Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Unicef Rencanakan Program Identifikasi Anak Aceh yang Terpisah
Jum'at, 11 Pebruari 2005 | 23:46 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Bertempat di gedung Pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD), tiga organisasi dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memaparkan capaian tugas selama membantu korban bencana gempa dan tsunami di NAD. Kali ini giliran United Nation Office for The Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA), United Nation International Children Emergency Fund (Unicef) dan World Food Program (WFP).

Hiro Ueki dari UN OCHA menuturkan, segera sesudah bencana menghantam, PBB mengeluarkan dana bantuan darurat sebesar US$ 977 Juta untuk enam bulan. Hingga 7 Februari, sebanyak US$ 848 Juta dialokasikan untuk diserahkan kepada pemerintah berbagai negara. Dari jumlah tersebut, yang benar-benar sudah dibayarkan UN OCHA sebesar US$ 421 Juta. ?Sisanya, US$ 259 Juta, merupakan komitmen yang siap dicairkan,? kata Hiro, Jumat (11/2),

Sedangkan Shantha Bloemen dari Unicef menyebut, untuk memperbaiki sanitasi,
pihaknya bekerjasama dengan Departemen Kesehatan membuat tempat pembuangan
sampah padat di 16 lokasi pengungsian. Ini mencakup sekitar 42 ribu pengungsi yang ada disana. Unicef juga bekerjasama dengan LSM lokal, telah membagikan alat-alat MCK seperti sarung, handuk, sabun, sabun cuci, pasta gigi, sikat gigi dan ember. Tak kurang dari 20 ribu paket MCK sudah dibagikan untuk keluarga-keluarga di kamp pengungsian.

Sadar bahwa banyak anak-anak yang terpisah dengan keluarganya, Unicef menurut
Bloemen, saat ini tengah bekerjasama dengan Departemen Sosial untuk membuat
program identifikasi anak-anak. "Jika mungkin, menyatukan kembali anak-anak
ke keluarganya," ujar Bloemen. Selain itu, bekerjasama dengan Depsos, Unicef
kata Bloemen, sudah mendirikan 17 dari 20 pusat penanganan masalah anak yang
direncanakan. Untuk program pusat penanganan masalah anak-anak ini, Unicef
juga menggandeng Muhammadiyah, Kementrian Pemberdayaan Wanita dan LSM lokal
Pusaka Tradisional.

Di tempat-tempat ini, Unicef menyediakan para pekerja sosial, guru dan
psikolog. Misi mereka menurut Bloemen adalah melakukan pendataan terhadap
anak-anak yang kini terpisah dengan keluarganya, memantau kesejahteraan anak-
anak ini, sekaligus menyediakan tempat yang aman dan nyaman buat bermain.

Agus Hidayat ? Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Nelayan Banda Aceh Mulai Mencari Ikan
Menlu Jerman: Moratorium Utang Tergantung Paris Club
Bank di Meulaboh Belum Layani Pinjaman
Bank di Meulaboh Belum Layani Pinjaman kepada Nasabah
Ribuan Anak Aceh Terpisah dari Orang Tua Mereka
Musyawarah Rekonstruksi Aceh di Istana Negara
Bupati Aceh Utara Larang Pengungsi Mengkonsumsi Mi Instan
Penyebab Keracunan Pengungsi Belum Diketahui
Hidayat Nur Wahid Minta Pemerintah Perhatikan Pendidikan Aceh
Mahasiswa Unsyiah Tuntut Rektor Mundur
> selengkapnya...


Referensi

Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data