|
Nasional
Ikrar: SDM Bidang Pertahanan Indonesia Lemah
Senin, 14 Pebruari 2005 | 23:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dr Ikrar Nusa Bakti menilai sumber daya manusia di bidang pertahanan
ternyata belum cukup siap menghadapi arus perubahan yang sedang terjadi. Di sisi lain,
katanya, Indonesia sama sekali belum memiliki blue print sistem pertahanan. "Hal
paling pelik yang menjadi tantangan Departemen Pertahanan adalah persoalan reorganisasi
Dephan dan Mabes TNI," kata Ikrar, pengamat politik dari LIPI ketika menjadi panelis dalam
diskusi yang diadakan Departemen Pertahanan, Senin (14/2).
Menurut Ikrar, dua institusi tersebut sulit bersatu meskipun sudah ada UU tentang
Pertahanan dan UU tentang TNI yang menempatkan TNI di bawah Departemen Pertahanan. Dia
menilai perlu revisi karena belum tentu reorganisasi bisa diterapkan dalam lima tahun ini.
Tetapi paling tidak kalau sampai 2007 bisa disiapkan perangkat UU, mungkin tahun 2008
sudah bisa disosialisasikan sehingga pada 2009 sudah bisa disatukan.
Dijelaskan, tahun 2004-2009 merupakan saat-saat yang kritis karena masa itu yang akan
berpengaruh terbentuknya supremasi sipil yang benar-benar dihayati pimpinan, staf dan
tentara di lapangan. "Ini penting karena mengubah suatu kultur (TNI) tidak seperti
membalik telapak tangan, mengubah tata aturan pengangkatan (pejabat TNI) itu juga tidak
seperti membalik telapak tangan," lanjutnya.
Ikrar menilai Indonesia juga sangat lemah dalam penguasaan alat utama sistem
pertahanan (alusista). Menurutnya, pemerintah harus belaar dari bencana tsunami dan
terbuka matanya bahwa alusita TNI terutama udara dan laut sangat terbatas sekali.
"Sehingga bukan cuma pelajaran tapi seharusnya juga menjadi titik balik kebijakan
penyediaan alusista," kata Ikrar.
Agus Supriyanto-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|