|
Nasional
Presiden Himbau Aparat Lakukan Pemberantasan DBD
Rabu, 09 Pebruari 2005 | 22:11 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghimbau seluruh aparat pemerintahan
untuk melakukan gerakan nasional dalam pemberantasan nyamuk penyebab demam berdarah dengue
(DBD). "Saya menghimbau aparat kepala desa, para camat, para bupati semua untuk bersama-
sama secara serentak terus menerus melakukan gerakan pemberantasan nyamuk," kata Yudhoyono
saat melakukan peninjauan terhadap pasien DBD di Rumah Sakit Budi Asih, Jakarta, Rabu (9/2).
Dalam peninjauan ini, Presiden didampingi istrinya, Gubernur DKI Sutiyoso dan Menteri
Kesehatan Siti Fadillah Supari. Selain itu, pejabat Departemen Kesehatan dan pihak rumah
sakit ikut serta mendampingi. Juga terlihat Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.
Berdasar laporan Gubernur DKI dan Menteri Kesehatan, Presiden mengaku ada kenaikan
penderita DBD di rumah sakit ini. Meskipun hal ini tidak setinggi bulan-bulan yang sama
pada tahun lalu.
Oleh karena itu, Presiden meminta agar dilakukan gerakan nasional pemberantasan ini
secara bersama-sama. Dirinya sudah melakukan pemeriksaan ke daerah-daerah dan juga
pinggir-pinggir kota dan pusat kota untuk melihat perkembangan DBD ini. "Ternyata ini
tidak bisa diserahkan kepada pihak rumah sakit, para dokter dan petugas kesehatan. Tetapi
harus menjadi gerakan masyarakat," kata Yudhoyono.
Menurut Presiden, langkah ini sudah harus segera dilaksanakan. Kesadaran masyarakat akan
sangat membantu tercapainya pemberantasan nyamuk DBD. "Di beberapa negara lain juga
demikian. Oleh karena itu saya minta kepada Menteri Kesehatan dan seluruh jajarannya di
Indonesia, saya minta kepada para Gubernur, Bupati, Wali Kota seluruh Indonesia untuk
berikhtiar dan mengkomunikasikan kepada rakyat banyak," katanya.
Sementara, Kepala Sub Direktorat Agro Virusis Departemen Kesehatan, dokter Rita Kusniastuti,
mengatakan DBD ini telah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Saat ini jumlah seluruh
penderita DBD di Indonesia telah mencapai 5.064 orang. Dari jumlah tersebut, ada enam
provinsi yang tergolong tingkat penyebarannya tinggi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat,
Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, NTB dan NTT.
Menurut Rita, dari pasien sebanyak itu, ada 113 orang yang meninggal. Khusus untuk DKI
Jakarta, jumlah penderita mencapai 1725 orang dan yang meninggal sebanyak 16 orang. Dan
yang paling banyak berada di wilayah Jakarta Timur sebanyak 6 orang.
M Nafi - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|