|
Nasional
Indonesia Segera Pasang Alat Pemantau Tsunami Senilai US $ 13 juta
Senin, 03 Januari 2005 | 16:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia membutuhkan kucuran dana US $ 13 juta untuk memasang alat pemantau pergerakan patahan bumi. Alat yang disebut Global Positioning System (GPS) mampu memantau pergerakan patahan bumi sehingga gempa bumi berdampak gelombang tsunami bisa diantisipasi.
Menurut Direktur Utama PT. Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso, pihaknya akan memasang 150 GPS. Alat ini akan dipasang di 15 titik, terutama di sepanjang pantai barat Sumatera, antara lain Kepulauan Batu (3 unit), Siberut (3), Sipora (1), Kepulauan Pageis (1), Air Bangis (1) dan Muko-Muko (1), dan Kepulauan Rumbai di Riau (1). Sedangkan 2004, baru dipasang di Pulau Telo, Pulau Saibi, Sikuai, dan Bolasat. "Insya Allah, dimasa depan akan ada peringatan dini adanya gempa dan tsunami,"katanya di Jakarta, senin (3/1).
GPS adalah sistem deteksi global yang memungkinkan suatu alat dapat merekam proses pergerakan permukaan bumi, dan mengukur tinggi-rendahnya posisi suatu pulau dalam beberapa tahun ke depan.
Adiwoso menyatakan sejak tahun 2003 PSN sudah bekerjasama dengan California Institute of Technology Techtonic Observatory (Caltech) yang berbasis di USA dan LIPI dalam melakukan penelitian bidang geologi ini. Kerjasama itu dalam bentuk penggunaan satelit Garuda-1 untuk memonitoring layanan melalui GPS dalam memantau pergerakan wilayah Sumatera khususnya Kepulauan Mentawai. Cara kerjanya, yaitu sinyal dikirim melalui satelit ke server di Batam yang kemudian dikirim berupa posisi pergeseran pulau-pulau di Kepulauan Mentawai.
Namun, Adi mengakui sampai saat ini belum dapat mengatakan darimana sumber dana yang dibutuhkan. Peralatan pemantau patahan bumi ini tidak hanya dibutuhkan Indonesia tapi negara-negara tetangga. "Ini perlu kerjasama multinasional bukan soal politik,"ujarnya.
Secara terpisah, Head of Sumatera Subductive Zone Techtonich of Observatory California Institute (USA) Kerry Sieh mengatakan kurangnya peralatan GPS dan tenaga ahli yang meneliti perkembangan di Aceh mengakibatkan dampak bencana tersebut tidak dapat diantisipasi secara dini. Menurut penelitian Kerry, beberapa gugus pulau-pulau kecil di Pantai Barat Sumatera mengalami pendangkalan hingga dua meter selama 50 tahun. Sementara beberapa pulau menjorok ke perairan hingga 12 meter.
Ia menyebutkan contoh warga Pulau Seumeleu yang paling dekat dengan pusat gempa tampaknya telah mengantipasi bencana gempa dan tsunami. Warga pulau ini berbondong-bondong ke pegunungan ketika terjadi gempa dan air mulai pasang, sehingga mereka relatif selamat dari gempa dan tsunami.
Adiwoso menyatakan permintaan telepon satelit seperti BYRU dan PASTI terus meningkat. Bahkan pabrik operator telepon satelit ini terus memproduksi BYRU dan PASTI pada masa liburan natal dan tahun baru. Tercatat sejak 26 Desember 2004 sampai sekarang PSN telah mengirimkan 5 ribu telepon satelit ke seluruh Asia. "Baru PSN yang bisa membuka komunikasi di daerah bencana, dimana telepon seluler dan telkom membutuhkan waktu,"katanya.
Saat ini permintaan telepon satelit terus membanjir. PSN sedang menyiapkan 3 ribu telepon satelit. Besarnya permintaan tidak membuat PSN menaikkan harga telepon satelit. "Sekarang dijual dengan harga pabrik. Tidak ambil untung sepeser pun selama bencana,"kata Adiwoso. Harga satu telepon satelit berkisar Rp 5,6 juta.
Agriceli
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|