|
Nasional
MMI: Aroma Politis Kuat Menjelang Vonis Ba'asyir
Rabu, 02 Maret 2005 | 18:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menilai kuatnya aroma politis menjelang putusan sidang Ba'asyir tanggal 3 Maret. Hal tersebut terlihat dari mendadaknya proyek IMET (normalisasi hubungan AS-TNI) yang diprakarsai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice.
"Diundangnya Menteri Luar Negeri Nur Hasan Wirajuda dan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono secara mendadak merupakan indikasi yang sangat jelas, karena keputusan itu tidak pernah terlintas di benak TNI," ujar juru bicara MMI, Fauzan Al Anshari, yang didampingi Wakil Ketua MMI Jakarta, Jamal Aldin, dan Ustad Tabrani dari Muhammadiyah.
Selain itu, katanya, indikasi tersebut dapat terbaca dari kedatangan George Bush, Bill Clinton, Lee Kuan Yew, Paul Wolfowitz, Alexander Downer, John Howard serta pernyataan Sidney Jones ke Aceh yang merupakan bentuk tekanan asing pada pemerintah RI yang berpengaruh pada kemandirian hakim dalam menjatuhkan putusan pada Ba'asyir. "Semua peristiwa tersebut kita baca sebagai intervensi apalagi yang mendadak menjelang vonis," ujar Fauzan.
MMI rencananya akan mengerahkan 1.000 sampai 1.500 orang yang berasal dari Solo (14 bus), Yogya (3 bus), dan Bandung (2 bus), serta kendaraan-kendaraan pribadi dari Karawang, Indramayu, Purwakarta, Bekasi dan Tangerang yang akan melakukan long march dari Buncit (depan kantor Harian Replubika) sampai Departemen Pertanian tempat sidang Ba'asyir yang dimulai pukul 07.00 WIB.
Ia sendiri sudah menyiapkan dua skenario. Jika Ba'asyir dihukum meski hanya satu hari, maka Ba'asyir akan melakukan banding dan kasasi sampai Ba'asyir dibebaskan secara murni. Namun jika Ba'asyir bebas, maka setelah menyelesaikan administrasi di LP Cipinang, Ba'asyir akan segera dibawa ke Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki bersama rombongan dari Ngruki Solo.
Badriah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|