|
Nasional
Hantu Pembiayaan dalam Pilkada Langsung
Jum'at, 04 Pebruari 2005 | 05:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung pada Juni mendatang, akan dihantui financing democracy (pembiayaan demokrasi). Ini karena pemerintah pusat, secara peraturan, belum melakukan persiapan, pemantauan, maupun pelaksanaan secara komprehensif.
Menurut Bambang Purwoko, Ahli Ilmu Pemerintahan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, kepada TEMPO usai menghadiri sidang judicial review di Mahkamah Konstitusi, Kamis (3/2), upaya yang dilakukan pihak-pihak tertentu selama proses pemilihan kepala daerah akan sangat mempengaruhi kebijakan kepala daerah terpilih.
“Ketika cukong-cukong -- bisa bandar togel, narkoba atau pelacuran -- berusaha membayari calon kepala daerah supaya terpilih, maka kepala daerah terpilih akan lebih akomodatif terhadap perjudian, narkoba atau pelacuran, karena kebijakan mereka tidak bisa terlepas dari apa yang mereka peroleh dari pembiayaan saat pilkada,” ujar Bambang.
Selain dihantui biaya demokrasi, menurut Bambang, pilkada juga akan dihantui konflik antara warga. “Sangat mungkin terjadi, karena area pemilihan itu sangat dekat dengan kabupaten atau propinsi,” ungkapnya.
Karena itu Bambang mendesak pemerintah pusat benar-benar melakukan antisipasi sejak dini. Hanya saja Bambang melihat Pemerintah belum melakukan tindakan serius ke arah ini. “Saya belum melihat secara khusus komitmen pemerintah dalam membangun pemerintah daerah, termasuk belum antisipasif terhadap kemungkinan terburuk,” kata Bambang.
Sunariah
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Gubernur baru NTB Drs H. L. Serinata dan Wakil Gubernur Drs. H.B. Thamrin Rayes mengucapkan sumpah janji saat dilantik Mendagri Hari Sabarno di DPRD NTB, Senin 1/9/2003. Mereka terpilih untuk periode 2003-2008 mengantikan Gubernur lama Drs. H. Harun Alrsayid dan wakilnya H. Syahdan SH, SP, MBA, MM
[TEMPO/Taufik Subarkah; Digital Image; 20030901]](/hg/photostock/2005/01/18/s_Dsc_0136_high_thumb.jpg) |
![Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso turun dari helikopter saat menuju ruang kerjanya di Balai Kota DKI Jakarta yang sudah dikepung massa yang menolak pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2002 - 2007 pada Sidang Paripurna anggota DPRD DKI Jakarta, 16 September 2002. [TEMPO/ Arie Basuki; K13A/112/2003; 20030403].<br>Dimuat majalah TEMPO 20020922-026, 20030105-082](/hg/photostock/2004/12/27/s_K13A11202[1]_high_thumb.jpg) |
|
|
| Sutiyoso turun dari helikopter
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|