|
Nasional
RI-GAM Bahas Proposal Otonomi Khusus
Selasa, 22 Pebruari 2005 | 05:22 WIB
TEMPO Interaktif, Helsinki: Delegasi dari pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Senin (21/2) bertemu lagi dalam perundingan babak kedua di Finlandia. Kali ini kedua pihak membahas antara lain proposal pemerintah Indonesia mengenai otonomi khusus bagi Aceh.
Perundingan ini merupakan lanjutan dari pertemuan pertama pada 27-29 Januari dengan mediasi Crisis Management Initiative (CMI), lembaga independen yang dipimpin bekas presiden Finlandia Martti Ahtisaari. Seperti pertemuan pertama, perundingan berlangsung di estat Koeningstedt, di luar Helsinki. Ahtisaari dijadwalkan memberikan keterangan pers pada Rabu setelah perundingan babak kedua ini selesai.
"Mereka membahas pokok-pokok proposal pemerintah tentang otonomi khusus bagi Aceh, termasuk perlucutan senjata dan rehabilitasi tentara GAM," kata Maria-Elena Cowell, juru bicara CMI. Cowell mengungkapkan, secara terpisah kedua delegasi terlebih dulu bertemu dengan Ahtisaari, lalu memulai sesi gabungan dengannya. "Kini masih berlangsung," kata Cowell dua jam setelah perundingan dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat (Senin, 14.00 WIB).
Seperti pada babak pertama, delegasi Indonesia terdiri dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo A.S., Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, dan Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil. Menteri Sofyan Djalil, yang dihubungi Tempo, Senin (21/2) malam melalui saluran telepon internasional, belum bersedia memberi keterangan tentang pertemuan itu. "Saya belum bisa ngomong, Mas," katanya dengan suara pelan.
Menurut CMI, GAM juga mengirim delegasi yang sama, dipimpin "Perdana Menteri" Malik Mahmud dan "Menteri Luar Negeri" Zaini Abdullah. Namun, koran Australia Sydney Morning Herald kemarin melaporkan Damien Kingsbury, dosen senior Pembangunan Internasional di Deakin University, Melbourne, kini resmi menjadi tim penasihat delegasi GAM.
"Saya kini resmi bagian dari tim 'ruang belakang' yang menasihati para pemimpin GAM dalam negosiasi dengan tim Indonesia," kata Indosianis itu. Kingsbury, yang menghadiri pertemuan pertama dan kedua di Helsinki, mengatakan bahwa GAM akan mengesampingkan tuntutan kemerdekaan asalkan pemerintah Indonesia menarik atau melucuti ke-40 ribu tentara dan polisi paramiliter dari Aceh dan mengizinkan pasukan multinasional memantau gencatan senjata.
"Tentara adalah bagian dari problem, bukan solusi," kata Kingsbury. GAM, menurut dia, juga menekankan bahwa apa pun perjanjian yang tercapai nanti harus direferendumkan di Aceh. Kingsbury membenarkan bahwa delegasi GAM akan meminta klarifikasi dari pemerintah Indonesia mengenai tawaran otonomi khusus.
Kingsbury memperkirakan pemerintah Indonesia akan sensitif terhadap keterlibatan dirinya. Namun, dia berharap Indonesia mau menerima upaya dia dalam membantu mengakhiri perang, bukan untuk mendukung tujuan-tujuan GAM. "Saya di sana tidak untuk mendukung kemerdekaan Aceh, melainkan berusaha mencapai hasil politik melalui negosiasi."
Dalam wawancara dengan kantor berita AFP pekan lalu, Ahtisaari mengatakan bahwa babak kedua ini penting untuk melihat apakah kedua pihak bisa mencapai dasar bersama bagi negosiasi berikutnya. "Kami tidak tahu apa hasil akhirnya nanti. Dalam pengertian itu pertemuan kali ini penting karena setelah itu kita akan tahu apakah negosiasi-negosiasi ini akan membuahkan sesuatu atau tidak," katanya.
Upaya perdamaian yang diprakarsai Ahtisaari ini terdorong oleh kebutuhan untuk mengamankan bantuan internasional di Aceh yang dilanda gempa dan tsunami pada 26 Desember. Meski ada isyarat hubungan yang membaik, kedua pihak mempunyai pendekatan berbeda terhadap perundingan. Bagi Indonesia, kerangka otonomi adalah harga mati dalam penyelesaian konflik di Aceh. Sebaliknya, GAM menuntut kemerdekaan.
Meski begitu, para pemimpin GAM yang mengasingkan diri di Stockholm, Swedia, menyatakan terbuka terhadap semua ide. Sehari sebelum perundingan kemarin, Malik Mahmud mengatakan, pihaknya akan mempelajari proposal otonomi yang disodorkan pemerintah Indonesia di samping mencari berbagai opsi lainnya.
afp/bbc/dimas adityo/yanto m
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
 |
![Murid Sekolah Menengah Umum (SMU) berseragam pramuka menyambut kedatangan Menko Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah dengan membawa bendera kertas merah putih di desa Seunuddon , Aceh Utara, Sabtu, 7 Juni 2003. [TEMPO/ Rully Kesuma; Digital Image; 20030901].](/hg/photostock/2005/02/15/s_RK03061560_high_thumb.jpg) |
|
|
| Penyambutan Kedatangan Menko Polkam di Aceh
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|