|
Nasional
Lima Bulan Lagi 240 Pasar Beroperasi di Aceh
Kamis, 17 Pebruari 2005 | 07:19 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Pemerintah menganggarkan Rp 8 miliar untuk membangun 240 pasar
dalam waktu lima bulan ke depan. "Orang-orang yang sudah berjualan akan
diberikan tenda untuk pedagang," ujar Kepala Dinas Perdagangan Azhar Amin,
Rabu (16/2).
Dana Rp 8 miliar itu dialokasikan dari anggaran Departemen Perdagangan dalam
APBN tahun 2005. Pasar-pasar yang sudah tumbuh saat ini, seperti di daerah Aceh Besar,
Lambaro dan Ulee Kareng akan menjadi andalan untuk kotamadya Banda Aceh dan kabupaten
Aceh Besar. Sebelum tsunami, kedua pasar itu menjadi penyangga untuk dua
pasar besar di Banda Aceh yaitu Pasar Aceh dan Pasar Peunayong. Kedua pasar
ini sudah tidak berfungsi lantaran hancur terkena tsunami.
Sementara untuk pasar yang baru tumbuh seperti di daerah Keutapang, Aceh
Besar, para pedaganganya akan diberi fasilitas berupa tenda. "Mereka yang
sudah berdagang dan berada di sisi jalan akan diberikan tenda," ujar Azhar.
Direktur Pengendalian Mutu Departemen Perdagangan Triwi Husodo mengatakan
angka 240 pasar itu masih belum bisa dijaidkan patokan untuk jumlah
pasar. "Masih bisa berkembang, kita menunggu rencana relokasi pengungsi dan
perkembangan masyarakat," ujarnya.
Hasil perhitungan itu merupakan perhitungan semnetara sampai relokasi kemarin
dilakukan. "Mungkin petanya (penempatan pasar) sudah bisa didapat bulan
depan," ujarnya. Pemetaan ini termasuk untuk penempatan dan pembangunan pasar
induk. "Saat ini masih belum bisa ditentukan," ujarnya. Namun dari
perencanaan untuk dua provinsi yang terkena tsunami akan dibangun 18 pasar
induk denhgan biaya Rp 6 miliar per pasar. Maisng-masing pasar seluas 2000
meter persegi. Estimasi total kebutuhan anggaran sebesar Rp 108 miliar.
Karena itu, pasar-pasar yang akan dibangun nanti merupakan gabungan pasar
yang tumbuh dengan sendirinya seprti di daerah Keutapang, maupun pasar yang
akan dibangun berupa pemberian tenda bagi yang pedagang yang sudah berjualan
maupun yang akan merencanakan.
Mekanisme pemberian tenda, ujar Azhar, adalah dengan mengidentifikasi setiap
pedagang dalam lingkungan sebuah kecamatan oleh aparat kecamatan. "Saya
bilang kepada tiap camat supaya prioritasnya adalah yang sudah berdagang.
Jadi tinggal diberikan tenda, sisanya baru nanti kita berikan kepada yang
merencanakan menjual," ujarnya. Ia mengatakan hal ini, karena adanya
permintaan dari para warga Aceh, termasuk pengungsi yang ada di tempat
relokasi untuk berjualan. "Jadi jualan dulu, baru minta tenda," ujarnya.
Yophiandi-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|