|
Nasional
Pemerintah Siapkan Tiga Tahap Pemulihan Aceh
Kamis, 30 Desember 2004 | 20:26 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah telah menyusun tiga tahap pemulihan kondisi daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pasca bencana gempa bumi dan badai tsunami. Pemulihan daerah tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lima tahun.
"Kami tadi telah melaksanakan sidang kabinet paripurna dengan agenda tunggal, yaitu penyusunan langkah-langkah lanjutan penanggulangan bencana di Aceh dan Sumatera Utara," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers seusai rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (30/12).
Saat memberikan penjelasannya, Presiden didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo A.S., Menko Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie, Menko Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab, dan sejumlah menteri lainnya termasuk Panglima TNI Jendral Endriartono Sutarto, dan Kapolri Jendral Da?i Bachtiar. "Ini adalah konferensi pers yang paling lengkap sejak Kabinet Indonesia Bersatu," kata Presiden.
Menurut dia, memasuki hari keempat pasca bencana tersebut, pemerintah telah menetapkan langkah-langkah penanganan dan pemulihan kondisi Aceh dan Sumut. Langkah-langkah dan tahapan itu disusun secra sistemik dan dikelola dengan baik sesuai dengan target waktu penyelesaiannya. Penyusunannya berdasarkan hasil kajian Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi.
Presiden menyatakan ada tiga tahap proses pemulihan Aceh. Pertama, adalah tahap kedaruratan (emergency) yang memakan waktu selama satu tahun (Desember 2004 - Desember 2005). Tahap ini meliputi pengadaan makanan, pakaian, pelayanan kesehatan, tempat tinggal sementara, air bersih, listrik, transportasi, telekomunikasi, bahan bakar, dan tenaga sosial.
Bersamaan dengan itu, pemerintah juga menggelar tahap kedua, yaitu rehabilitasi Aceh selama satu tahun lebih. Tahap ini meliputi rehabilitasi pelayanan publik, infrastruktur publik, serta rumah tinggal. Selain itu juga merehabilitasi sentra-sentra ekonomi dan pasar.
Sedangkan tahap ketiga adalah program rekonstruksi, yaitu membangun kembali infrastruktur, pelayanan publik, dan rumah-rumah masyarakat. Tahap ini dimulai pada pertengahan tahun depan hingga 2009. "Jadi dipastikan tidak hanya melakukan aksi kedaruratan, tapi juga sampai normal dan pulihnya kehidupan masyarakat di sana," kata Presiden.
Untuk merealisasikan semua tahapan tersebut, kata dia, pemerintah perlu memobilisasi seluruh potensi yang ada. "Terima kasih kepada masyarakat yang memberikan bantuannya dan juga kepada bantuan luar negeri yang terus mengalir saat ini," kata dia. Selain itu, pemerintah juga akan membahas alokasi anggaran bagi Aceh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2005 bersama DPR.
Presiden memperkirakan kebutuhan dana untuk tahap pertama sebesar Rp 1,5 triliun. Dia merinci, untuk makanan Rp 900 miliar, pakaian Rp 50 miliar, pelayanan kesehatan Rp 150 miliar, tenda Rp 150 miliar, dan air serta listrik Rp 100 miliar. "Itu dengan estimasi jumlah korban 30-40 ribu, pengungsi 500 ribu, dan rumah sebanyak 100 ribu unit," kata dia.
Tapi pemerintah saat ini belum bisa mengkalkulasi berapa kebutuhan dana bagi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. "Masih akan dibicarakan dengan DPR," kata dia. Menurut dia, yang menjadi prioritas pemerintah saat ini adalah tanggap darurat meski tetap memulai tahapan rehabilitasi. Sedangkan sehari sebelumnya, Wakil Presiden memperkirakan kebutuhan dana hingga rekonstruksi Aceh mencapai Rp 10 triliun.
Sementara itu, Presiden mengakui adanya penumpukan logistik dan bahan bantuan di Medan dan Banda Aceh pada dua hari lalu, akibat keterbatasan landasan bandar udara. Tapi saat ini situasinya sudah berubah, dengan memobilisasi angkutan darat. "Kita memobilisasi truk-truk dari Sumatera Utara, sebanyak 40-50 truk," kata dia. Diharapkan dalam waktu cepat bisa memobiliasi 100 truk sehingga lebih banyak lagi bantuan yang terangkut.
Yudhoyono juga menyatakan, dia akan kembali mengunjungi Aceh dalam waktu dekat. Tujuannya melihat kondisi kota Meulaboh. Rencananya, Presiden akan ke kota itu bertepatan dengan hari pertama 2005. Sedangkan wakil Presiden menurut jadual akan ke Banda Aceh pada Jum?at ini.
Yura Syahrul / Sapto Pradityo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Menteri Negera Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Susilo Bambang Yudhoyono bersalaman dengan koordianator Tim Advokasi Peduli Beban Rakyat, Hotman Paris Hutapea yang akan menyampaikan ketidaksetujuan Tim Advokasi Peduli Beban Rakyat atas kerja sama pemerintah dengan IMF yang terlalu banyak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia sehubungan dengan somasi yang telah dilayangkan kepada IMF di kantor Menko Polkam, Jakarta, 30 Januari 2003. [TEMPO/ Purwanta BS; K12A/077/2003; 20030219].](/hg/photostock/2004/12/22/s_K12A07704_high_thumb.jpg) |
![Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid alias Cak Nur (kanan) didampingi calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY (kiri), dalam konferensi pers seusai melakukan pertemuan empat mata di kediaman Cak Nur di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, 6 Mei 2004. [TEMPO/Usman Iskandar; K21A/204/2004; 20040507].](/hg/photostock/2004/12/17/s_K21A20602_high_thumb.jpg) |
| Susilo Bambang Yudhoyono dan Hotman Paris Hutapea
|
|
| Nurcholish Madjid dan Susilo Bambang Yudhoyono
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|