|
Nasional
Kisah Abak-Anak Trauma Tsunami
Senin, 17 Januari 2005 | 02:23 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Jemari mungil itu menari di atas kertas. Zulia Febrina, 10 tahun, dengan lancar menorehkan pena. Gadis kecil asal Lamno, Aceh Jaya, itu merangkai kata menjadi sebuah cerita.
"Kami lari ke gunung ketika air laut naik. Saya takut sekali. Saya lihat banyak mayat-mayat. Saya teringat teman saya. Teman-teman maafin kami ya. Kami tak bisa membantu kalian karena kita semua sama-sama kena musibah," demikian sepenggal tulisan Febrina.
Sore itu, Febrina bersama sejumlah anak-anak seusianya sedang ikut "belajar ceria" di tenda darurat Child Centre Aceh yang didirikan Pusaka Indonesia, mitra UNICEF, di lokasi pengungsian Mata Ie, Aceh Besar.
Setiap hari, Febrina dan sekitar 30-an anak lainnya belajar di tenda. Berbekal sebuah meja kecil, kertas dan alat tulis mereka terkadang diajar membaca, menulis dan menggambar. Hari itu, ketika seorang relawan menanyai kesediaan mereka menulis tentang gempa dan tsunami, anak-anak serentak berteriak, "bersedia".
"Ini bagian untuk menghilangkan trauma mereka saat gempa dan tsunami itu," kata Vivi Sofianti Siregar, satu-satunya psikolog yang menangani anak-anak di posko Unicef di Mata Ie.
Menurut Vivi, sebagian besar anak-anak yang berada di pengungsian mengalami trauma berkepanjangan pasca tsunami. "Sebagian besar mereka masih ketakutan dan sering mengingau saat tidur," kata psikolog asal Sumatera Utara itu.
Menurut dia, saat ini pihaknya menangani 103 anak yang kehilangan orang tua. Mereka masih tersebar di rumah-rumah warga yang menyelamatkan mereka saat tsunami datang. Meski begitu, kata Vivi, warga yang mengasuh anak-anak itu selalu melaporkan soal perkembangan kejiwaan.
Di posko UNICEF sendiri saat ini ada dua anak yang kehilangan kedua orangnya. Mereka adalah Iqbal, 11 tahun dan Irma, 15 tahun. Menurut Vivi, kedua anak itu hingga kini diberi perhatian khusus. "Mereka sangat sensitif. Terkadang menangis kalau ditanyai soal orang tua mereka," kata Vivi.
Keberadaan sejumlah relawan di sana memang sedikit membantu. Namun, kata Vivi, saat ditinggal sendirian, Iqbal dan Irma sering termenung.
Hingga kini, belum ada data pasti soal jumlah anak yang mengalami trauma. Vivi mengaku, Pusaka Indonesia kesulitan mendata anak-anak yang masih tersebar di sejumlah lokasi pengungsian. Ia menyarakankan pemerintah membentuk pusat rehabilitasi mental untuk anak-anak yang mengalami trauma akibat gempa dan tsunami di Aceh. "Jika bertemu dengan teman senasib biasanya akan membantu menyembuhkan mereka," ujarnya.
Dewa Purba, Koordinator Pusaka Indonesia mengaku kesulitan dengan sedikitnya jumlah psikolog, khususnya psikolog anak, yang ada di Aceh saat ini. Ia menyarankan, pemerintah segera mengirimkan lebih banyak psikolog anak untuk menangani mereka.
Menurut dia, anak-anak termasuk kelompok yang sangat merasakan dampak trauma akibat kehilangan saudara dan orang tuanya. "Kalau sedang ramai-ramai mereka memang bisa terhibur dan bermain bersama, tetapi saat sendiri mereka sering termenung an menangis," ujarnya.
Yuswardi
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|