|
Nasional
Amnesti Berakhir, TKI Ilegal Bersembunyi
Rabu, 02 Pebruari 2005 | 02:01 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Sehari setelah berakhirnya masa amnesti untuk Tenaga Kerja Ilegal di Malaysia (1/2), suasana beberapa kota di Semenanjung Malaysia lengang dari Tenaga Kerja Indoensia (TKI) yang biasanya lalu-lalang. Tak seperti hari libur biasanya, pusat kota mendadak sepi dari kegiatan kumpul-kumpul para TKI. Sebaliknya, polisi tampak siaga dimana-mana.
Kota Kajang dan Bangi misalnya. Di dua kota yang berjarak kira-kira 38 kilometer dari Kuala Lumpur ini, merupakan daerah yang banyak didiami para pekerja asal Indonesia, baik yang legal maupun ilegal. Sejak pagi hari, di dua kota ini banyak polisi-polisi memblokade jalan, memeriksa setiap kendaraan yang lewat. Pun di stasiun kereta api. Terlihat para petugas polisi diraja Malaysia berjaga-jaga.
Sejauh pengamatan wartawan TEMPO di lapangan di dua kota ini, hari ini tak satupun TKI yang ditangkap atau ditahan. TKI yang berani keluar buat jalan-jalan, adalah mereka yang memiliki ijin kerja yang sah. Lalu kemana para TKI ilegal ? Mereka bersembunyi di kantong-kantong persembunyian.
Wartawan TEMPO menjumpai dua TKI ilegal yang kebetulan naik bersama di Stasiun Kereta Api Bangi menuju Kajang. Keduanya mengaku bernama Jeri, 35 tahun dan Jatim, 44 tahun, berasal dari Madura. Keduanya nekat ngeluyur hari itu – saat amnesti berakhir -- pergi ke rumah tauke (bos), untuk menagih gaji yang belum dibayar. Menurut Jeri, bos-nya ini tidak membayar haknya sebanyak 1.700 ringgit (sekitar Rp 3,5 Juta), sementara Jatim, TKI Ilegal asal Rebetan, Madura ini gajinya masih nyangkut 900 ringgit (Rp 2,3 Juta).
Dari Jeri dan Jatim inilah meluncur pengakuan kalau masih banyak TKI ilegal yang tak balik ke Indonesia. “Hari ini tidak berani keluar, takut kena tangkap petugas razia di jalan ataupun pusat perbelanjaan,” ujar Jatim. “Kami berdua nekat, karena tidak punya uang lagi, kami perlu bertahan hidup, makanya kami pergi tagih gaji ke tauke,” sambungnya.
Ketika ditanya alasan keduanya tidak pulang sewaktu amnesti diberikan, Jeri dan Jatim mengaku saat itu sedang tidak punya uang. “Kalau pulang dari rantau kan harus ada oleh-oleh untuk keluarga, " ungkap Jeri sambil tersenyum.
T.H. Salengke (Kuala Lumpur)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|