeli Herkules bekas dari negara lain,
karena Indonesia masih diembargo. "Tapi, setelah tsunami ada perkembangan Amerika kemudian
membuka kembali kran dan mencabut embargo Herkules, kemudian memberi grant sejumlah spare
part, kemudian memberikan juga kita kesempatan untuk membeli sejumlah spare part senilai 50 juta US dollar," ujarnya.
Jumlah 50 juta US dollar ini terhitung sangat murah karena bisa membeli langsung dari
pabrik dengan mekanisme pembelian langsung dari pemerintah ke pemerintah (G to G).
"Sementara untuk beli dua herkules bekas tersebut anggarannya 50 juta US dollar, yang kita
tidak tahu sampai kapan dia bisa terbang kemudian kita juga harus beli spare part lagi
(untuk pesawat itu) padahal dengan 50 juta US dollar yang ada itu kita bisa beli spare part
untuk menerbangkan sepuluh Herkules yang sudah kita punyai. Nah, tinggal pilih yang mana,"
kata Endriartono.
Menjawab komentar miring dari Departemen Pertahanan bahwa perencanaan dari
TNI tidak cukup valid, Endriartono menjawab pernyataan dari Dephan tersebut karena
Departemen Pertahanan tidak mau ada permasalahan lagi menyangkut perencanaan yang harus
menyusul karena revisi. "Kalau misal kita (Mabes TNI) mintai lagi 50 juta dollar boleh nggak,
untuk beli spare part? Karena semua anggaran sudah dianggarkan untuk beli dua Herkules,"
tanya Endriartono.
Agus Supriyanto-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Dirjen Strategi Pertahanan Dephan RI, Mayjen TNI Sudrajat di kantor Departemen Pertahanan dan Kemanan Jakarta, Jumaat, 07 Maret 2003. [TEMPO/ Nirfan Rifki; Digital Image; 20030331].](/hg/photostock/2005/02/23/s_NR03030750_high_thumb.jpg) |
![Panglima Angkatan Bersenjata Singapura, Mayor General Ng Yat Chung (kanan) berbincang-bincang dengan Panglima TNI (Tentara Nasional Indonesia), Jenderal TNI Endriartono Sutarto saat melakukan kunjungan kerja di Kantor Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jakarta, 17 Juni 2003. [TEMPO/ Bagus Indahono; K15A/407/2003; 20030625].](/hg/photostock/2005/02/15/s_K15A40702_high_thumb.jpg) |
|
|
| Endriartono Sutarto dan Ng Yat Chung
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|