Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

BUMN Malaysia Pekerjakan TKI Ilegal
Jum'at, 04 Pebruari 2005 | 03:02 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Perkebunan kelapa sawit milik Pemerintah Kerajaan Malaysia, ternyata mempekerjakan Tenaga Kerja Indonesia ilegal. Dari pengamatan TEMPO di Kota Tinggi Johor Bahru, sekitar enam jam perjalanan dari Kuala Lumpur, perkebunan yang luasnya ribuan hektar itu mempekerjakan ratusan TKI dengan status ilegal dan legal. Kebanyakan berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Menurut salah seorang penolong pengurus (asisten manajer) BUMN yang tidak mau disebutkan namanya dan nama perusahaannya itu, perusahaan ini mempekerjakan 99 orang TKI berdokumen dan 30 orang yang tidak berdokumen. Mereka menggarap lahan kelapa sawit seluas 2.600 hektar di kawasan Kota Tinggi.

Menurut aisten manajer ini, pemerintah mengetahui perusahaannya mempekerjakan para TKI ilegal. "Kerajaan sadar soal itu," katanya. Sebab itu pula, kerajaan Malaysia memberlakukan kebijakan pemulangan TKI yang tak berdokumen secara besar-besaran.

TEMPO sempat mendatangi kongsi-bedeng penampungan bagi TKI yang dihuni empat TKI ilegal. Mereka tinggal di tengah ladang yang cukup jauh dari jalan. Keempatnya bernama Eko asal Blitar, Suherman asal Lombok, Junaedi dan Mariamah pasangan suami istri dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. “Kami bersembunyi supaya tidak terkena operasi," kata Suherman yang sudah bekerja di Malaysia selama dua tahun.

Menurut Suherman, semula ia memiliki kartu ijin kerja, namun karena tauke (majikan) nya tidak memberikan gaji selama berbulan-bulan, ia memilih kabur. Setelah empat kali berganti majikan, Suherman kini bekerja di ladang perkebunan kelapa sawit dengan upah 30 ringgit per hari (Rp 69 ribu dalam kurs 1 ringgit setara Rp 2.300). Selama dua tahun masa rantaunya, Suherman mengaku “baru bisa mengirim uang ke kampung untuk membayar hutang Rp 4 juta,” katanya lagi, utang ini dulu dipakai sebagai modal berangkat ke Malaysia.

Lain lagi dengan Junaedi dan Mariamah. Pasangan beranak empat ini meninggalkan kampungnya setahun lalu dengan tekad mengubah kehidupan keluarga agar lebih baik. Meninggalkan kampungnya setahun lalu, Junaedi sempat terdampar di Tanjung Pinang dan bekerja sebagai tukang kayu. "Gajinya dipakai untuk bikin paspor pelancong," kata Junaedi. Pasangan ini tiba di Malaysia dua bulan lalu. "Saya belum mau pulang, kasihan anak-anak di rumah," kata Mariamah. Menurutnya, keempat anaknya itu kini diasuh orang tua suaminya.

Sedangkan Eko, 20 tahun, bertekad meninggalkan kampungnya di Blitar karena tak mau lagi merasakan kemiskinan. Ia terpacu kesuksesan kakaknya yang sudah 10 tahun menetap di Malaysia dan beristrikan orang Malaysia. Kedua orang tua dan kakaknya yang kini berada di Malaysia pun sebenarnya sudah melarangnya pergi. "Kata kakak, enakan di Jawa saja," ujarnya.

Namun, merantau di negeri orang tak seindah dugaan Eko. Meskipun masuk dengan cara sah dan memiliki kartu ijin kerja, Eko dua kali melarikan diri dari tauke karena upahnya tak kunjung dibayar. Eko berpantang pulang. Ia pun tak mau mengabarkan keadaannya yang tak berdokumen kepada kakaknya dan kepada kedua orang tuanya di kampung. "Saya jangan difoto, kasihan orang tua saya, nanti jadi kepikiran," katanya.

Menurut seorang tauke yang minta identitasnya disembunyikan, keberadaan para TKI ini sangat dibutuhkan dalam pengerjaan ladang kelapa sawit itu. "Saya tak bedakan yang ilegal dan yang legal, kalau mereka tak ada, saya juga yang pusing," kata tauke yang juga jadi relawan sipil (RELA) yang direkrut untuk merazia TKI ilegal.

Meskipun masuk RELA, tauke ini mengaku tak sampai hati bila harus merazia. Sebab itu, sebelum melakukan operasi, laki-laki ini mengabarkan kepada pekerjanya untuk bersembunyi. Sebagai gantinya, para TKI kosong -- sebutan tenaga kerja ilegal, memberikan uang kopi sebesar 50 ringgit per bulan.

Istiqomatul Hayati (Kuala Lumpur)

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Para TKI yang kembali dari Tawao Malaysia beristirahat di dalam lokasi penampungan Mambunut,  Nunukan, Kailmantan Timur, Rabu, 11/09/2002. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20021017] Seorang TKI yang kembali dari Tawao Malaysia memandang KRI Tanjung Kambani 971 yang akan difungsikan sebagai Rumah Sakit terapung saat tiba di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Kalimantan Timur, Minggu, 8 September 2002. Kapal ini tidak dapat merapat di dermaga dikarenakan dangkalnya air di pelabuhan tersebut. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20021218].
TKI
TKI Di Nunukan
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Indonesia Agar Bentuk Tim Penagih Piutang TKI Ilegal
MUI Haramkan Perempuan jadi TKW
Masih Ada TKI Ilegal Minta Surat Perjalanan Laksana Paspor
Pemerintah Malaysia Mungkin akan Memperpanjang Masa Amnesti
Indonesia Minta Perpanjangan Amnesti
Amnesti Berakhir, TKI Ilegal Bersembunyi
Pemerintah Minta Pengampunan Dua TKI Yang Diancam Hukuman Mati
Pemulangan TKI Ilegal Terganjal Nihilnya Satgas Lintas Sektoral
Perpanjangan Waktu Amnesti Tidak Digunakan secara Maksimal
DPR Menilai Upaya Pemerintah Selesaikan Masalah TKI, Tidak Optimal
> selengkapnya...


Referensi

Studi Perlindungan TKI Ditinjau dari Aspek Pembiayaan
HAK ASASI BURUH MIGRAN INDONESIA
Beberapa Kebijakaan Penempatan TKI ke Luar Negeri
KepMenakertrans nomor KEP-104A/MEN/2002 tentang Penempatan TKI ke Luar Negeri
UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Kentenagakerjaan
Buruh Migran Meninggal hingga September 2003
Kebutuhan dan Penempatan TKI 2002
Kebutuhan dan Penempatan TKI ke Luar Negeri (2001-2004)
> selengkapnya...

Website

Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan TKI
PJTKI
Depnakertrans
LSM buruhmigran
Jaringan LSM buruh migran Asia
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data