Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Korban Gempa Bumi Alor Masih Bertahan di Tenda Darurat
Selasa, 01 Pebruari 2005 | 14:04 WIB

TEMPO Interaktif, Kupang:Ribuan warga korban gempa bumi Alor, Nusa Tenggara Timur di tujuh kecamatan masih bertahan ditenda-tenda darurat, maupun rumah sangat darurat, yang dibangun secara swadaya pasca gempa bumi berkekuatan 6,0 skala richter, 12 November 2004 lalu. Aktivitas sekolah dan perkantoran di gedung-gedung yang hancur total juga belum berjalan normal.

Dana yang disediakan pemerintah pusat untuk merehabilitasi berbagai kerusakan itu sekitar Rp 60 Miliar. Jumlah itu baru setengah dari total anggaran yang dibutuhkan.

Bupati Alor, Ans Takalapeta, yang dihubungi di Kupang, Rabu (2/2) mengaku telah menugaskan sejumlah staf untuk melobi Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto agar mengalokasikan tambahan dana. “Dalam rekontruksi awal, pemerintah hanya membangun 1.300 unit perumahan penduduk, perkantoran, pembangunan prasarana jalan, dan jembatan, irigasi, pasar, sarana air bersih, jaringan perpipaan dan prasarana pendidikan,” kata Takalapeta.

Menurutnya, seluruh infrastruktur yang berkaitan dengan pelayanan umum, akan dibangun secara penuh oleh pemerintah. Sedangkan khusus perumahan rakyat, pemerintah hanya membangun pondasi, rangka, dan atap. Adapun dinding, lantai dan pintu menjadi tanggungan masyarakat korban gempa.

“Pemerintah mengupayakan untuk menyelesaikan semua bangunan dan infrastruktur pada Juni mendatang, sehingga untuk sementara semua aktivitas warga, perkantoran dan kegiatan belajar mengajar masih dilangsungkan di rumah sangat darurat, dan tenda-tenda bantuan TNI dan lembaga kemanusiaan internasional,” katanya.

Dari tujuh kecamatan yang terkena gempa bumi, sekitar 2.519 rumah penduduk yang tersebar di 62 desa hancur total, rusak berat sekitar 5.000 unit. Sedangkan parasarana jalan mencapai 100 kilometer dan belasan jembatan hancur dan putus total.

Gedung perkantoran dan bangunan sekolah yang rusak total dan rusak berat kurang lebih 149 gedung. Tujuh kecamatan yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi yakni Kecamatan Alor Barat Laut, Alor Timur, Alor Tengah Utara, Alor Selatan, Teluk Mutiara, Alor Barat Daya, Alor tengah Utara dan Alor Timur.

Jems de Fortunaara swadaya pasca gempa bumi berkekuatan 6,0 skala richter, 12 November 2004 lalu.
Aktivitas sekolah dan perkantoran di gedung-gedung yang hancur total juga belum berjalan normal.

Dana yang disediakan pemerintah pusat untuk merehabilitasi berbagai kerusakan itu sekitar Rp 60 Miliar. Jumlah itu baru setengah dari total anggaran yang dibutuhkan.

Bupati Alor, Ans Takalapeta, yang dihubungi di Kupang, Rabu (2/2) mengaku telah menugaskan sejumlah staf untuk melobi Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto agar mengalokasikan tambahan dana. “Dalam rekontruksi awal, pemerintah hanya membangun 1.300 unit perumahan penduduk, perkantoran, pembangunan prasarana jalan, dan jembatan, irigasi, pasar, sarana air bersih, jaringan perpipaan dan prasarana pendidikan,” kata Takalapeta.

Menurutnya, seluruh infrastruktur yang berkaitan dengan pelayanan umum, akan dibangun secara penuh oleh pemerintah. Sedangkan khusus perumahan rakyat, pemerintah hanya membangun pondasi, rangka, dan atap. Adapun dinding, lantai dan pintu menjadi tanggungan masyarakat korban gempa.

“Pemerintah mengupayakan untuk menyelesaikan semua bangunan dan infrastruktur pada Juni mendatang, sehingga untuk sementara semua aktivitas warga, perkantoran dan kegiatan belajar mengajar masih dilangsungkan di rumah sangat darurat, dan tenda-tenda bantuan TNI dan lembaga kemanusiaan internasional,” katanya.

Dari tujuh kecamatan yang terkena gempa bumi, sekitar 2.519 rumah penduduk yang tersebar di 62 desa hancur total, rusak berat sekitar 5.000 unit. Sedangkan parasarana jalan mencapai 100 kilometer dan belasan jembatan hancur dan putus total.

Gedung perkantoran dan bangunan sekolah yang rusak total dan rusak berat kurang lebih 149 gedung. Tujuh kecamatan yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi yakni Kecamatan Alor Barat Laut, Alor Timur, Alor Tengah Utara, Alor Selatan, Teluk Mutiara, Alor Barat Daya, Alor tengah Utara dan Alor Timur.

Jems de Fortuna

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Rumah penduduk yang hancur karena bencana tanah longsor di desa Kemanukaan, Kec. Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Foto: Rini/ PWI. Penduduk di lokasi bencana alam tanah longsor di Purworejo, Jawa Tengah, 2000. [TEMPO/LN Idayanie].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20001210-154
Tanah Longsor Purworejo
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Artha Graha dan Java Musikindo Galang Dana Untuk Aceh
Kasus Penjarahan Siap Dilimpahkan Ke Kejaksaan
GAM Bantah Terima Logistik dari Farid Fakih
Empat Ormas Gugat Panglima TNI
Organisasi Islam Inggris Bantu Aceh Melalui NU
GOWA Kutuk Penganiayaan Farid Fakih
Bupati Aceh Barat Lantik Pejabat Baru
FPI Bantah Terlibat Pencurian
Di Aceh, Delapan BUMN Lakukan Bersih-Bersih
Menkes Jamin Obat di Aceh Mencukupi untuk Satu Tahun
> selengkapnya...


Referensi

Lewat Pramuka Menuju Aceh
Nyiur di Meulaboh Tak Lagi Gagah Melambai
Derita Pengungsi Belum Berakhir
Keppres RI No. 3 Tahun 2001 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi
> selengkapnya...

Website

Palang Merah Indonesia
Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika
Departemen Sosial
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< February,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data