Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Desain Tata Kota Aceh Disesuaikan Tradisi Lokal
Rabu, 02 Pebruari 2005 | 20:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Komisi VII mempertanyakan desain tata kota yang dibuat pemerintah untuk Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara pasca tsunami. DPR juga mempertanyakan implementasi rencana tata kota tersebut.

"Setelah rencana tata kota dibangun, lantas apa yang dapat menjamin pembangunan kota sesuai rencana yang telah dibuat," tutur Alvin Lie, Ketua Komisi VII dalam rapat bersama dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) di DPR, Rabu (2/1).

Menurut Menteri LH Rachmat Witoelar, mengaku kementriannya merupakan lembaga yang ditunjuk untuk membuat desain. Namun, kata Rachmat, pelaksana pembangunannya sendiri adalah lembaga-lembaga pemerintah yang terkait langsung dalam proyek pembangunan. “Seperti Departemen Pekerjaan Umum," ujar rachmat.

Oleh sebab itu, lanjut Rachmat, kementriannya tidak bertanggungjawab apabila pelaksanaan pembangunan tidak sesuai dengan desain tata kota yang disusun. Kecuali, jika pihaknya dilibatkan langsung dalam proses pengerjaan pembangunannya. "Itu terserah Presiden, tapi kami membuka peluang untuk terlibat dalam pembangunan,” kata Rachmat.

Menurut Rachmat, desain tata kota yang sedang disusun kementriannya menerapkan konsep lingkungan hidup. Menurut Rachmat, pemerintah tidak melakukan perubahan mendasar terhadap tradisi dan kebiasaan yang telah ada di Aceh dan Sumatera Utara. "Tidak mungkin masyarakat yang sebelumnya petani dan pelaut, terpaksa jadi buruh pabrik," tutur Rachmat.

Dalam salah satu rancangan nanti, akan dibangun tembok pengaman dari ombak dengan ketebalan 50-200 meter. "Tebalnya tergantung kontur tanah, tapi diperkirakan dapat menahan ombak yang ketinggiannya 3-4 meter," jelas Rachmat. Selain itu, akan menanam hutan bakau sebagai pelindung ombak.

Dari hasil perhitungan kementriannya, Rachmat memperkirakan kerugian lingkungan hidup akibat bencana tsunami di Aceh dan Sumatera Utara sekitar US$ 500 Juta. Kerugian lingkungan ini diantaranya pencemaran air, sungai dan air tanah, penecemaran limbah padat, pencemaran udara, kerusakan Terumbu Karang dan Mangrove, pencemaran pertanian, hutan dan ekosistem, kerugian potensi kegunaan lahan dan potensi kontaminasi dari industri.


Yuliawati


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

11 Hakim di Aceh Hilang
Pengungsi Korban Tsunami Ingin Kembali Ke Rumah Mereka
Pemerintah Tidak Memaksa Pengungsi Tinggal di Tempat Relokasi
Aceh Jelang Masa Transisi
Polisi Militer Kodam Iskandar Muda Periksa empat Saksi
Kasus Farid Faqih: Jalur Hukum Tidak Cukup
Pembangunan Infrastruktur Aceh Tidak Libatkan Asing
Tempat Relokasi Pengungsi Terancam Tak Berpenghuni
RSUD Tjut Nyak Dhien Butuh Banyak Pembenahan
PBNU Terima Kunjungan Rombongan Vatikan
> selengkapnya...


Referensi

Ada Yang Malah Berenang di Lumpur
Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data